Aliansi Gelap dan Ritual Kontroversial di Episode 2 Walid
Isu Nasional - JURNAL GAYA - Setelah pelarian mencekam di episode perdana, serial Walid yang tayang di VIU sejak 26 Februari 2026 ini semakin berani menguliti sisi gelap fanatisme.
Episode 2 serial Walid membawa penonton masuk lebih dalam ke jantung sekte, di mana garis antara pengabdian kepada Tuhan dan pemujaan terhadap manusia menjadi sangat kabur. Inilah babak dimulainya aliansi besar yang mengancam akidah dan logika.
Episode kedua dari serial Walid ini dibuka dengan sebuah seremoni pemujaan yang khidmat.
Dalam peringatan 100 tahun kembalinya sosok yang mereka sebut wali, Kiai Tholahah Abdul Rahman, muncullah Habiburrahman—pria misterius berpakaian serba hitam yang memegang kendali atas massa.
Di sinilah "panggung" bagi Walid kembali ditegakkan, dielu-elukan sebagai utusan suci yang membawa kebenaran hakiki.
Ritual Air Cucian Kaki dan Doktrin Keselamatan Palsu
Pemandangan di episode ini benar-benar menguji nurani penonton. Dalam sebuah ritual yang dianggap sebagai bentuk "berkat", para jemaah dengan sukarela mencuci kaki Habiburrahman.
Tak berhenti di situ, air bekas cucian kaki tersebut diminum dan dibasuhkan ke wajah mereka sebagai simbol pembersihan diri.
Habiburrahman bahkan mengusapkan telapak kakinya ke atas kepala jemaah, sebuah gestur yang diklaim sebagai penyaluran rahmat Allah, tetapi justru memperlihatkan betapa rendahnya martabat manusia di bawah kaki sang pemangsa agama.
Di tengah suasana penuh kultus tersebut, Habiburrahman melontarkan tawaran yang mengerikan kepada Walid: sebuah kolaborasi untuk membangun "Kerajaan Langit" yang tak terkalahkan.
Sementara itu, sosok Raras Kartika (diperankan oleh Olla Ramlan) tampak setia mendampingi di balik layar, mencoba tetap berpikiran positif meski tanda-tanda penyimpangan moral sang pemimpin mulai terendus saat Habiburrahman memilih masuk ke dalam kamar bersama wanita lain selepas ceramah.
Perlawanan Ummi Hafizah di Tengah Fitnah Akhir Zaman
Kontras dengan kemewahan ritual Walid, Ummi Hafizah justru harus menelan pil pahit di Pondok Jihad al-Ummah. Upayanya untuk memperbaiki akidah jemaah justru berbuah pemberontakan.
Para santri menolak hadir di kelasnya, menganggap Ummi Hafizah tidak memiliki "ilmu" sehebat Walid.
Bahkan, ia dicap sebagai pengkhianat gila kekuasaan karena dianggap sebagai orang yang melaporkan Walid ke polisi pada musim pertama Bidaah.
Meski dihimpit fitnah, Ummi Hafizah tetap teguh berdiri. Ia menyampaikan pesan yang sangat tajam: bahwa jalan Allah tidak memerlukan rahasia dan tidak butuh perantara manusia yang dimuliakan secara berlebihan.
Namun, ancaman belum berakhir. Kehadiran Syukor yang misterius di pondoknya kian menambah beban kecurigaan.
Di sisi lain, Walid mulai geram mengetahui istrinya berusaha membongkar isi "kitab" miliknya.
Tanpa disadari, di tengah tekanan hebat itu, Ummi Hafizah mulai mendapatkan mimpi-mimpi yang membuatnya merasa memiliki misi suci layaknya Khadijah, istri Rasulullah SAW.
Apakah aliansi Kerajaan Langit akan berhasil terbentuk?




