Konflik Timur Tengah Dorong Inflasi dan Ancaman Kenaikan Harga BBM
Isu Nasional - RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menilai pengendalian inflasi nasional saat ini menghadapi tekanan berat dari faktor eksternal. Terutama dampak konflik global di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurut Gunawan, rilis Badan Pusat Statistik yang mencatat inflasi bulanan sebesar 0,68 persen bertepatan dengan operasi militer Amerika Serikat ke wilayah Iran yang telah melambungkan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh level US$ 78 per barel. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengancam stabilitas harga energi di dalam negeri.
“Harga BBM non-subsidi pada dasarnya akan menyesuaikan pergerakan harga minyak mentah dunia. Namun dampak perang Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berhenti pada BBM semata,” ujar Gunawan, Senin 2 Maret 2026.
Ia menjelaskan, konflik geopolitik berpeluang memicu gangguan rantai pasok global untuk berbagai komoditas strategis. Berkaca dari perang Rusia dan Ukraina, lonjakan harga komoditas pangan seperti gandum dan kedelai sempat terjadi dan berdampak luas ke banyak negara, termasuk Indonesia.
Berdasarkan pemantauan melalui Trading Economics, harga kedelai saat ini naik menjadi US$ 11,55 per bushel, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Sementara harga gandum naik ke level US$ 5,8 per bushel, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Gunawan menyebut kedua komoditas tersebut merupakan bahan baku penting bagi kebutuhan pangan di dalam negeri, mulai dari pakan ternak hingga produk olahan seperti tempe, tahu, dan roti. Kenaikan harga global berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
Ia menilai konflik di Timur Tengah membawa komplikasi yang cukup kompleks bagi pengendalian inflasi ke depan. Dalam jangka pendek, pasar global berpotensi mengalami shock pada sejumlah kebutuhan pangan utama dunia.
“Masalahnya bukan hanya pada harga komoditas yang melonjak, tetapi juga efek berantai dari harga minyak dunia yang memiliki multiplier effect besar terhadap pembentukan harga BBM di tanah air,” katanya.
Untuk itu, Gunawan menekankan pentingnya mitigasi kebijakan melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter. Dari sisi fiskal, pemerintah perlu mengatur ulang belanja agar APBN lebih tahan terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Sementara dari sisi moneter, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kunci untuk menahan tekanan inflasi.
Menurutnya, inflasi akibat konflik global memang sulit dihindari. Namun upaya untuk menekan dampaknya seminimal mungkin menjadi sangat penting demi menjaga daya beli masyarakat.




