100 Hari Menuju Piala Dunia 2026: Geopolitik dan Kekerasan Warnai Persiapan
Isu Nasional - JAKARTA – Hitung mundur 100 hari menuju Piala Dunia 2026 justru diwarnai dinamika geopolitik dan persoalan domestik di negara tuan rumah. Turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim peserta itu kini menghadapi ujian di luar lapangan. Piala Dunia 2026 akan dibuka pada 11 Juni dengan laga Meksiko melawan Afrika Selatan di Mexico City. Ajang ini menjadi edisi pertama dengan 48 tim, naik dari 32 peserta pada turnamen sebelumnya di Qatar 2022. Namun, atmosfer euforia belum sepenuhnya terasa karena sejumlah isu krusial mencuat menjelang pelaksanaan. Geopolitik Kembali Membayangi Piala Dunia Sejarah menunjukkan Piala Dunia kerap dibayangi isu politik. Pada 2022, Qatar mendapat sorotan atas isu pekerja migran dan hak LGBTQ+. Rusia 2018 diwarnai ketegangan geopolitik dan sanksi internasional. Brasil 2014 dan Afrika Selatan 2010 pun tak lepas dari kekhawatiran soal keamanan. Kini, konteksnya berbeda. Amerika Serikat—salah satu tuan rumah utama—terlibat konflik militer dengan Iran, salah satu tim yang telah lolos ke putaran final. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai partisipasi Iran dan stabilitas penyelenggaraan. Selain itu, sejumlah negara peserta terdampak kebijakan tarif perdagangan dan pembatasan perjalanan. Bahkan Denmark—yang masih berjuang lolos melalui playoff—sempat terseret polemik pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Greenland. Dengan kata lain, Piala Dunia 2026 berlangsung dalam lanskap politik global yang belum sepenuhnya stabil. Status Iran dalam Ketidakpastian Iran dijadwalkan memainkan dua laga fase grup di Inglewood, California, dan satu pertandingan di Seattle. Namun, kehadiran tim tersebut belum sepenuhnya pasti. Ketua federasi sepak bola Iran, Mehdi Taj, menyatakan bahwa setelah serangan militer yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi negaranya, sulit bagi publik Iran memandang Piala Dunia dengan optimisme. Meski demikian, hingga kini Iran belum menyatakan mundur. Dalam 75 tahun sejarah Piala Dunia, belum pernah ada tim yang mengundurkan diri setelah lolos kualifikasi. Iran tergabung di grup bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Kejelasan status ini akan sangat menentukan komposisi kompetisi dan aspek teknis turnamen. Kekerasan Kartel di Meksiko Meksiko, yang akan menggelar sejumlah laga termasuk di Guadalajara, turut berada dalam sorotan setelah lonjakan kekerasan di negara bagian Jalisco menyusul tewasnya seorang bos kartel oleh militer. Pemerintah Meksiko menegaskan Piala Dunia tidak akan terdampak. Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan tidak ada risiko bagi suporter. Presiden FIFA Gianni Infantino pun menyampaikan kepercayaan penuh terhadap kesiapan Meksiko sebagai tuan rumah. Piala Dunia 2026 dirancang sebagai edisi paling inklusif dan terbesar dalam sejarah. Namun, 100 hari menjelang pembukaan, agenda sepak bola global itu menghadapi realitas bahwa stabilitas politik, keamanan, dan tata kelola menjadi faktor krusial yang sama pentingnya dengan kesiapan stadion. (*)




