Tokenisasi Aset: Solusi Baru untuk Likuiditas Pembayaran Internasional
Isu Nasional - JAKARTA – Industri pembayaran lintas negara (cross-border payment) memasuki babak baru. Setelah berhasil memangkas waktu penyelesaian transaksi antarbank
Seperti dikutip dari Business Times pada hari Jumat (3/7), kini perhatian pelaku industri beralih pada persoalan yang dinilai lebih krusial, yakni ketersediaan likuiditas.
Dalam sebuah diskusi di Singapura, sejumlah eksekutif dari SWIFT, DBS Bank, dan Standard Chartered menilai bahwa tokenisasi aset berpotensi menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi pembayaran lintas negara, terutama ketika sistem keuangan global bergerak menuju transaksi yang dapat diselesaikan selama 24 jam sehari.
Selama beberapa tahun terakhir, investasi besar pada infrastruktur pembayaran berhasil mempercepat proses penyelesaian transaksi.
Saat ini, sekitar 75% transaksi lintas negara yang diproses melalui jaringan SWIFT telah mencapai institusi keuangan penerima dalam waktu kurang dari 10 menit.
Angka tersebut bahkan melampaui target G20 yang menargetkan sebagian besar transaksi lintas negara selesai dalam waktu maksimal satu jam.
Namun, kecepatan tersebut baru mencerminkan perpindahan dana antarbank. Setelah dana keluar dari jaringan SWIFT, proses masih harus melewati sistem domestik di negara tujuan sebelum benar-benar masuk ke rekening penerima.
Tahapan yang dikenal sebagai "last mile" ini masih menjadi sumber keterlambatan pembayaran. Berbagai faktor seperti regulasi lokal, proses konversi valuta asing, kebijakan pasar, hingga sistem kliring domestik membuat pencairan dana kepada penerima sering kali membutuhkan waktu lebih lama.
Selain persoalan tersebut, bank juga menghadapi tantangan lain, yaitu memastikan likuiditas selalu tersedia untuk mendukung transaksi yang berlangsung sepanjang waktu.
Menurut para pelaku industri, tokenisasi dapat menjadi jawaban atas persoalan tersebut. Dengan memanfaatkan uang tunai atau aset jaminan (collateral) dalam bentuk token digital, bank tidak lagi harus menyimpan dana menganggur di berbagai negara hanya untuk memenuhi kebutuhan transaksi.
Sebaliknya, likuiditas dapat dipindahkan secara digital saat dibutuhkan sehingga penggunaan modal menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan kelancaran pembayaran.
Para panelis menegaskan bahwa tokenisasi bukan bertujuan menggantikan sistem pembayaran yang sudah ada, melainkan melengkapinya. Pendekatan ini dinilai lebih realistis, terutama bagi negara yang infrastruktur pembayaran domestiknya masih berkembang.
Untuk mendukung transformasi tersebut, SWIFT tengah mengembangkan shared ledger berbasis blockchain yang memungkinkan bank memindahkan deposito yang telah ditokenisasi, serta berbagai aset digital yang telah diatur regulator, melalui jaringan SWIFT.
Infrastruktur baru tersebut akan menghubungkan sistem pembayaran perbankan konvensional dengan ekosistem aset digital tanpa harus mengganti jaringan yang selama ini digunakan oleh industri keuangan global.
Di sisi lain, interoperabilitas juga menjadi perhatian utama. Para eksekutif mengingatkan bahwa semakin banyak jaringan blockchain yang berdiri sendiri justru berpotensi menciptakan hambatan baru apabila tidak dapat saling terhubung.
Mereka juga menilai bahwa masa depan pembayaran lintas negara tidak hanya ditentukan oleh kecepatan transaksi. Bagi pelaku usaha, terutama dalam transaksi bernilai besar, kepastian dan keamanan masih menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding pembayaran yang berlangsung secara instan.
Selain tokenisasi, perkembangan kecerdasan buatan (AI) juga mulai memberikan kontribusi terhadap industri pembayaran global.
Teknologi tersebut telah dimanfaatkan untuk meningkatkan deteksi penipuan, penyaringan transaksi yang berkaitan dengan sanksi internasional, optimalisasi rute pembayaran, hingga meningkatkan efisiensi operasional bank.
Secara keseluruhan, pelaku industri sepakat bahwa transformasi pembayaran lintas negara akan berlangsung secara bertahap.
Tokenisasi diproyeksikan akan terintegrasi dengan sistem pembayaran yang sudah ada, bukan menggantikannya. Dengan dukungan jaringan global seperti SWIFT, integrasi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pembayaran lintas negara yang lebih efisien, aman, dan memiliki likuiditas yang lebih baik. (BS)




