Dukungan Abu Thalib dalam Menghadapi Tantangan Dakwah Nabi Muhammad
Sumber Foto: Muhammadiyah
Hiburan

Dukungan Abu Thalib dalam Menghadapi Tantangan Dakwah Nabi Muhammad

Mekkah abad ke-7 tidak mengenal raja atau kaisar. Kekuasaan tersebar di antara para tetua suku. Setiap kabilah memiliki pemimpinnya sendiri, dan para pemimpin itu duduk bersama dalam semacam dewan untuk memutuskan arah politik dan hukum kota.

Tidak ada satu pun otoritas tunggal yang berkuasa atas semua. Tidak ada satu orang pun yang berdiri di atas semua golongan. Itulah sebabnya para sejarawan menyebut sistem sosial-politik Mekkah waktu itu sebagai aristokrasi suku.

Sistem ini berbeda jauh dari sistem hukum kita hari ini. Bayangkan kamu tinggal di Indonesia dan membuat konten yang dianggap menghina kelompok tertentu. Kontemu sangat-sangat viral di sosial media. Kamu jadi terkenal sebagai seorang penista. Besoknya, bukan massa yang datang ke rumahmu, tapi surat panggilan resmi dari Polresta.

Kamu akan berhadapan dengan pasal 28 UU ITE, penyidik, jaksa, dan hakim. Prosesnya berlangsung di ruang sidang, berdasarkan kitab undang-undang. Keluargamu boleh mendukungmu secara moral, tapi mereka tidak bisa menghentikan jalannya hukum. Nasibmu sangat ditentukan oleh argumentasi di pengadilan, bukan oleh nama keluargamu.

Sekarang, pindahkan adegan itu ke Mekkah abad ke-7. Bayangkan kamu membawa ide baru yang menentang kepercayaan lama. Misalnya kamu menyatakan bahwa menyembah berhala adalah kesalahan besar. Pandanganmu itu tersebar ke seantero kota. Orang-orang di sana mulai tersinggung dan merasa terganggu.

Dalam masyarakat aristokrat seperti itu, kamu tidak akan berhadapan dengan polisi, karena sistem aparat pada waktu itu belum ada. Sebagai gantinya, kamu akan diadili oleh masyarakatmu sendiri. Nasibmu sangat ditentukan oleh seberapa kuat keluarga dan sukumu itu melindungimu. Keselamatanmu sangat bergantung pada kehormatan suku dan kabilah.

Nabi Muhammad Saw mengalami sendiri situasi seperti itu. Ketika beliau mulai berdakwah secara terbuka, mengecam penyembahan berhala dan menyeru kepada tauhid, kaum Quraisy menganggap dakwah itu sebagai penghinaan terhadap budaya, gaya hidup, dan kehormatan mereka. Bagi mereka, kelakuan Nabi Saw ini pantas untuk diadili masyarakat.

Para tetua Quraisy kemudian mendatangi Abu Thalib, pemimpin Bani Hasyim, yang juga paman Nabi. Mereka meminta agar Abu Thalib segera menghentikan aktivitas dakwah Nabi Saw. Hal tersebut karena mereka merasa kurang nyaman. Dalam satu kesempatan Abu Thalib berhasil menenangkan mereka. Namun tekanan tak berhenti di situ.

Beberapa minggu kemudian, para tetua Quraisy dari berbagai kabilah itu datang lagi dengan ancaman dan bujukan yang lebih keras. Mereka bahkan memberi ultimatum: hentikan Muhammad atau serahkan dia kepada kami. Namun dalam sistem aristokrasi, mereka tak bisa menyakiti Muhammad tanpa izin Abu Thalib. Kenapa? Karena itu akan menodai kehormatan kabilah Bani Hasyim dan memicu perang suku.

Tekanan yang terus datang, Abu Thalib pun berbicara kepada keponakannya itu dengan nada cemas, “Wahai keponakanku, kaumku telah datang kepadaku dengan tuntutan ini dan itu. Kasihanilah dirimu dan kasihanilah aku; jangan tempatkan aku pada posisi yang sulit.”

Dari perkataan di atas, Abu Thalib terlihat menghadapi dilema yang paling mendasar dalam hidupnya. Sebagai sesama orang Quraisy, beliau menyadari bahwa ajaran tauhid itu asing baginya, bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegangnya turun-temurun. Namun di sisi lain, sebagai pemimpin Bani Hasyim, tanggung jawabnya kepada suku menuntutnya untuk melindungi setiap anggotanya tanpa syarat.

Melihat pamannya berada di situasi yang sulit, Nabi Saw meyakinkan dengan nada yang tegas, “Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.”

Abu Thalib menatapnya lama, melihat keteguhan Nabi Saw, lalu berkata, “Lakukanlah apa yang engkau kehendaki, wahai keponakanku. Demi Allah, aku tidak akan pernah lagi memintamu untuk berhenti.” Abu Thalib teguh mendukung dan melindungi dakwah Nabi Saw di tengah tekanan psikis dari kaum Quraisy.

Sejak saat itu, Abu Thalib menjadi tameng hidup bagi Nabi. Beliau menanggung ejekan, tekanan, hingga boikot ekonomi, tapi tak pernah menyerahkan beliau. Bahkan ketika Quraisy mengajukan tawaran aneh dengan menukar Nabi Saw dengan seorang pemuda Quraisy yang gagah bernama al-‘Umarah bin al-Walid, Abu Thalib marah besar, “Betapa buruk tawaran kalian! Kalian ingin aku membesarkan anak kalian sementara kalian membunuh anakku sendiri?”

Abu Thalib menjalankan tugas untuk melindungi Nabi Saw bukan sekadar kasih sayang seorang paman, tetapi sebagai pemimpin kabilah. Dengan menolak tunduk pada tekanan Quraisy, beliau mengirim sinyal pertahanan sekaligus perlawanan. Ia berusaha keras memperkuat posisi Bani Hasyim sebagai suku yang tak mudah ditundukkan.

Kontribusi Abu Thalib dalam melindungi dakwah Islam di masa-masa paling rentan menjadi fondasi yang memungkinkan kelanjutan risalah Nabi. Tanpa perlindungannya yang tak kenal kompromi, sejarah Islam mungkin akan mencatat babakan yang sangat berbeda. Dalam lembaran sirah Nabawiyah, nama Abu Thalib akan selalu dikenang sebagai sang pelindung di masa-masa paling genting.

Ibn Hishām, al-Sīrah al-Nabawiyyah, hlm. 299.

Ibn Jarir al-Thabari, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk, vol. 2, hlm. 326-327.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.