Evaluasi Peran ALCO Dalam Stabilitas Keuangan: Pelajaran dari Kejatuhan SVB
Sumber Foto: Kompasiana.com
Ekonomi

Evaluasi Peran ALCO Dalam Stabilitas Keuangan: Pelajaran dari Kejatuhan SVB

Isu Nasional - BELAJAR DARI SVB: Seberapa Efektif Peran ALCO dalam Menjaga Stabilitas Keuangan?

Silicon Valley Bank adalah bank komersial asal Amerika Serikat (AS), tepatnya berkantor pusat di Santa Clara, California, yang melayani industri teknologi dan startup, terutama di wilayah Silicon Valley, California. Bank ini termasuk bank besar — berada di peringkat ke-16 terbesar di AS berdasarkan total aset sebelum collapse-nya pada 10 Maret 2023 ketika regulator negara bagian (California Department of Financial Protection and Innovation) menyatakan bank gagal karena likuiditas tidak mencukupi dan insolvabilitas. SVB’s Collapse menegaskan pentingnya pengelolaan risiko suku bunga dan likuiditas. Fungsi Assets-Liability Management (ALM), termasuk melalui Assets-Liability Committee (ALCo), memang difokuskan untuk hal tersebut; Tujuan utama fungsi ALM adalah mengelola risiko suku bunga dan risiko likuiditas. ALCo sejatinya berperan sebagai badan pengawas utama strategi pendanaan dan struktur aset-liabilitas bank. Namun, dalam kasus SVB terjadi pergeseran pasar yang cepat dan tekanan likuiditas besar. Pengumuman SVB tentang rugi realisasi surat utang senilai $1,8 miliar pada Maret 2023 memicu kepanikan deposan, sehingga fungsi pengawasan ALCo yang efektif semakin dipertanyakan. Artikel ini akan menganalisis apakah ALCo SVB sudah menjalankan perannya secara kritis dan konstruktif dalam mencegah risiko tersebut.

SVB, bank fokus teknologi dan Venture Capital (VC), menumpuk aset dalam obligasi AS jangka panjang (Agency mortgage-backed securities/MBS).

Per Desember 2022 tercatat ada $26,1 miliar sekuritas available-for-sale (AFS) dan $91,3 miliar dimiliki hingga jatuh tempo/held-to-maturity (HTM), sebagian besar US Treasuries berdurasi panjang. Saat Federal Reserve menaikkan suku bunga selama 2021–2022, nilai portofolio surat utang itu anjlok. SVB akhirnya menjual sebagian AFS dengan rugi tersadap $1,8 miliar, menimbulkan keresahan besar. Dalam 24 jam berikutnya, deposan menarik dana mencapai US$42 miliar. Demikianlah SVB kehabisan likuiditas sehingga Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) turun tangan. Semua ini bermula dari paparan risiko suku bunga dan likuiditas yang tinggi, yang sejatinya harus dipantau ketat oleh ALCo.

Pengelolaan risiko suku bunga adalah salah satu fokus utama ALCo. Mengelola risiko suku bunga adalah krusial bagi kelangsungan finansial bank. ALCo seharusnya meninjau kecocokan durasi aset-liabilitas dan strategi lindung nilai secara mendalam. Namun, ALCo SVB hanya menggunakan pengukuran risiko suku bunga yang sangat sederhana: hanya perubahan paralel pada kurva imbal hasil yang dimodelkan, sedangkan perubahan non-paralel tidak dilaporkan kepada ALCo. Akibatnya, ALCo tidak mendapatkan analisis komprehensif tentang sensitivitas portofolio obligasi terhadap perubahan bentuk kurva suku bunga. Padahal, misalignment ini menimbulkan peningkatan risiko Economic Value yang terlewat. Kehancuran SVB dapat dikaitkan pada risiko suku bunga dan menunjukkan ada kegagalan besar dalam ALM. Singkatnya, pengawasan ALCo yang dangkal atas risiko suku bunga berkontribusi pada lemahnya mitigasi dampak kenaikan suku bunga di SVB.

Di sisi lain, ALCo juga harus memastikan kecukupan likuiditas bank. ALCo bertugas memastikan bank memiliki likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajiban dan menyiapkan rencana kontinjensi. Dalam praktiknya, SVB gagal dalam hal ini. Federal Reserve mencatat bahwa sejak 2021 SVB menghadapi penurunan likuiditas tetapi kelemahan dalam contingency funding plan (CFP) tidak diselesaikan sampai bank gagal. Dengan kegagalan menerapkan strategi darurat, bank tidak siap ketika terjadi pencabutan dana besar-besaran. Kondisi ini menunjukkan ALCo SVB tidak cukup agresif menguji berbagai skenario tekanan likuiditas ataupun memperkuat buffer likuiditas. Akibatnya, penurunan rapid likuiditas melonjak tanpa mitigasi, sehingga ALCo gagal mencegah krisis likuiditas yang menimpa SVB.

Keruntuhan SVB juga menyoroti kelemahan tata kelola ALC9. Bill Coen (mantan Sekjen Basel Committee) menekankan bahwa proses pengawasan regulator sekarang memfokuskan pada kualitas pengelolaan risiko likuiditas dan kinerja ALCo. Namun di SVB, fungsi pengawasan internal lemah: unit manajemen risiko finansial berkolaborasi dengan bisnis alih-alih menantangnya secara independen.

Lebih parah, tidak ada bukti bahwa manajemen sepenuhnya memberi tahu dewan bahwa rasio Economic value of equity (EVE) sering melampaui batas toleransi. Dengan informasi yang disembunyikan dari pengambil kebijakan tertinggi, ALCo dan dewan tidak diberi kesempatan memperbaiki kesenjangan risiko. Ini mengindikasikan buruknya komunikasi antara ALCo, manajemen, dan dewan, serta kurangnya mekanisme eskalasi isu-isu kritis dalam struktur pengawasan SVB.

Berdasarkan tinjauan tersebut, perlu langkah-langkah perbaikan menyeluruh pada fungsi ALCo. Bank-bank sebaiknya mengevaluasi ulang operasional ALCo–mulai dari komposisi anggota hingga frekuensi dan agenda rapat–sebagaimana disarankan para analis industri. ALCo harus dilengkapi data lengkap dan model risiko yang memadai (misalnya memasukkan skenario non-paralel pada simulasi suku bunga). Proses stress test likuiditas perlu dijalankan lebih kerap (misalnya bulanan) agar penilaian buffer likuiditas lebih valid. Selain itu, komite ALCo idealnya melapor langsung ke Dewan Komisaris agar peringatan risiko disikapi serius. Di masa normal, ALCo dapat rapat rutin bulanan, tetapi dalam krisis keuangan kegiatan pengawasan harus berlangsung lebih intensif bahkan harian. Kultur risiko yang kuat dan kepatuhan pada pedoman regulator juga harus ditegakkan, sehingga ALCo dapat berfungsi sebagai benteng pertahanan efektif bank.

Kasus SVB menegaskan bahwa efektivitas ALCo sangat menentukan ketahanan bank terhadap guncangan pasar. Kelemahan ALCo SVB–dari pengukuran risiko suku bunga yang dangkal hingga rencana likuiditas darurat yang tidak memadai–menghasilkan konsekuensi fatal. Oleh karena itu, bank dan regulator perlu belajar dari kegagalan ini. Regulator mengingatkan bahwa penting mencari keyakinan mengenai mekanisme ALCo di setiap institusi dan memastikan praktik likuiditas bank mampu beradaptasi dengan pasar yang bergejolak. Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia, di mana perbankan dan lembaga keuangan juga beroperasi dalam suku bunga yang volatil dan struktur pendanaan yang semakin dinamis. Dengan memperkuat peran ALCO sebagai pengambil keputusan strategis, bukan administratif, sistem keuangan Indonesia dapat lebih siap mencegah akumulasi risiko tersembunyi sebelum berkembang menjadi krisis yang sistemik.