Harga Emas Melonjak Akibat Ketegangan Konflik Timur Tengah
Isu Nasional - Perang Terus Berlanjut
Perang udara AS-Israel terhadap Iran meluas tanpa tanda-tanda akan segera berakhir. Israel menyerang Lebanon sebagai respons atas serangan dari Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk. Presiden AS Donald Trump mengatakan “gelombang besar” serangan lanjutan akan segera terjadi, tanpa merinci lebih lanjut.
Harga minyak dan gas melonjak setelah serangan memaksa penghentian operasi sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah serta mengganggu pelayaran di jalur vital Selat Hormuz. Analis di SP Angel menyebut meningkatnya fragmentasi geopolitik mendorong bank sentral negara-negara BRICS mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar dan beralih ke emas.
Mereka pun memperkirakan tren ini akan berlanjut. Sementara itu, BNP Paribas memproyeksikan permintaan investasi emas fisik akan menjadi pendorong utama tahun ini. Emas, yang lama dipandang sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, telah mencetak sejumlah rekor harga dan naik hampir 23 persen sepanjang tahun ini.
Reli tersebut melanjutkan lonjakan luar biasa sebesar 64 persen pada 2025, didorong oleh pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk yang kuat ke exchange-traded funds (ETF), serta pergeseran menuju kebijakan moneter AS yang lebih longgar.
Menurut tiga sumber industri logam, arus perdagangan emas fisik ke dan dari pusat perdagangan emas di Dubai akan sangat terganggu dalam beberapa hari ke depan, seiring maskapai membatalkan penerbangan akibat serangan.
Dari sisi data ekonomi, pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls pekan ini.
Di pasar logam lainnya, harga perak spot turun 5,7 persen menjadi USD 88,46 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 30 Januari. Harga platinum spot melemah 2,7 persen ke USD 2.300,50, sementara paladium turun 0,9 persen menjadi USD 1.770,66.




