MPR: Pentingnya Perkuat Ketahanan Energi Amid Ketegangan Timur Tengah
Isu Nasional - Jadi intinya...
Konflik Timur Tengah mengancam stabilitas ekonomi global dan Indonesia.
Dampak meliputi pasokan energi, jalur perdagangan, inflasi, dan biaya BBM.
Indonesia harus perkuat ketahanan energi, ekonomi, dan diplomasi aktif.
Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), prihatin atas meningkatnya eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ia menilai ketegangan di Timur Tengah dapat memperburuk ketidakpastian geopolitik dan mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Menurut Ibas, konflik di kawasan penghasil energi dunia membawa risiko besar bagi pasokan energi, jalur perdagangan internasional, serta inflasi global. Tak terkecuali Indonesia.
"Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia,” kata Ibas seperti dikutip dari siaran pers, Rabu (4/3/2026).
Ibas menyoroti posisi strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dan LNG dunia. Menurutnya, gangguan di kawasan tersebut dapat memicu supply shock global. Ibas pun mewanti terhadap dampaknya kepada Indonesia.
"Bagi Indonesia, ini ancaman nyata terhadap biaya industri dan ketersediaan BBM,” wanti Ibas.
Ibas menambahkan, gangguan jalur pelayaran di Timur Tengah juga diprediksi meningkatkan biaya logistik dan asuransi pengiriman. Efek berantai dikhawatirkan mempersempit ruang gerak sektor manufaktur dalam negeri karena naiknya harga bahan baku impor.
"Indonesia, sebagai pengimpor minyak, sangat rentan terhadap lonjakan harga energi dunia, dampaknya dapat berupa tekanan pada APBN, lonjakan inflasi, melemahnya daya beli, serta hambatan ekspor-impor. Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan tepat sasaran,” tegasnya.
Perkuat Fondasi Energi
Ia menilai pemerintah perlu memperkuat fondasi energi dan ekonomi nasional agar tetap tangguh menghadapi gejolak global.
Ada tiga langkah strategis dicatat Ibas. Pertama, penguatan ketahanan energi melalui percepatan pengembangan EBT, diversifikasi sumber impor, dan peningkatan produksi energi domestik.
Kedua, menjaga stabilitas ekonomi dan perlindungan masyarakat melalui pengendalian harga pokok dan penguatan UMKM. Ketiga, diplomasi aktif.
“Dalam situasi global yang sulit, perlindungan terhadap rakyat harus menjadi prioritas utama. Termasuk mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan memperkuat posisi di forum internasional sebagai bagian dari solusi,” ujar legislator dari Jawa Timur VII tersebut.
Ibas menegaskan Indonesia harus terus menetapkan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang berarti berpihak pada perdamaian dan keadilan.
“Di tengah gejolak geopolitik global, Indonesia harus berdiri teguh sebagai jangkar stabilitas dan suara moral bagi perdamaian dunia,” dia menandasi.




