Kecemasan Jadi Tantangan Utama Kesehatan Mental Mahasiswa
Sumber Foto: republika.co.id
Sosial

Kecemasan Jadi Tantangan Utama Kesehatan Mental Mahasiswa

Isu Nasional - Dukungan dari berbagai pihak penting untuk kejiwaan mahasiswa.

Rep: Lintar Satria/ Red: Fitriyan Zamzami

Peserta menyimak sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kecemasan menjadi masalah kesehatan mental terbesar di antara mahasiswa. Berdasarkan hasil survei 2024 dan 2025 yang digelar Biro Konsultasi Mahasiswa (BKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) ratusan mahasiswa mengalami kecemasan berat hingga sangat berat.

"2024 itu mencapai lebih dari 47 persen yang tingkatannya berat dan sangat berat. Sementara kalau di tahun 2025, cemas yang berat dan sangat berat ada sekitar 44 persen. Di depresi yang berat maupun yang sangat berat pada tahun 2024 itu ada sekitar 190 orang atau 24 persen," kata konselor BKM FISIP UI Annisah, Kamis (26/2/2026).

Hasil survei ini dipaparkan dalam rangkaian kegiatan Out Loud Republika, talkshow dan healing experience yang bertajuk "Grow Through What You Go Through" yang diselenggarakan Republika dan BKM FISIP UI. Annisah menambahkan pada 2025 sebanyak 1,7 persen mengalami kecemasan berat jauh lebih rendah dari tahun 2024 yang sebanyak 317 orang.

Annisah mengatakan sebagian besar perbedaan ini disebabkan waktu survei dilakukan. pada 2024 survei digelar sebelum masa ujian sementara 2025 setelah masa ujian. Pada tahun 2024 sebanyak 73 orang melakukan konsultasi atau 19 persen yang mengakses layanan konsultasi FISIP UI.

"Lalu pada tahun 2025 total yang mengalami kecemasan di sini berdasarkan survei itu ada 230 orang. Sementara yang mengakses atau yang mendaftarkan diri untuk mendapatkan bantuan dari BKM itu ada 76 orang atau 33 persen," kata Annisah.

Survei tersebut menggunakan skala DASS-21 (Depression, Anxiety, and Stress Scale) untuk mengukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres.

Musisi, Danilla Riyadi (tengah) bersama Psikolog UI, Edward Andriyanto (kanan) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

“Ini memang berdasarkan survei dan belum menggambarkan sepenuhnya kondisi riil, tapi setidaknya memberi gambaran permukaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan tren masalah yang muncul dalam layanan konseling umumnya berawal dari persoalan akademik, relasi, keluarga, karier, hingga isu sosial. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, banyak kasus bermuara pada kecemasan.

Annisah menegaskan persoalan kesehatan mental tidak muncul semata-mata setelah mahasiswa memasuki bangku kuliah. Ia merujuk pada skrining kesehatan mental mahasiswa baru UI yang menunjukkan sebagian mahasiswa sudah memiliki gejala sebelum resmi menjalani perkuliahan.

Pada 2024, sekitar 10 persen mahasiswa baru tercatat mengalami kecemasan berat dan 14 persen sangat berat. Untuk depresi berat dan sangat berat, totalnya sekitar 3,8 persen.

“Artinya mahasiswa datang tidak hanya membawa buku dan laptop, tapi juga membawa beban,” katanya.

Menurut dia, ekspektasi awal mahasiswa yang membayangkan masa kuliah penuh kebebasan dan kesenangan kerap berbenturan dengan realitas beban akademik, adaptasi lingkungan, serta persaingan. Banyak mahasiswa yang sebelumnya berprestasi di sekolah menengah merasa minder ketika bertemu rekan-rekan yang sama-sama berprestasi.

Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kanan) bersama Musisi, Danilla Riyadi (kiri) dan Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

Di sisi lain, banyaknya peluang pengembangan diri di kampus justru memicu kebingungan dan kelelahan karena ingin mengikuti semuanya. Ia juga menyinggung meningkatnya ide bunuh diri yang disampaikan mahasiswa, baik secara langsung maupun dalam sesi konseling, sebagai indikator serius yang perlu ditangani bersama.

Dari survei 2024, stresor terbesar di ranah akademik adalah tugas perkuliahan, disebut oleh 65,8 persen responden. Pada aspek keluarga, persoalan keuangan menjadi faktor dominan sebesar 31,7 persen, disusul konflik dengan orang tua 17,9 persen.

Pada aspek personal, 66,1 persen responden menyebut kesulitan mengelola emosi sebagai sumber stres, sementara 45,2 persen terkait kepercayaan diri. Dalam aspek sosial, relasi pertemanan menjadi faktor utama sebesar 28,2 persen, termasuk pengaruh media sosial.

Annisah memandang masalah kesehatan mental mahasiswa perlu dilihat dalam kerangka sistem yang lebih luas. Ia merujuk pada teori ekologi perkembangan yang menjelaskan bahwa individu dipengaruhi oleh berbagai sistem, mulai dari mikrosistem seperti keluarga, teman sebaya, dan kampus; mesosistem berupa interaksi antarlingkungan; eksosistem seperti kondisi pekerjaan orang tua; hingga makrosistem berupa budaya dan tuntutan sosial.

“Mahasiswa tidak hidup dalam ruang hampa. Ada tekanan akademik, harapan orang tua, kondisi ekonomi keluarga, sampai dinamika media sosial yang bisa memicu overthinking dan anxiety,” ujarnya.

Ia menambahkan faktor waktu atau chronosystem juga berperan, di mana pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan dapat menjadi pemicu ketika mahasiswa menghadapi tekanan baru di bangku kuliah.

Annisah menolak penyederhanaan persoalan kesehatan mental mahasiswa sebagai sekadar label “generasi lemah” atau “generasi stroberi”. Ia justru mengapresiasi meningkatnya kesadaran mahasiswa untuk berbicara tentang kesehatan mental dan mencari bantuan.

Dalam penanganan kasus, BKM FISIP UI tidak hanya menyediakan konseling individual, tetapi juga menerapkan pendekatan multiintervensi. Mahasiswa dapat dirujuk ke psikolog atau psikiater, termasuk di Rumah Sakit UI, serta dilakukan konferensi kasus yang melibatkan keluarga, program studi, dan dosen terkait untuk mencari solusi bersama.

“Dari pengalaman kami, ketika keluarga dilibatkan dan memahami kondisi anaknya, banyak kasus yang progresnya jauh lebih baik. Sering kali orang tua defensif karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Annisah.

Ia menekankan pentingnya dukungan dari berbagai pihak, termasuk kampus, keluarga, komunitas, hingga pemerintah. Menurut dia, upaya mewujudkan generasi unggul tidak bisa dilepaskan dari perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa sebagai calon agen perubahan.

Di akhir paparannya, Annisah mengajak mahasiswa untuk lebih peduli pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, berani mencari bantuan saat dibutuhkan, serta memanfaatkan sistem dukungan yang tersedia.

“Sesuai tagline hari ini, tetaplah bertumbuh. Grow through what you go through. Apa pun kondisinya, mari tetap bertumbuh dan memberi manfaat,” ujarnya.

Out Loud Republika adalah rangkaian acara talkshow dan healing experience bertajuk "Grow Through What You Go Through" yang berfokus pada kesehatan mental. Acara hasil kolaborasi Republika dan BKM FISIP UI ini menghadirkan narasumber seperti Danilla Riyadi dan ahli kesehatan, menawarkan sesi konseling dan skrining kesehatan mental gratis.

Acara ini juga didukung oleh Samsung Galaxy S2 Series, Bank Mandiri, Siloam Heart Hospital, Paragon Corp, Dompet Dhuafa, dan Darya-Varia Laboratoria.

Ikuti Whatsapp Channel Republika

Advertisement

kesehatan mental

mental mahasiswa

Berita Terkait

Ameera - 18 May 2026, 10:29

Kurang Tidur Bikin Tubuh Jauh Lebih Tua dari Usia Asli?

Ameera - 15 May 2026, 12:41

Tips Liburan Antistres Bersama Anak ala Psikolog

Ameera - 11 May 2026, 14:15

Rachel Amanda: Film Monster Pabrik Rambut 'Relate' Sama Pekerja Indonesia

Ameera - 08 May 2026, 13:49

Ukuran kenyamanan Kaum Muda Sekarang Dinilai Alami Pergeseran

Kolom - 05 May 2026, 16:06

Guru Sejahtera, Sekolah Sehat: Fondasi Pendidikan Berkualitas

Ameera - 05 May 2026, 14:59

Perempuan Kulit Hitam Cenderung Alami Perimenopause Lebih Awal

News - 04 May 2026, 22:11

Menpora Erick Dorong Forum Pertemuan Menteri Pemuda dan Olahraga ASEAN Digelar Rutin

News - 29 April 2026, 20:39

FIB UI dan ILUNI Bahas Kesehatan Mental Mahasiswa dari Perspektif Humaniora

Berita Lainnya

Esgnow - Jumat , 22 May 2026, 23:09 WIB

Kemenpar Dukung Geopark Run Series, Bisa Lari Sambil Menikmati Lingkungan Geopark

Esgnow - Jumat , 22 May 2026, 11:07 WIB

Bank Mandiri Taspen Bantu Pensiunan ASN Tetap Produktif di Masa Purnatugas

Esgnow - Jumat , 22 May 2026, 08:53 WIB

BMKG Keluarkan Peringatan, Hujan Lebat Mengintai Sejumlah Wilayah RI

Esgnow - Kamis , 21 May 2026, 21:34 WIB

Bank Jakarta Raih Penghargaan CSR Nasional 2026

Esgnow - Kamis , 21 May 2026, 18:06 WIB

Pemerintah Siapkan Insentif Kendaraan Listrik, Kepastian Regulasi Jadi Tantangan