Kontroversi Penggambaran Adeline Watkins dalam Serial Ed Gein
Sumber Foto: National Geographic Indonesia
Hiburan

Kontroversi Penggambaran Adeline Watkins dalam Serial Ed Gein

Nationalgeographic.co.id— Serial Netflix yang berjudul Monster: The Ed Gein Story, yang tayang perdana pada Oktober 2025, menggali kembali kisah horor nyata Ed Gein, seorang kriminal yang kejahatannya pada tahun 1950-an mengguncang Amerika Serikat dan menginspirasi fiksi horor.

Gein dikenal karena membunuh dua wanita dan membongkar kuburan, menggunakan bagian tubuh manusia untuk dijadikan perabotan rumah tangga.

Serial ini, yang merupakan bagian dari antologi Monster karya Ryan Murphy dan Ian Brennan, menampilkan bintang Sons of Anarchy Charlie Hunnam sebagai Gein dan Suzanna Son sebagai Adeline Watkins.

Dalam narasi serial ini, Watkins tidak hanya digambarkan sebagai kekasih Gein, tetapi juga sebagai sosok yang bejat, yang mendorong dan bahkan membantu Gein dalam kejahatan-kejahatannya, termasuk mencuri dari kuburan.

Watkins, yang cantik, seksi, ambisius, dan morbid, ditafsirkan sebagai katalis utama bagi kekerasan Gein dan pengejawantahan dari obsesi penonton terhadap true crime.

Namun, penggambaran Watkins dalam serial ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai akurasi faktualnya. Secara historis, keberadaan Watkins—yang digambarkan sebagai pasangan Gein selama dua dekade dalam wawancara awal—memang menjadi bagian misterius dari kisah "Jagal Plainfield".

Watkins, yang melangkah maju tak lama setelah Gein ditangkap pada tahun 1957, menjadi sorotan media saat ia mengklaim dirinya adalah kekasih Gein. Akan tetapi, dilansir Encyclopedia Britannica, tidak ada dasar faktual yang mendukung penggambaran Monster bahwa Watkins terlibat dalam kejahatan-kejahatan Gein.

Jika penggambaran Watkins dalam Monster tidak didukung fakta, lantas apa sesungguhnya hubungan wanita ini dengan Ed Gein, dan sejauh mana kisahnya yang "terlalu liar untuk menjadi kenyataan" itu valid?

Kontroversi seputar Adeline Watkins bermula setelah penangkapan Ed Gein pada November 1957, menyusul pengakuannya atas pembunuhan Bernice Worden (58) dan Mary Hogan (54).