Eskalasi Iran-Israel Angkat Harga Minyak, Risiko Tembus 100 Dolar AS per Barel Terbatas
Kenaikan harga minyak dunia diharapkan tidak kembali ke level 100 dollar AS per barel seperti saat konflik Rusia-Ukraina pada 2022.
Oleh Erika Kurnia
16 Jun 2025 16:11 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Harga minyak dunia melesat naik dalam beberapa hari terakhir pascaeskalasi konflik antara Iran dan Israel. Konflik tersebut diharapkan tidak berlangsung panjang dan membawa dampak seburuk perang Rusia dan Ukraina pada 2022.
Meski demikian, jika eskalasi tensi kedua negara itu terus berlanjut, harga minyak dunia kemungkinan bisa kembali ke level 100 dollar AS per barel. Lonjakan harga minyak dunia itu dapat berdampak negatif pada neraca perdagangan Indonesia.
Mengutip laman Trading Economics, harga minyak dunia pada Senin (16/6/2025) hampir menyentuh harga 75 dollar AS per barel, tertinggi dalam enam bulan terakhir. Harga ini telah mengalami kenaikan sekitar 7 persen pada penutupan perdagangan Jumat (13/6/2026).
Momen itu terjadi setelah Israel meluncurkan serangan masif di lapangan gas di Semenanjung Persia, yang membuat platform produksi gas ditutup. Itu merupakan serangan susulan setelah Israel menyerang fasilitas nuklir Iran dan pangkalan militer Iran pekan lalu.
Pengamat komoditas, Lukman Leong, saat dihubungi Kompas, Senin, menganalisis, harga minyak memang terdampak oleh eskalasi di Timur Tengah. Terlebih, Iran merupakan salah satu produsen besar minyak dunia dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari.
Meski demikian, ia memperkirakan konflik itu tidak akan membawa harga minyak dunia hingga ke atas 80 dollar AS per barel. Tren kenaikan harga itu diyakini tidak akan bertahan lama.
”Saya perkirakan OPEC+ (aliansi negara produsen minyak) akan bisa segera menawarkan kenaikan produksi ke negara-negara produsen. Dari sisi logistik, Iran sendiri masih dalam negosiasi dengan Amerika Serikat dan diperkirakan tidak akan gegabah menutup Selat Hormuz, yang bisa membawa mereka dalam posisi diplomasi yang lebih buruk,” katanya.
Sementara itu, Girta Putra Yoga selaku Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menilai, jika perang Iran-Israel berlanjut dan pasokan terganggu, aliansi OPEC+ akan sulit mengimbanginya. ”Hal ini disebabkan produksi Iran yang cukup besar hanya berpotensi diimbangi oleh peningkatan produksi secara besar-besaran dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab,” tuturnya saat dihubungi terpisah.
Ia menduga, efek konflik Iran-Israel ke distribusi dan harga minyak dunia tidak akan sedrastis efek perang Ukraina-Rusia pada 2022. Wilayah Timur Tengah sudah terkenal dengan gejolak geopolitik, berbeda dengan situasi perang Ukraina yang mengejutkan dunia dengan invasi Rusia.
”Namun, apabila perang Iran ini meluas, ada potensi bisa membuat harga minyak melambung lebih tinggi lagi,” katanya.
Apabila kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut, neraca dagang Indonesia akan terdampak. Terlebih, dari sisi impor minyak yang tidak disubsidi oleh pemerintah. Seperti diketahui, saat ini, Indonesia lebih banyak mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) ketimbang produksi minyak dalam negeri yang mengalami defisit hingga besaran 1 juta barel per hari.
Memberatkan APBN
Hal senada dikatakan Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar. Ia menilai, kenaikan harga minyak akibat konflik berkepanjangan akan berpengaruh pada Indonesia. Efeknya akan terlihat dari sisi biaya impor minyak mentah dan BBM, baik BBM jenis subsidi atau PSO (public service obligation) maupun non-PSO.
”Yang BBM PSO tentunya akan jadi beban APBN dan ini akan lumayan memberatkan di tengah kondisi keuangan negara yang tidak baik-baik saja. Adapun yang non-PSO berpotensi terjadi kenaikan harga yang harus ditanggung oleh masyarakat,” kata Bakhtiar.
Terkait harga, ia memprediksi, jika kondisi konflik tidak memanas atau hanya dalam jangka pendek, potensi kenaikan bisa berkisar 90 dollar AS per barel. ”Namun, jika konflik memanas hingga berdampak pada fasilitas produksi dan distribusi minyak bumi Iran, harga bisa naik lebih dari 100 dollar AS, bahkan 120-an dollar AS per barel,” ujarnya.
Berkaca dari pengalaman saat perang Ukraina-Rusia, ketika harga minyak naik hingga kisaran 100 dollar AS per barel pada 2022, neraca perdagangan minyak dan gas (migas) dalam negeri mengalami lonjakan defisit ekspor-impor.
Data Badan Pusat Statistik melaporkan, neraca perdagangan migas sepanjang 2022 mengalami defisit sebesar 24,39 miliar dollar AS, melonjak drastis dari defisit neraca migas pada 2021 sebesar 13,25 miliar dollar AS.
Di tengah fluktuasi harga itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menjabat pada 2023, Tutuka Ariadji, menyampaikan, pasokan minyak mentah saat itu relatif aman karena RI sebagian besar mengimpor dari Arab Saudi dan Nigeria yang tidak berhubungan langsung dengan negara konflik.
Adapun untuk BBM, Indonesia mengimpor dari Singapura dan Malaysia. ”Kedua negara tersebut juga tidak berhubungan langsung dengan negara konflik,” kata Tutuka, dikutip dari rilis Kementerian ESDM, 1 Maret 2023.
Harga minyak dunia perang iran israel Neraca migas Indonesia neraca perdagangan RI israel serang iran harga bbm utama
Kerabat Kerja
Penulis:
Erika Kurnia
|
Editor:
Agnes Theodora
|
Penyelaras Bahasa:
Hibar Himawan




