Apindo: Eskalasi Konflik Israel-Iran Berisiko Ganggu Rantai Pasok dan Tekan Industri RI
Sumber Foto: Kompas.id
Internasional

Apindo: Eskalasi Konflik Israel-Iran Berisiko Ganggu Rantai Pasok dan Tekan Industri RI

Dunia usaha telah lama berada dalam kondisi tertekan dan kesulitan mempertahankan kapasitas produksi.

Oleh Caecilia Mediana

13 Jun 2025 19:14 WIB · Ekonomi & Bisnis

JAKARTA, KOMPAS — Asosiasi Pengusaha Indonesia menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Iran pada Jumat (13/6/2025) berpotensi menimbulkan gangguan global, seperti disrupsi rantai pasok, fluktuasi harga minyak, lonjakan inflasi impor, dan tekanan terhadap arus investasi asing. Dampak tersebut bersifat lintas sektor industri di Indonesia dan dapat memperburuk kondisi perusahaan yang sudah rapuh, terutama di sektor padat karya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menyampaikan hal itu pada Jumat di Jakarta. Menurut dia, serangan Israel ke Iran mengganggu aktivitas ekonomi global secara menyeluruh, antara lain memicu gangguan kelancaran logistik dan kenaikan biaya perdagangan internasional—khususnya menuju wilayah Eropa dan Afrika—serta menyebabkan fluktuasi pasokan dan harga minyak mentah, inflasi barang impor, dan pelemahan minat investasi asing ke Indonesia.

”Ketidakpastian global semakin meningkat akibat eskalasi konflik antara Israel dan Iran,” ujar Shinta.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 7 persen pada perdagangan Jumat, setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran yang memicu pembalasan Iran.

Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7,4 persen atau 5,1 dollar AS menjadi 74,46 dollar AS per barel pada pukul 08.43 GMT, setelah sempat mencapai level harga tertinggi pada perdagangan harian di 78,50 dollar AS.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 5,1 dollar AS atau 7,5 persen menjadi 73,15 dollar AS per barel, setelah sempat mencapai level harga tertinggi pada perdagangan harian hari ini, yaitu 77,62 dollar AS.

Kenaikan hari Jumat adalah pergerakan perdagangan harian terbesar sejak 2022 atau setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Fasilitas nuklir Iran di Natanz rusak. Organisasi energi atom negara itu mengatakan dalam sebuah pernyataan. Akan tetapi, penyelidikan belum menunjukkan adanya kontaminasi radioaktif atau kimia di luar lokasi tersebut.

Kekhawatiran utama adalah seputar apakah perkembangan konflik terbaru akan memengaruhi Selat Hormuz. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut, atau sekitar 18 hingga 19 juta barel per hari minyak, kondensat, dan bahan bakar.

Dalam skenario terburuk, analis JPMorgan mengatakan bahwa penutupan selat atau respons balasan dari negara-negara penghasil minyak utama di kawasan itu dapat menyebabkan harga melonjak ke kisaran 120-130 dollar AS per barel. Harga tersebut hampir dua kali lipat dari perkiraan dasar mereka saat ini.

Tidak sehat

Jika memakai kerangka pemahaman seperti itu, Shinta menyampaikan, dampak ekonomi yang bisa terjadi kepada pelaku usaha di Indonesia cenderung lebih lintas sektor industri. Dengan kata lain, dampak negatif akan dirasakan oleh hampir semua sektor industri.

Dunia usaha sudah lama berada dalam kondisi tidak sehat. Mereka mengalami kesulitan untuk mempertahankan produksi. Risiko konflik Israel-Iran akan menjadi jauh lebih berat.

”Sektor industri paling rentan ialah sektor padat karya. Sudah lama juga mereka berjuang untuk mempertahankan eksistensi usaha,” ujar Shinta.

Masyarakat secara umum, menurut dia, juga berisiko terdampak karena tingkat inflasi atas impor kebutuhan pokok tidak bisa dikendalikan. Apindo berharap, Pemerintah Indonesia bisa mengendalikan efek limpahan dari konflik itu terhadap perekonomian Indonesia.

Dalam kesempatan terpisah, Head of Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman berpendapat, serangan Israel terhadap Iran yang terjadi dini hari tadi merupakan lonceng eskalasi baru di kawasan Timur Tengah. Situasi ini menandai pergeseran dari konflik sporadis menjadi konfrontasi strategis.

Berbeda dari insiden-insiden sebelumnya yang bersifat taktis dan terbatas, serangan kali ini secara langsung menyasar jantung kepentingan Iran, seperti infrastruktur nuklir dan figur militer senior. Dengan kata lain, ini adalah strategi provokasi yang berpotensi memancing respons balasan berskala besar dari Iran.

”Tidak mengherankan jika pasar langsung bereaksi. Harga minyak melonjak hanya dalam hitungan jam. Volatilitas tinggi diprediksi masih akan menjadi warna utama pasar komoditas energi dalam beberapa pekan ke depan dan tergantung respons AS, Rusia, serta China,” ujarnya.

Dari perspektif perekonomian Indonesia, lonjakan harga minyak ini membawa konsekuensi ganda yang bersifat paradoks. Di satu sisi, sebagai negara eksportir komoditas energi nonmigas, terutama batu bara, gas alam, dan minyak sawit, Indonesia berpotensi mendapat ”rezeki” dari lonjakan harga global.

Penerimaan negara dari sektor pajak dan royalti energi kemungkinan akan terdongkrak. Apalagi tren transisi energi global juga mendorong permintaan atas mineral strategis seperti nikel dan tembaga, yang menjadi salah satu tulang punggung ekspor Indonesia. Dalam konteks ini, neraca perdagangan berpotensi membaik sehingga memberikan bantalan terhadap defisit transaksi berjalan, sekaligus memperkuat cadangan devisa negara.

Dilema

Namun, Rizal menekankan, euforia tersebut harus dibaca dengan kacamata yang lebih jernih. Kenyataannya, Indonesia masih importir neto minyak, terutama untuk kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) domestik. Lonjakan harga minyak dunia akan langsung menambah tekanan terhadap anggaran subsidi energi pemerintah.

”Jika harga minyak dunia melampaui ambang psikologis 100 dollar AS per barel dan bertahan dalam jangka menengah, pemerintah akan dihadapkan pada dilema klasik. Harus menambah anggaran subsidi, tetapi risikonya adalah membengkaknya defisit,” ucapnya.

Ekonom senior Tauhid Ahmad menambahkan, di tengah perekonomian lesu seperti sekarang, tekanan yang dihadapi pemerintah berat. Dilema seperti itu harus segera dijawab supaya jangan sampai masyarakat yang dikorbankan.

”Apabila harga minyak mentah merangkak naik ke 100 dolar AS, itu bakal menjadi alarm besar bagi Pemerintah Indonesia. Mau tidak mau, pemerintah harus tambah subsidi. Pertanyaannya, subsidi apa lagi (untuk menyikapi efek limpahan kenaikan harga minyak mentah)?” kata Tauhid.

serangan israel Konflik Israel Iran apindo harga BBM naik INDEF

Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana

|

Editor:

Agnes Theodora, Muhammad Fajar Marta

|

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul