Konflik Israel-Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak, Asia Pasifik Paling Rentan Terdampak
Konflik geopolitik rentan menimbulkan gejolak ekonomi dunia, terutama bila melibatkan negara produsen minyak. Apakah konflik Israel-Iran akan berimbas demikian?
Oleh Budiawan Sidik A
18 Jun 2025 14:30 WIB · Ekonomi & Bisnis
Konflik geopolitik rentan menimbulkan gejolak stabilitas ekonomi dunia, terutama bila melibatkan negara produsen minyak bumi skala besar. Sejarah masa silam telah menorehkan serangkaian peristiwa yang berimbas negatif terhadap ekonomi global tatkala sejumlah negara produsen energi terlibat konflik persenjataan. Lantas, apakah perseteruan Israel-Iran juga akan berisiko bagi perekonomian global?
Menurut pakar ekonomi dari Prince Future Group, Phil Flynn, konflik tersebut bukan konflik yang langsung selesai. Ia menduga perang ini akan berlarut seperti perang Ukraina-Rusia. Hal itu telah berdampak pada harga barang-barang di Amerika Serikat yang sudah naik 10 persen sejak serangan Israel ke Iran pada Jumat (13/6/2025). Firma kajian keuangan, Barclays, memperkirakan akan terjadi lonjakan harga minyak yang berisiko melemahkan mata uang di negara-negara kawasan Asia. Dengan demikian, akan terjadi pelambatan pembangunan di kawasan tersebut (Kompas.id, 18/6/2025).
Data oilprice.com menunjukkan harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami lonjakan setelah perang meletus. Pada 11 Juni lalu harga minyak WTI sekitar 68 dollar AS/barel, tetapi saat serangan militer mulai memanas pada 13 Juli, harga minyak melonjak menjadi 71,29 dollar AS/barel. Harga itu terus merangkak naik hingga saat ini yang telah mencapai kisaran 75 dollar AS/barel.
Jika konflik terus berlangsung, ada kemungkinan harga minyak dunia akan terus merambat naik. Apalagi, konflik ini tampaknya telah melibatkan skala geopolitik yang lebih luas lagi. Kelompok negara-negara maju yang tergabung dalam G-7, yakni Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang, memberikan dukungan keberpihakan kepada Israel. Dukungan ini disampaikan secara resmi Selasa (17/6/2025) pada agenda pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G-7 di Kanada.
Dukungan G-7 terhadap Israel itu kemungkinan tidak hanya sebatas dukungan diplomatik, tetapi tak tertutup kemungkinan akan disertai dukungan kekuatan militer. Pejabat AS melaporkan bahwa pihaknya telah mengirimkan pesawat tanker pengisi bahan bakar skala besar menuju Timur Tengah. Mereka juga mengonfirmasi bahwa kapal induk UUS Nimitz bergerak dari Laut China Selatan ke arah barat daya menuju Timur Tengah.
Baca Juga Harga Minyak Naik, Trump Desak Iran Menyerah
Langkah pergerakan militer itu seiring dengan ultimatum Presiden AS Donal Trump yang mengatakan kepada warga ibu kota Iran, Teheran, untuk segera meninggalkan kota itu. Pernyataan tersebut dilontarkan Trump saat KTT G-7. Situasi demikian mengisyaratkan adanya kemungkinan keterlibatan militer AS dalam serangan militer selanjutnya di Iran.
Lantas, apakah memanasnya konflik geopolitik itu akan berdampak serius terhadap perekonomian global? Pertanyaan itu pantas diajukan mengingat Iran merupakan salah satu negara produsen minyak yang cukup besar dan tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Minyak bumi Iran
Berdasarkan laporan Energy Institute 2024, produksi minyak Iran pada tahun 2023 sekitar 4,6 juta barel per hari. Produksi minyak ini menyumbang sekitar 4,8 persen produksi minyak dunia. Di tingkat kawasan Timur Tengah, posisi produksi minyak Iran menempati urutan kedua terbesar setelah Arab Saudi yang mampu menghasilkan produksi minyak sebesar 11,4 juta barel per hari. Di tingkatan global, produksi minyak Iran menempati urutan ke-5 setelah AS, Arab Saudi, Rusia, dan Kanada.
Jika melihat dari urutan produksi internasional, tampaknya posisi Iran sangat strategis dalam produksi energi dunia. Artinya, gejolak yang terjadi di dalam negeri Iran akan turut berdampak pada situasi global yang berkaitan dengan perdagangan ekspor energi fosil Iran.
Namun, dugaan itu sepertinya relatif kurang tepat. Pasalnya, transaksi perdagangan energi global Iran relatif terbatas pada sejumlah negara. Menurut laporan Resource Trade Earth, pada tahun 2022, ekspor energi fosil iran hanya tertuju pada sejumlah negara, yakni China, Pakistan, India, Armenia, dan Turki.
Baca Juga Konflik Israel-Iran Berisiko Kembali Picu Gejolak Pasar
Mitra dagang itu tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung terbatas pada sejumlah negara. Sempat pula Iran mengirimkan produk energi fosil ke Irak, Kenya, dan negara lain di sekitarnya. Untuk saat ini pangsa terbesar produk energi fosil mengarah ke Pakistan, Armenia, dan Turki. Artinya, komoditas energi fosil Iran hanya menyasar sejumlah negara tertentu sehingga bila dilihat secara makro global, hal itu relatif tidak terlalu berdampak di banyak negara.
Hal tersebut sedikit berbeda dengan konflik Rusia-Ukraina, di mana Rusia sebagai salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia memiliki pangsa pasar yang jauh lebih luas dan lebih besar daripada Iran. Pangsa pasar produk fosil Rusia menyasar sebagian besar Eropa, AS, Turki, China, Jepang, Korea, dan sebagian kawasan Asia lainnya.
Hal tersebut membuat harga minyak dunia langsung meroket saat awal perang Rusia-Ukraina meletus pada Februari 2022 karena terjadi kelangkaan produk di negara mitranya, apalagi disertai dengan kebijakan embargo produk Rusia ke pasar Uni Eropa. Perlu waktu cukup lama untuk menurunkan harga minyak dunia hingga di bawah 100 dollar AS per barel akibat konflik Rusia-Ukraina.
Meskipun demikian, relatif kecilnya dampak pasokan energi dari Iran ke pasar global tetap jangan dikesampingkan. Pasalnya, lokasi Iran yang berada di kawasan Timur Tengah sangat rentan memicu gejolak energi dunia tatkala menimbulkan dampak setidaknya pada produksi ataupun distribusi minyak di negara-negara kawasan Timur Tengah. Dengan total produksi minyak terbesar di dunia, yakni sekitar 30 juta barel per hari, kawasan Timur Tengah menjadi sangat rentan terdampak dari konflik tersebut dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
Apalagi, posisi geografis Iran berbatasan dengan Teluk Persia dan Teluk Oman yang menjadi urat nadi penting distribusi perdagangan energi fosil kawasan Timur Tengah. Bahkan, Selat Hormuz, yang menghubungan Teluk Persia dan Teluk Oman, berada di tangan otoritas Iran sehingga konflik yang memanas saat ini rentan memicu harga energi dunia melonjak pesat.
Baca Juga Selain Kapal Induk, Inilah Persenjataan AS di Sekitar Iran
Produsen energi besar di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman, untuk sementara waktu akan menghindari Teluk Persia dan Teluk Oman. Kemungkinan besar akan mendistribusikan lewat jalur darat dan perpipaan menuju Oman agar aman untuk dikirimkan secara global menghindari konflik di sekitar perairan Iran. Bisa pula melewati jalur darat menuju Laut Merah di daerah Arab Saudi untuk dikapalkan ke seluruh dunia. Distribusi produk ini tentu saja akan menimbulkan biaya yang lebih tinggi sehingga memicu harga energi minyak bumi akan melonjak.
Jika hal itu terjadi, kenaikan harga energi dunia akan sulit dihindari. Pasalnya, produk minyak bumi dari kawasan Timur Tengah, khususnya dari negara-negara kawasan teluk, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman, menguasai sekitar 24 persen ekspor energi fosil minyak bumi dunia.
Kawasan Asia Pasifik paling terancam
Dalam konteks kenaikan harga energi, wilayah yang minim ketahanan energinya akan mengalami dampak tekanan ekonomi yang sangat besar. Daerah yang minim sumber daya alam energi fosil akan merasakan dampak kenaikan harga-harga secara umum atau inflasi akibat kenaikan harga energi di negaranya.
Dari tujuh kawasan di dunia, hampir seluruhnya mengalami surplus produksi minyak bumi di wilayah masing-masing, kecuali kawasan Eropa dan Asia Pasifik. Kedua wilayah ini memiliki defisit produksi minyak bumi di negaranya. Artinya, jumlah konsumsi energi minyak melebihi dari kapasitas produksi minyak di kawasan bersangkutan.
Berdasarkan laporan Energy Institute 2024, wilayah Eropa mengalami defisit sekitar 9,6 juta barel per hari, sedangkan wilayah Asia Pasifik mengalami defisit lebih dari 30 juta barel per hari.
Kawasan yang mengalami surplus produksi minyak bumi terbesar di dunia adalah Timur Tengah hingga sebesar 20,17 juta barel sehari; lalu disusul wilayah Amerika Tengah dan Selatan yang mencapai 20,6 juta barel per hari; selanjutnya wilayah CIS atau bekas Uni Soviet yang surplus sekitar 9,2 juta barel sehari; serta wilayah Amerika Utara dan Afrika yang surplus masing-masing sekitar 3 juta barel per hari.
Baca Juga Demi Menyelamatkan Nyawa, Warga Teheran Mulai Mengungsi
Deskripsi data itu mengindikasikan bahwa wilayah yang paling rentan terhadap kenaikan harga energi global adalah Eropa dan Asia Pasifik. Jadi, adanya konflik yang memanas di Timur Tengah saat ini harus disikapi bijaksana oleh negara-negara di kawasan tersebut untuk menyiapkan langkah mitigasi apabila perang meluas hingga berdampak pada distribusi energi fosil di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Indonesia, sebagai salah satu negara di kawasan asia Pasifik sekaligus negara net importir minyak atau negara yang sebagian besar produk minyak buminya berasal dari impor, wajib mewaspadai situasi ini. Pemerintah harus menyiapkan skenario kebijakan fiskal dan juga moneter jika diperlukan guna mengantipasi ancaman perekonomian dari konflik tersebut.
Selain itu, pemerintah juga harus proaktif turut serta menggalang dukungan diplomasi dengan negara lain untuk mendamaikan dan mencegah eskalasi konflik lebih luas. Dengan demikian, acaman terhadap kemanusiaan di wilayah konflik serta kelesuan ekonomi dapat diantisipasi sedini mungkin. (LITBANG KOMPAS)
israel serang iran G-7 Dukung Israel KTT G-7 Harga minyak dunia gejolak ekonomi konflik geoplitik produksi minyak
Kerabat Kerja
Penulis:
Budiawan Sidik A
|
Editor:
Andreas Yoga Prasetyo
|
Penyelaras Bahasa:
Nur Adji




