39 Negara Rentan Hadapi Stagnasi Ekonomi Akibat Konflik Berkepanjangan
WASHINGTON, KOMPAS.TV – Sebanyak 39 negara yang masuk kategori negara rapuh dan terdampak konflik kian tertinggal dalam pembangunan ekonomi sejak pandemi Covid-19. Hal itu terungkap dalam laporan terbaru Bank Dunia yang dirilis pada pekan ini.
Laporan bertajuk Fragility and Conflict – A New Development Challenge itu menunjukkan bahwa konflik yang semakin sering dan mematikan menjadi penyebab utama stagnasi, bahkan kemunduran ekonomi di negara-negara tersebut.
“Stagnasi ekonomi—bukan pertumbuhan—telah menjadi kondisi umum di negara-negara yang dilanda konflik dan ketidakstabilan,” ujar Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, dalam laporan resmi dikutip dari Associated Press, Jumat (27/6/2025).
Kemiskinan Ekstrem dan Pendidikan Rendah
Sejak 2020, pertumbuhan output ekonomi per kapita di 39 negara tersebut tercatat menurun rata-rata 1,8 persen per tahun. Sebaliknya, negara-negara berkembang lain justru mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,9 persen per tahun.
Lebih dari 420 juta jiwa di negara-negara rapuh itu hidup dalam garis kemiskinan ekstrem, dengan pengeluaran kurang dari 3 dolar AS per hari.
Angka ini melebihi gabungan populasi miskin di seluruh dunia, meskipun jumlah penduduk di 39 negara itu hanya 15 persen dari total populasi global.
Kondisi sosial juga memprihatinkan. Rata-rata lama sekolah hanya enam tahun, atau tiga tahun lebih pendek dari negara berkembang lainnya. Harapan hidup pun lima tahun lebih pendek, sementara angka kematian bayi dua kali lebih tinggi.
Ledakan Konflik Global
Kondisi ini diperburuk oleh meningkatnya konflik global. Bank Dunia mencatat, rata-rata jumlah konflik bersenjata per tahun naik drastis dari sekitar 6.000 kasus pada awal 2000-an menjadi lebih dari 20.000 dalam beberapa tahun terakhir.
Tak hanya lebih sering, konflik juga lebih mematikan. Jumlah korban jiwa tahunan melonjak dari rata-rata 42.000 menjadi hampir 194.000 per tahun.
Dari 39 negara dalam laporan Bank Dunia, 21 di antaranya tengah mengalami konflik aktif. Negara-negara seperti Ukraina, Sudan, Ethiopia, dan wilayah Gaza disebut berada dalam kondisi konflik intensitas tinggi, yang menyebabkan lebih dari 150 kematian per satu juta penduduk.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi terganggu parah. Dalam lima tahun, negara-negara tersebut mencatat penurunan akumulatif produk domestik bruto (PDB) hingga 20 persen.
Konflik yang berkepanjangan juga berdampak besar pada ketahanan pangan. Diperkirakan sekitar 200 juta orang atau 18 persen populasi di negara-negara tersebut mengalami kelaparan akut.
Angka itu sangat kontras dengan negara berkembang lain yang hanya mencatatkan 1 persen penduduk dalam kondisi serupa.
Harapan dari Negeri yang Bangkit
Meski situasi terlihat suram, beberapa negara berhasil bangkit dari ketertinggalan. Nepal, Bosnia dan Herzegovina, Rwanda, serta Sri Lanka disebut sebagai contoh negara-negara yang relatif sukses keluar dari siklus konflik dan kerapuhan ekonomi.
Bank Dunia juga menyoroti potensi yang dimiliki negara-negara rapuh ini, mulai dari sumber daya alam seperti minyak dan gas, hingga bonus demografi dengan banyaknya penduduk usia produktif.
“Beberapa dari mereka sangat kaya akan potensi pariwisata,” kata Kose.
“Namun, keamanan adalah syarat utama. Kita tidak akan mau mengunjungi tempat-tempat indah jika tidak aman," ujarnya.




