Najasyi dan Pembelaan Terhadap Para Muhajir di Habasyah
Setelah beberapa waktu di Mekkah, para muhajir awal mengambil keputusan strategis untuk kembali ke Habasyah. Mekkah memang menyimpan memori, silsilah, dan ikatan darah, namun Habasyah menawarkan sesuatu yang lebih mendasar bagi kelangsungan hidup manusia yaitu rasa aman dan tenang. Ada sekitar 80 orang yang memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.
Angka 80 orang lebih ini setara dengan lebih dari 10% populasi kota Mekkah. Dalam perspektif sosiologi politik, kehilangan sepuluh persen penduduk dalam waktu singkat mengguncang struktur sosial. Tenaga produktif berkurang, jaringan kekerabatan terputus, dan wibawa elite terancam.
Bayangkan sebuah korporasi modern atau negara kecil yang kehilangan 10% talenta terbaiknya dalam semalam karena ketidakpuasan sistemik. Secara historis, fenomena ini mirip dengan Brain Drain sekitar tahun 1950-an yang dialami Jerman Timur sebelum runtuhnya Tembok Berlin, di mana eksodus kaum profesional melemahkan fondasi ekonomi negara.
Migrasi besar-besaran menunjukkan kegagalan penguasa menyediakan keamanan. Dalam budaya tribalisme Arab, tindakan semacam ini dibaca sebagai pembangkangan terbuka. Quraisy merespons dengan diplomasi tekanan. ʿAmr bin al-ʿAsh yang waktu itu belum masuk Islam dikirim ke Habasyah untuk melobi penguasa setempat agar para muhajir segera dipulangkan.
Habasyah berada di bawah kepemimpinan Najasyi. Tahukah kamu, “Najasyi” itu bukan nama orang, melainkan sebuah gelar politik. Nama aslinya Ashamah. Gelar tersebut berfungsi seperti Kaisar di Romawi, Kisra di Persia, Firaun di Mesir kuno, atau Presiden di negara modern. Peradaban besar sering mempersonifikasikan kekuasaan dalam simbol untuk menciptakan kesan kesinambungan yang melampaui usia manusia. Individu bisa mati, namun “Kaisar” atau “Najasyi” harus tetap ada sebagai jangkar stabilitas hukum dan identitas kerajaan. Dengan cara ini, kerajaan tampak abadi, meskipun rajanya silih berganti.
ʿAmr bin al-ʿAsh dan rekannya membawa hadiah dari Mekkah dan mendistribusikannya kepada para menteri istana. Diplomasi hadiah telah menjadi bahasa universal kekuasaan sejak zaman kota-kota Sumeria hingga istana Dinasti Tang. Pesan yang disampaikan sederhana. Di negeri ini terdapat kelompok pembangkang dan orang orang bodoh yang baru saja datang dari Mekkah. Para utusan Quraisy berharap dukungan kerajaan Habasyah untuk memulangkan mereka.
Keesokan hari, tuduhan ‘Amr disampaikan langsung kepada Najasyi. ʿAmr berkata: “Sejumlah pemuda bodoh dari kaum kami telah hijrah ke negeri Anda. Mereka meninggalkan agama kami, tetapi juga tidak memeluk agama Anda. Para pemimpin kami mengutus kami agar Anda mengembalikan mereka kepada kami supaya kami dapat menangani mereka.”
Strategi ini memanfaatkan kecurigaan penguasa terhadap kelompok liminal. Beberapa menteri mendukung tuntutan Quraisy. Namun Najasyi menolak keputusan tergesa-gesa: “Tidak, demi Allah, aku tidak akan mengembalikan mereka setelah mereka memilih negeriku. Setidaknya aku akan mendengarkan mereka.”
Saat Jaʿfar bin Abi Thalib berdiri di hadapan dewan kerajaan. Ia tidak bersujud kepada raja. Tindakan ini dalam sudut pandang protokol istana dipahami sebagai penghinaan serius. Namun penghormatan fisik diganti dengan kejujuran intelektual. Ia menjelaskan bahwa agama Islam hanya mengizinkan sujud kepada Tuhan semata.
Najasyi kemudian bertanya tentang agama yang dianut dan alasan meninggalkan masyarakat asal. Jawaban Jaʿfar membentangkan narasi transformasi moral. Dunia jahiliah digambarkan sebagai ruang sosial yang ditandai kekerasan, ketimpangan, dan kerusakan hubungan antar individu. Kehadiran Nabi membawa etika baru yang menata ulang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan kekuasaan.
Najasyi bertanya, “Apakah kalian memiliki wahyu yang diturunkan kepada Nabi kalian?” Jaʿfar membacakan ayat-ayat Surah Maryam tentang Isa. Najasyi menangis dan berkata, “Demi Tuhan, bacaan ini dan risalah Musa berasal dari sumber yang sama.” Ia pun dengan tegas menolak tuntutan Quraisy dan memerintahkan mereka pergi.
Namun delegasi Quraisy tidak menyerah. Momen paling krusial terjadi keesokan harinya ketika ʿAmr mencoba memicu konflik teologis mengenai posisi Isa Al-Masih. Ia memanfaatkan sentimen keagamaan, menuduh Muslim menghina Isa. “Wahai Kaisar Suci, kami lupa menyebutkan satu hal lagi: orang-orang ini mengatakan sesuatu yang menghujat tentang Tuhan Anda, Isa Al-Masih.”
Najasyi memanggil kembali para Sahabat dan bertanya: “Apa yang kudengar tentang pandangan kalian yang menghujat Isa Al-Masih?” Jaʿfar menjawab: “Yang Mulia, kami mengatakan apa yang diajarkan Nabi kami: bahwa Isa Al-Masih adalah Nabi Allah, hamba Allah, dan ruh yang dilahirkan dari Maryam, perawan yang suci.”
Najasyi mengambil sebatang ranting dan berkata: “Demi Tuhan, apa yang kalian katakan tidak melebihi apa yang dikatakan Isa Al-Masih sebesar ranting ini.” Ia berpaling kepada ʿAmr dan berkata: “Pergilah dari sini dan bawalah hadiah-hadiahmu, karena aku tidak membutuhkannya.”
Keputusan ini mengguncang stabilitas internal istana. Najasyi telah mengirim pesan kepada kaum Muslim yang ada di Habasyah bahwa situasi kerajaan tidak stabil dan kemungkinan pembunuhan terbuka, serta menyiapkan kapal sebagai jalur evakuasi.
Hal tersebut karena sikapnya yang melakukan pembelaan terhadap kaum Muslim memicu kecurigaan sebagian menteri dan rencana kudeta mulai beredar. Najasyi menanggapi situasi ini dengan menulis di selembar perkamen, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Isa adalah ruh Allah, kalimat Allah, dan hamba Allah.” Perkamen tersebut disimpan di dalam jubah dekat dada.
Najasyi memanggil para menteri dan bertanya, “Apakah aku bukan raja yang baik bagi kalian?” Jawaban yang muncul berbunyi, “Benar, tetapi engkau telah meninggalkan agama kami dan memiliki keyakinan sesat.” Najasyi bertanya kembali, “Apa yang kalian yakini?” Para menteri menjawab, “Kami meyakini Isa Al Masih sebagai anak Tuhan, Tuhan dan Juru Selamat kami, dan bagian ketiga dari trinitas.” Najasyi berkata, “Demi Tuhan, ‘inilah’ yang aku yakini.”
Menurut para sejarawan, kata “inilah” yang diucapkan Najasyi ini mengandung tawriyah. Makna yang dimaksud merujuk pada perkamen yang tersembunyi di dada. Strategi semacam ini dikenal luas dalam sejarah kekuasaan, ketika bahasa ambigu digunakan untuk menjaga keyakinan sekaligus melindungi posisi politik.
Ancaman itu tidak berhenti pada intrik istana. Dari faksi lain, api perang saudara di kerajaan Habasyah perlahan menyala, lalu benar-benar meletus. Di tengah ketegangan itu, kaum Muslim di Habasyah hidup dalam kegelisahan yang senyap. Nasib mereka terasa sepenuhnya bergantung pada Najasyi.
Ummu Salamah mengenang suasana hari-hari itu sebagai masa penuh ketakutan dan harap yang bercampur. Ia berkata, “Kami khawatir Najasyi akan dikalahkan dan digantikan oleh orang lain. Kami pun berdoa kepada Allah agar Najasyi menang dan tetap berkuasa.”
Doa-doa itu mengalir seiring kabar pertempuran yang belum jelas ujungnya. Kekalahan Najasyi bukan sekadar pergantian penguasa, tetapi bisa berarti runtuhnya perlindungan terakhir bagi para muhajirin. Untuk berjaga-jaga, Zubair bin al-ʿAwwam mengambil peran berbahaya. Ia mengamati jalannya pertempuran dari kejauhan, agar jika kekuasaan Najasyi benar-benar tumbang, kaum Muslim bisa segera melarikan diri.
Hari-hari terasa panjang. Kecemasan menebal, dan doa-doa pun semakin sungguh-sungguh. Ummu Salamah kembali mengingat, “Kami berdoa kepada Allah dengan doa yang sangat sungguh sungguh, ‘Ya Allah, tetapkanlah Najasyi dalam kekuasaannya dan berilah ia otoritas di negeri ini.’”
Lalu, setelah beberapa hari yang menegangkan, Zubair kembali. Wajahnya membawa kabar yang selama ini ditunggu. Dengan suara lantang ia berseru, “Bergembiralah, Najasyi telah menang!” Sorak kegembiraan pun pecah. Bagi kaum Muslim di Habasyah, kemenangan itu bukan sekadar hasil perang politik, melainkan perpanjangan usia bagi rasa aman.
Setelah kabar kemenangan Najasyi tersebut, para Sahabat tetap tinggal di Habasyah selama lebih dari 10 tahun, bahkan ketika negara Islam di Madinah sudah berdiri kokoh. Mereka tidak hadir dalam deru debu Perang Badar, tidak pula di Uhud atau Khandaq. Baru setelah kemenangan di Khaibar, Nabi memanggil mereka pulang.
Mengapa Nabi membiarkan para Sahabat di sana begitu lama? Inilah bentuk perencanaan yang sangat matang. Nabi menyadari bahwa sejarah penuh dengan ketidakpastian. Jika suatu saat Madinah jatuh atau dihancurkan oleh musuh, peradaban Islam tidak akan punah karena benihnya telah ditanam dengan aman di bawah perlindungan Najasyi.
Namun, di balik semua perhitungan politik dan diplomasi tersebut, sebuah teka-teki besar tetap menggantung di koridor sejarah. Apakah Najasyi benar-benar seorang Muslim saleh ataukah pemeluk Kristen taat? Apakah salat ghaib yang satu-satunya Nabi lakukan ketika Najasyi meninggal adalah pengakuan atas akidahnya; ataukah itu merupakan bentuk penghormatan tertinggi bagi seorang kawan yang menjaga cahaya Islam saat hampir padam di padang pasir?
Kita tidak pernah tahu.
Ibn Kathīr, al-Bidāyah wa al-Nihāyah.
Ibn Isḥāq, al-Sīrah al-Nabawiyyah.
Abū Nuʿaym al-Iṣfahānī, Ḥilyah al-Awliyā’.
Aḥmad ibn Ḥanbal, Musnad al-Imām Aḥmad.
Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.




