Harga Minyak Melonjak 6% akibat Konflik Timur Tengah, Inflasi Mengancam
Sumber Foto: Kompas.com
Internasional

Harga Minyak Melonjak 6% akibat Konflik Timur Tengah, Inflasi Mengancam

Isu Nasional - NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak mentah dunia melonjak pada akhir perdagangan Senin (2/3/2026) waktu setempat atau Selasa (3/3/2026) pagi WIB, di tengah meluasnya perang udara antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.

Memanasnya konflik di Timur Tengah tersebut memicu kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi global serta potensi lonjakan inflasi.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup di level 77,74 dollar AS per barrel, melonjak 6,68 persen atau 4,87 dollar AS.

Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di level 71,23 dollar AS per barrel, naik 6,28 persen atau 4,21 dollar AS.

Kenaikan itu dipicu serangan udara AS dan Israel terhadap Iran yang dibalas Teheran. Eskalasi tersebut memaksa penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan Timur Tengah serta mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.

Pelaku pasar pun mencemaskan durasi konflik yang diperkirakan dapat berlangsung berminggu-minggu.

Di pasar keuangan, dollar AS dan emas yang dikenal sebagai aset amat atau safe haven turut menguat. Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran inflasi, sehingga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik di seluruh tenor.

Chief Investment Strategist 248 Ventures Lindsey Bell mengatakan kekhawatiran utama pasar saat ini tertuju pada inflasi dan lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

"Banyak kekhawatiran saat ini berkaitan dengan inflasi dan minyak karena konflik yang terjadi di Timur Tengah," ujar Bell.

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat investor tetap fokus pada saham-saham AS karena dinilai memiliki kepastian lebih besar dari sisi kinerja laba dan pertumbuhan ekonomi dibandingkan kawasan lain.

"Investor melihat kepastian yang lebih besar pada laba dan pertumbuhan ekonomi di AS dibandingkan di bagian dunia lainnya," lanjutnya.

Meski sempat tertekan lebih dari 1 persen, indeks saham utama AS berhasil memangkas kerugian. Indeks S&P 500 ditutup naik tipis 0,04 persen ke level 6.881,62, Nasdaq menguat 0,36 persen menjadi 22.748,86, sedangkan Dow Jones turun 0,15 persen ke posisi 48.904,78.

Penguatan di Wall Street didorong oleh sektor energi yang naik hampir 2 persen seiring reli harga minyak, sektor industri yang mencakup saham pertahanan naik sekitar 1 persen, serta sektor teknologi yang menguat 0,9 persen.