Febri: Dari Penyintas Kesehatan Mental Menuju Lulusan UI
Sumber Foto: republika.co.id
Sosial

Febri: Dari Penyintas Kesehatan Mental Menuju Lulusan UI

Isu Nasional - Bantuan profesional membantu Febri keluar dari permasalahan mental.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Satria K Yudha

Musisi, Danilla Riyadi (kedua kiri), Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah), Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kedua kanan) dan Mental Health Survivor, Febri Susanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Febri Susanto P, lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia angkatan 2021, membagikan pengalamannya sebagai penyintas gangguan kesehatan mental setelah menyelesaikan studi selama empat tahun. Saat ini, ia menjalani fase mencari pekerjaan sambil menata kembali ritme kehidupannya.

Ia mengaku bersyukur dapat menuntaskan pendidikan meski menghadapi berbagai tekanan akademik dan nonakademik selama kuliah. “Alhamdulillah, ternyata bisa lulus juga,” kata Febri dalam seminar yang digelar Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa FISIP UI di Depok, Kamis (26/2/2026).

Baca Juga

Gangguan Kecemasan Dominasi Masalah Kesehatan Mental Mahasiswa

Cara Danilla Riyadi Jaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan

Mendiktisaintek Siapkan Tiga Strategi Atasi Masalah Kesehatan Mental di Kampus

Selama kuliah, Febri aktif mengikuti berbagai organisasi, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa hingga himpunan jurusan. Aktivitas tersebut berjalan beriringan dengan tuntutan akademik yang padat serta tekanan sosial di lingkungan kampus.

Sebagai mahasiswa perantau, Febri juga menghadapi tantangan adaptasi, terutama saat tahun pertama perkuliahan berlangsung secara daring akibat pandemi. Kegiatan tatap muka baru dimulai pada semester tiga sehingga kesempatan membangun relasi secara langsung menjadi terbatas.

Febri mengatakan, tekanan akademik tidak hanya berasal dari tugas individu, tetapi juga tugas kelompok yang membutuhkan koordinasi intensif. “Ini pengalaman pribadi ya, ketika jadi mahasiswa kita justru lebih pusing dengan tugas kelompok dibandingkan tugas individu,” ujarnya.

Tekanan semakin meningkat pada semester akhir ketika ia harus menyelesaikan skripsi di tengah aktivitas organisasi dan persoalan keluarga. Pada fase tersebut, Febri mulai mengalami perubahan pola hidup yang tidak sehat.

Ia mengaku sering tidur larut malam bahkan beberapa kali tidak tidur sama sekali, sementara aktivitas harian tetap berjalan. Dalam satu periode, ia hanya tidur sekitar satu jam untuk menjalani aktivitas selama satu hari penuh.

Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya mimpi buruk ketika mencoba tidur lebih lama. Situasi ini berlangsung selama dua hingga tiga minggu dan mulai mengganggu fungsi harian serta konsentrasinya. “Baru aku sadar ketika melihat pola diriku sendiri. Aku hanya tidur satu jam untuk beraktivitas selama 24 jam. Ketika mencoba tidur lebih lama, justru muncul mimpi buruk,” tutur Febri.

Menyadari kondisinya tidak normal, Febri kemudian mencari bantuan profesional melalui layanan kesehatan mental. Ia sempat mendaftar ke Klinik Makara UI, namun waktu tunggu membuatnya khawatir kondisi dapat memburuk.

View this post on Instagram

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Ikuti Whatsapp Channel Republika

Advertisement

kesehatan mental

mental health survivor

mahasiswa ui

fisip ui

kesehatan mental mahasiswa

konseling mahasiswa

gangguan mental

kesehatan mental kampus

lulusan ui

kesehatan mental generasi muda

Berita Terkait

Ameera - 18 May 2026, 10:29

Kurang Tidur Bikin Tubuh Jauh Lebih Tua dari Usia Asli?

Ameera - 15 May 2026, 12:41

Tips Liburan Antistres Bersama Anak ala Psikolog

Ameera - 11 May 2026, 14:15

Rachel Amanda: Film Monster Pabrik Rambut 'Relate' Sama Pekerja Indonesia

News - 08 May 2026, 19:41

Perkuat Hilirisasi Ekonomi Nasional, Afi Kalla Dorong Mahasiswa UI Ciptakan Inovasi

Ameera - 08 May 2026, 13:49

Ukuran kenyamanan Kaum Muda Sekarang Dinilai Alami Pergeseran

Kolom - 05 May 2026, 16:06

Guru Sejahtera, Sekolah Sehat: Fondasi Pendidikan Berkualitas

Ameera - 05 May 2026, 14:59

Perempuan Kulit Hitam Cenderung Alami Perimenopause Lebih Awal

News - 04 May 2026, 22:11

Menpora Erick Dorong Forum Pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga ASEAN Digelar Rutin

Berita Lainnya

Khazanah - Ahad , 24 May 2026, 00:17 WIB

Wukuf di Arafah, Kiai Cholil Ajak Jamaah Perbanyak Doa dan Dzikir

Khazanah - Sabtu , 23 May 2026, 23:33 WIB

Sembilan Warga Asing Ditangkap karena Masuk Makkah tanpa Izin Haji

Khazanah - Sabtu , 23 May 2026, 22:11 WIB

'Israel Perlakukan Aktivis GSF Lebih Buruk dari Binatang'

Khazanah - Sabtu , 23 May 2026, 20:44 WIB

AS Dilaporkan akan Menyerang, Iran Tutup Wilayah Udara, Semua Izin Penerbangan Sipil Ditangguhkan

Khazanah - Sabtu , 23 May 2026, 19:37 WIB

Jamaah An-Nadzir di Gowa Rayakan Idul Adha pada 26 Mei 2026