CEO Manchester United Soroti Keberhasilan Keuangan Pasca Pemangkasan Biaya
Isu Nasional - JAKARTA - CEO Manchester United, Omar Berrada, mengatakan langkah-langkah pemangkasan biaya yang ekstensif mulai membuahkan hasil seiring dengan dirilisnya hasil keuangan terbaru klub.
The Red Devils telah melakukan lebih dari 250 pemutusan hubungan kerja sejak Sir Jim Ratcliffe membeli saham minoritas pada Februari 2024.
Manchester United juga telah berupaya menurunkan tagihan gaji, termasuk gaji pemain tim utama pria.
Pada Rabu, 25 Februari 2026, waktu setempat, Manchester United mengumumkan laba operasional sebesar 32,6 juta pound (sekitar Rp740,4 miliar) dalam hasil keuangan kuartal kedua mereka dibandingkan dengan kerugian 3,9 juta pound (berkisar Rp88,5 miliar) pada periode yang sama tahun lalu.
"Sekarang kita melihat dampak keuangan positif dari transformasi di luar lapangan yang terwujud baik dalam biaya maupun profitabilitas kita."
"Kami terus mengambil pendekatan yang mengutamakan sepak bola dan berinvestasi di tim utama putra dan putri kami."
"Di lapangan, tim putra kami berada di peringkat keempat Liga Inggris. Tim putri kami berada di peringkat kedua Liga Super Wanita (WSL), serta mencapai final Piala Liga (FA Women's League Cup) dan perempat final Liga Champions Wanita."
"Hasil hari ini menunjukkan kekuatan mendasar bisnis kami karena kami terus berupaya untuk mendapatkan hasil sepak bola terbaik bagi tim putra dan putri kami," kata Berrada dilansir ESPN.
Total biaya operasional untuk kuartal yang berakhir pada 31 Desember 2025 turun 22,5 juta pound (sekitar Rp511 miliar) menjadi 173,9 juta pound (sekira Rp3,9 triliun)—penurunan sebesar 11,5 persen.
Manchester United juga mengatakan biaya tunjangan karyawan untuk kuartal tersebut telah turun 7,4 juta pound (sekitar Rp168 miliar) menjadi 75,1 juta pound (berkisar Rp1,7 triliun) karena dampak program pengurangan jumlah karyawan yang diterapkan selama tahun sebelumnya.
The Red Devils menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut berarti mereka mematuhi Peraturan Keuntungan dan Keberlanjutan Liga Inggris serta Peraturan Financial Fair Play UEFA menjelang jendela transfer penting lainnya pada musim panas.




