FLOQ Targetkan 3 Juta Pengguna dengan Kolaborasi Ekosistem Keuangan hingga 2026
Sumber Foto: InvestorTrust
Ekonomi

FLOQ Targetkan 3 Juta Pengguna dengan Kolaborasi Ekosistem Keuangan hingga 2026

Isu Nasional - JAKARTA, investortrust.id — Platform perdagangan aset kripto (exchange) FLOQ menargetkan jumlah pengguna bisa mencapai 3 juta konsumen pada tahun 2026 ini. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari posisi awal tahun ini sekitar 1,8 juta pengguna, dari 1 juta pengguna pada Agustus 2025.

CEO sekaligus Founder FLOQ Yudhono Rawis mengatakan, pertumbuhan tersebut akan dicapai melalui pendekatan kolaboratif dengan ekosistem jasa keuangan, khususnya perbankan dan perusahaan pembayaran.

"Kalau pembayaran kripto sih sudah nggak mungkin lah ya di Indonesia. Tapi paling kurang kita integrasi dulu, simple- nya bisa lewat co branding, partnership atau apa gitu ya," ujarnya di Jakarta, dikutip Jumat (27/2/2026).

Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif untuk menjangkau segmen pengguna yang lebih matang secara finansial, yang umumnya tidak tertarik membeli aset kripto melalui media sosial atau promosi key opinion leader (KOL).

“Mereka biasanya sudah menjadi nasabah bank atau pengguna platform pembayaran tertentu. Ketika ada partnership, mereka lebih percaya mencoba karena datang dari platform yang sudah mereka kenal,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa misi FLOQ adalah memperluas adopsi kripto ke pengguna baru di luar ekosistem, bukan sekadar memindahkan pengguna dari platform lain. Karena itu, FLOQ mengedepankan kerja sama lintas ekosistem, termasuk melalui aktivitas pemasaran bersama dan integrasi layanan. "Pendekatannya kita seperti itu. Kalau kita mau, kan FLOQ kan misinya adopsi ini. Adopsi jadi kita harus memastikan yang belum di ekosistem itu join. Bukan user lain yang sudah di tempat lain," kata Yudho biasa ia disapa.

Ia menambahkan, karakteristik pengguna FLOQ itu cukup beragam dan sebagian merupakan pengguna yang baru mempunyai aset kripto dan didominasi oleh pengguna usia muda, yakni mayoritas 17-25 tahun. Apalagi didorong dukungan kemudahan transaksi dengan menawarkan kebijakan bebas biaya transaksi 100% untuk trading, serta investasi kripto bisa dimulai dari Rp 1.000.

Kebebasan biaya transaksi, menurutnya dikeluarkan menjawab keluhan mahalnya biaya transaksi di bursa kripto lokal akibat pajak, Yudho menilai bahwa beban pajak sekitar 0,21% cukup signifikan bagi trader. “Saat ini FLOQ masih menggratiskan biaya tersebut untuk pengguna, kami yang menyerap pajaknya. Tapi sampai kapan, itu belum bisa ditentukan,” katanya.

Ia menilai penerapan pajak kripto sejak 2022 berdampak langsung terhadap penurunan volume perdagangan domestik, meskipun jumlah pengguna kripto di Indonesia di akhir 2025 telah mencapai 20,19 juta orang. Adapun volume transaksi tertinggi di Indonesia terjadi pada tahun 2021 mencapai Rp 895,4 triliun, lalu merosot menjadi Rp 296,66 triliun di tahun penerapan pajak kripto 2022. “Banyak trader yang untung rugi tetap kena pajak. Itu jadi pertimbangan besar,” pungkas Yudho.

Platform ini sendiri rebranding menjadi FLOQ dan resmi diluncurkan pada 30 Mei 2025. Sebagai informasi, PT Kripto Maksima Koin (KMK) yang merupakan bagian dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang kemudian melakukan rebranding dengan mengubah nama KMK menjadi FLOQ. KMK sendiri telah mendapatkan sertifikat registrasi dari Bappebti tertanggal 28 Januari 2022 sebagai calon pedagang fisik aset kripto.

Selanjutnya, ke depan, FLOQ juga melihat potensi besar pada tren global tokenisasi aset riil (real world assets /RWA), seperti emas dan saham luar negeri, yang ditokenisasi agar dapat diakses lebih luas.

“Secara global, industri keuangan sudah mengarah ke kolaborasi antara kripto, perbankan, pembayaran, dan manajemen investasi. Model ini bisa kami tunjukkan ke mitra potensial dan regulator bahwa bisnis kripto bisa berjalan sesuai aturan,” kata Yudho.

Baca Juga

Ia menambahkan, tokenisasi menjadi salah satu fokus pengembangan FLOQ, baik melalui listing produk maupun kerja sama strategis, seiring semakin diterimanya regulasi kripto di berbagai negara. Sementara, dari sisi produk, FLOQ berencana menambah jumlah token yang diperdagangkan. Sebagai informasi, dalam delapan bulan diluncurkan FLOQ resmi mencapai 100 listing aset kripto dan diharapkan di tahun ini bisa mencapai 150 token yang terdaftar.

Selain itu, juga meningkatkan pengalaman pengguna dengan fitur baru, termasuk limit order, guna memudahkan pengguna baru dalam bertransaksi. Limit Order atau disebut juga dengan market maker adalah metode order yang memungkinkan member Indodax untuk menentukan harga yang mereka inginkan dalam membeli atau menjual aset digital. Apabila member memilih metode order ini, maka order tersebut hanya akan tereksekusi jika pasar mencapai harga yang sudah ditentukan. Limit Order dapat digunakan untuk membeli pada harga yang lebih rendah atau menjual pada harga yang lebih tinggi dari harga pasar saat ini.

Sementara untuk produk derivatif, FLOQ masih menunggu perkembangan bursa kripto yang menaungi instrumen tersebut. Seperti diketahui, FLOQ merupakan salah satu pemegang saham dari PT Fortuna Integritas Mandiri yang menaungi bursa kripto International Crypto Exchange (ICEx). “Derivatif itu tergantung bursa. Jadi kami masih melihat nanti akan seperti apa. Semoga bisa akhir tahun ini atau tahun depan,” ujar Yudho.

Harga Bitcoin Turun

Terkait penurunan harga Bitcoin, Yudho menilai kondisi pasar bearish justru sering dimanfaatkan oleh investor jangka panjang untuk akumulasi, bukan oleh trader jangka pendek. “Kalau bear market, yang masuk biasanya justru orang-orang yang mau beli dan hold. Bukan trading,” ujar Yudho.

Secara makro, ia menilai prospek jangka panjang Bitcoin dan industri kripto masih menjanjikan. Apalagi, saat ini kapitalisasi pasar kripto global baru sekitar US$ 2–3 triliun atau sekitar 2% dari total kapitalisasi pasar ekuitas global. “Regulasi kripto makin diterima dan sekarang aset kripto mulai menyatu dengan aset keuangan dan aset riil. Kalau demand terus naik, secara teori nilainya juga akan terus meningkat,” jelasnya.

Namun demikian, Yudho mengingatkan bahwa pergerakan harga Bitcoin tetap sulit diprediksi. Ia menyebut adanya dua pandangan di pasar, yakni teori siklus empat tahunan pasca halving dan teori super cycle yang dipicu oleh masuknya investor institusional.

“Kita tidak pernah tahu bottom itu kapan. Karena itu, strategi paling masuk akal adalah dollar cost averaging, pakai uang dingin, jangan all in, ” ujarnya.

Adapun, Bitcoin sempat ada di level US$ 60.000-an, level tersebut menandakan penurunan hampir 50% dari rekor tertinggi US$ 126.000 yang dicapai pada 6 Oktober 2025. Berdasarkan data histori Monthly Returns dari Coinglass, Bitcoin sudah babak belur sejak akhir tahun lalu, di mana Oktober 2025 ditutup minus -3,69%, disusul anjlok parah di November sebesar -17,67%, dan Desember yang tetap merah di -2,97%.

Tren negatif ini terus berlanjut ke awal tahun 2026 dengan Januari ditutup melemah -10,17%, dan kondisi Februari 2026 menjadi yang paling kritis karena sudah ambles -18,54% hingga saat ini. Bahkan, jika ditarik garis lurus, Bitcoin sedang dalam tren penurunan lima bulan berturut-turut.