Dampak Darurat Pupuk AS Terhadap Sektor Pertanian Indonesia
Sumber Foto: Diskursus Network
Internasional

Dampak Darurat Pupuk AS Terhadap Sektor Pertanian Indonesia

Isu Nasional - Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat menetapkan status darurat pasokan pupuk setelah konflik AS-Iran mengganggu rantai pasok pupuk global.

Presiden Donald Trump bahkan menangguhkan sementara bea masuk pupuk fosfat dari Maroko selama delapan bulan guna menjaga pasokan bagi petani Amerika.

Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap sektor pertanian dunia.

Pasalnya, penutupan Selat Hormuz telah menghambat distribusi pupuk dan mendorong lonjakan harga urea global hingga sekitar 80 persen sejak Februari 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian di berbagai negara, termasuk Indonesia.

AS Tetapkan Status Darurat Pupuk

Presiden Donald Trump menetapkan, status darurat melalui Proclamation on the Declaration of Emergency and Authorization for Temporary Duty-Free Importation of Phosphate Fertilizer from Morocco yang diterbitkan oleh Gedung Putih, pada Senin (29/06/2026).

Dalam dokumen tersebut, Trump menyatakan, pasokan pupuk fosfat menjadi komponen penting bagi produksi pangan Amerika Serikat sehingga diperlukan langkah darurat untuk menjamin ketersediaannya.

“Petani Amerika harus memiliki akses yang andal terhadap pupuk penting untuk mengurangi risiko terhadap produksi pangan, menjaga keamanan nasional, dan memastikan pasokan pangan domestik tetap stabil,” demikian pernyataan Presiden Donald Trump dalam Fact Sheet Gedung Putih, Washington DC, pada Senin (29/06/2026).

Gedung Putih juga menjelaskan, konflik di kawasan produsen pupuk serta gangguan rantai pasok global membuat produksi pupuk domestik Amerika belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Karena itu, pemerintah membuka kembali, impor pupuk fosfat dari Maroko tanpa bea masuk selama delapan bulan sebagai langkah darurat.

Harga Pupuk Dunia Melonjak

Gangguan distribusi pupuk bermula setelah penutupan Selat Hormuz menghambat sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia.

Selain menjadi jalur utama ekspor pupuk dari kawasan Teluk, wilayah tersebut juga merupakan pemasok gas alam yang menjadi bahan baku utama produksi urea dan amonia.

Analis pasar pupuk StoneX, Josh Linville mengatakan, kondisi tersebut hampir mencapai skenario terburuk bagi industri pupuk global.

“Situasi ini nyaris mencapai skenario terburuk,” ujar Josh Linville kepada Deutsche Welle (DW) dalam wawancara, pada Rabu (24/06/2026).

Linville menjelaskan, Qatar sempat menghentikan produksi urea dan amonia setelah fasilitas energinya rusak, sementara Iran juga menghentikan produksi amonia. Di sisi lain, India mengurangi produksi karena pasokan gas alam menurun.

CEO Fertiglobe, Ahmed El-Hoshy mengingatkan, krisis pupuk dapat berdampak langsung terhadap ketahanan pangan dunia.

“Hampir separuh kebutuhan kalori delapan miliar penduduk dunia bergantung pada penggunaan pupuk,” kata Ahmed El-Hoshy kepada The Wall Street Journal, pada Jumat (12/06/2026).

Menurutnya, ketika harga pupuk meningkat dan pasokan berkurang, petani cenderung mengurangi penggunaan pupuk sehingga produktivitas pangan ikut menurun.

Indonesia Berpotensi Merasakan Dampaknya

Indonesia memang tidak mengalami kelangkaan pupuk seperti Amerika Serikat. Pemerintah bahkan masih mempertahankan harga pupuk subsidi dan melanjutkan ekspor pupuk.

Namun, tekanan pasar global tetap berpotensi dirasakan melalui kenaikan biaya produksi pertanian.

Kenaikan harga urea dunia, biaya energi, hingga ongkos distribusi dapat meningkatkan biaya tanam berbagai komoditas pangan. Harga kedelai impor, misalnya, telah mengalami kenaikan sehingga berdampak pada industri tahu dan tempe.

Mantan Kepala Ekonom Departemen Pertanian Amerika Serikat, Joseph Glauber menilai, negara-negara Asia Tenggara memiliki ruang yang lebih sempit untuk beradaptasi dibanding Amerika Serikat.

“Produsen padi di Asia Tenggara hampir tidak memiliki pilihan tanaman lain yang mampu bertahan pada curah hujan tinggi selama musim monsun,” ujar Joseph Glauber kepada Deutsche Welle (DW), pada Selasa (16/06/2026).

Artinya, jika tekanan terhadap pasar pupuk global berlangsung lebih lama, negara-negara yang bergantung pada komoditas tertentu, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi kenaikan biaya produksi pangan meski tidak mengalami krisis pupuk secara langsung. (DN-Indriana Susandi/ Intern)