Pengumuman Kenabian: Momen Bersejarah di Mekkah
Sumber Foto: Muhammadiyah
Hiburan

Pengumuman Kenabian: Momen Bersejarah di Mekkah

Tiga tahun setelah wahyu awal “Bacalah”, sebuah era baru terbit di Mekkah. Sebuah pesan yang selama ini dibisikkan dalam lingkup privat kini harus diteriakkan ke hadapan publik. Peristiwa ini, pada intinya, mencerminkan pola universal dalam sejarah peradaban. Setiap ide revolusioner, agar dapat bertahan, mesti bergerak dari sekte rahasia menjadi gerakan massal.

Pikirkan lingkaran diskusi Marxis awal yang bertemu di kedai-kedai London sebelum merebut kekuasaan di Rusia; atau klub-klub Jacobin rahasia yang tersebar di Paris sebelum Revolusi Prancis meledak. Gagasan-gagasan radikal tentang struktur sosial atau politik harus keluar dari ruang gelap dan merebut tempat umum agar menjadi kekuatan yang bertenaga.

Namun yang membedakannya dengan dakwah Nabi adalah sumber perintahnya. Gerakan perubahan biasa lahir dari pemikiran manusia, sedangkan Rasulullah langsung dari wahyu. Dalam QS al-Hijr ayat 94, “Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan kepadamu, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” Ayat lain dalam QS al-Syuʿaraʾ ayat 214, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”

Perintah ini tidak terbatas pada keluarga dekat Nabi saja, melainkan mencakup seluruh kaum Quraisy, meski dengan penekanan khusus kepada kerabat terdekat. Nabi pun memulai dari kabilahnya sendiri, Bani Hasyim, yang terdiri dari paman-paman dan bibi-bibinya.

Strategi dimulai dengan pendekatan personal melalui jamuan makan. Nabi Saw meminta ʿAli ibn Abu Thalib, yang saat itu masih sangat muda, untuk menyiapkan kudapan bagi para tamu yang hadir. Sekitar 40 kerabat dan anggota kabilah diundang. Makanan yang disajikan diberkahi, sebab meskipun mereka makan dari satu piring, seluruh hadirin kenyang.

Pendekatan ini mengingatkan kita pada tradisi diplomasi modern di mana pertemuan penting sering dilakukan dalam suasana santai sambil makan bersama. Para akademisi menyebut ini sebagai diplomasi kuliner (Culinary Diplomacy). Diplomasi semacam ini menciptakan keintiman dan membangun ikatan emosional sebelum pesan penting disampaikan.

Deretan Presiden Amerika Serikat selalu melakukan pola diplomasi ini. Barack Obama sering mengundang senator yang beroposisi ke Gedung Putih untuk makan malam pribadi, yang dikenal sebagai ‘Dinner with the President’, sebelum melakukan negosiasi yang sulit. Ini sebagai cara untuk melunakkan perbedaan pandangan dalam suasana yang lebih cair.

Karena kemampuannya membangun jembatan emosional melalui makanan ini, harus diakui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang diplomat ulung. Namun setiap pertemuan elite menghadapi risiko pengkhianatan. Abu Lahab, dengan naluri politikus berpengalaman, mencium situasi ini sebagai ancaman terhadap status quo. Dia dan beberapa pengikutnya memilih keluar.

Ketidakhadiran yang disengaja oleh Abu Lahab ini merupakan gambaran abadi tentang bagaimana oposisi sering menggunakan taktik penghindaran halus sebelum konfrontasi terbuka. Dalam konteks diskusi dan perdebatan ideologis, taktik ini kerap terlihat. Di Indonesia, misalnya, seorang intelektual publik seperti Rocky Gerung pernah melakukan walk out dari sebuah acara talkshow karena merasa muak dan mual dengan lawan debatnya.

Perbandingan semacam ini tentu bukan untuk menyamakan pribadi-pribadi yang terlibat. Obama tidak sedang menegakkan sunah Nabi Saw, dan Rocky Gerung tidak sedang menapaki jejak Abu Lahab. Analogi ini menunjukkan bagaimana pola sosial dan psikologis manusia melintasi ruang dan waktu. Sejak zaman Hammurabi hingga era Donald Trump, para pemimpin memahami kekuatan makanan sebagai alat diplomasi, sementara penentang memilih walk out sebagai bentuk perlawanan simbolis.

Melihat siasat simbolis Abu Lahab itu, Nabi Muhammad mengadakan pertemuan serupa beberapa hari kemudian. Kali ini, tanpa ragu, pengumuman publik itu disampaikan. Nabi berdiri dan memulai dengan memuji dan meminta pertolongan Allah. Setelah itu Nabi melanjutkan, “Wahai Bani ʿAbdul Muthalib, aku tidak mengetahui ada orang Arab sebelumku yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih baik daripada yang aku bawa kepada kalian.”

Kemudian beliau menyampaikan risalah kenabiannya. Itulah pertama kalinya kenabian diumumkan secara terbuka di hadapan khalayak. Abu Lahab tampak terganggu, lalu berdiri dan berkata kepada mereka yang hadir, “Wahai Bani ʿAbdul Muthalib, demi Allah, seruan ini tercela. Hentikan dia sebelum orang lain melakukannya. Jika tidak, kalian akan menerima Islam—yang menurut kalian memalukan—atau kalian nanti akan menentangnya dan terbunuh.”

Tak lama kemudian, Nabi menyampaikan seruannya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah. Beliau naik ke Bukit Safa (yang kini jauh lebih kecil karena erosi). Seorang laki-laki hanya akan naik ke sana jika hendak menyampaikan pengumuman besar. Nabi berseru dan memanggil setiap kabilah: “Wahai Bani Fihr! Wahai Bani ʿAdiyy!” dan seterusnya. Orang-orang pun berdatangan berkelompok, sementara yang tak dapat hadir mengutus wakilnya.

Nabi lalu bertanya, “Jika aku katakan kepadamu bahwa pasukan berkuda datang dari lembah di balik gunung ini untuk menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?” Mereka menjawab, “Tentu! Kami tak pernah mendengar engkau berdusta.” Nabi kemudian berkata, “Kalau begitu, ketahuilah bahwa aku adalah pemberi peringatan akan datangnya azab yang berat.”

Dari puncak Safa itu, seruan Nabi bergema. Suaranya menjangkau setiap sudut kota, menyeru manusia kepada penyembahan tunggal terhadap Allah. Yang mengejutkan, Nabi memulai dari kelompok terjauh dalam peta sosial kesukuan. “Wahai Bani Ka’b bin Luay,” serunya, “selamatkanlah diri kalian dari api neraka, sebab aku tidak akan dapat menolong kalian pada Hari Kiamat.” Kalimat yang sama bergulir kepada Bani Murrah bin Ka’b, kemudian Bani Abdu Manaf, dan seterusnya.

Ketika tiba pada Bani Hasyim, seruan berubah menjadi sangat personal dan menghunjam. Setiap nama disebut satu per satu: “Wahai Hamzah bin Abdul Muthalib… Wahai Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibiku… Wahai Fatimah binti Muhammad, putriku…” Setiap penyebutan nama diikuti peringatan yang sama tentang neraka dan keterbatasan Nabi menolong mereka di akhirat.

Di tengah kesakralan momen itu, Abu Lahab bangkit dengan wajah memerah. Tangannya menggenggam pasir, lalu melemparkannya ke arah Nabi dengan gerakan penghinaan. “Celaka engkau! Hanya untuk inikah kau kumpulkan kami?” teriaknya. Sikap ini mengukuhkan posisinya sebagai penentang paling keras dalam sejarah Islam awal.

Tak lama kemudian, wahyu turun sebagai jawaban atas penghinaan itu: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan binasalah dia! Tidak berguna baginya harta bendanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala, dan istrinya, pembawa kayu bakar berduri, di lehernya ada tali dari serat api.” (QS al-Lahab: 1–5).

Setelah peristiwa-peristiwa dramatis ini, kamu dapat membayangkan bagaimana Nabi mulai berkhotbah secara terbuka di seantero Mekkah. Di pelataran Ka’bah yang suci, di sudut-sudut pasar yang ramai, di setiap tempat berkumpulnya manusia. Bahkan di perbatasan kota, Nabi menanti kedatangan jamaah haji dari berbagai penjuru Arab untuk menyampaikan ajaran tauhid.

Dakwah Rasulullah pun menjadi terang bagi semua orang, dan dengan itu, perlawanan menjadi tak terhindarkan. Selanjutnya, kamu akan melihat bagaimana permusuhan ini dimulai dari kekerasan verbal meningkat menjadi kekerasan fisik.

Dari sini, kamu akan menyaksikan bagaimana sebuah sekte kecil pengikut kebenaran yang tampak rintih di awal beranjak menjadi gerakan publik yang mengubah arah sejarah manusia.

Referensi:

ʿAbdurrahman ibn Abi Bakr al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsūr fī al-Tafsīr bi al-Ma’tsūr, Beirut: Dār al-Fikr, 1432/2011, vol. 6, hlm. 328-329.

Agung Sandy Lesmana, “Alasan Walk Out Acara TV karena Muak, Rocky Gerung: Forum Pencari Sensasi dan Hasilkan Kedangkalan”, , diakses pada 05 November 2025.

Alex Prud’homme, Dinner with the President: Food, Politics, and a History of Breaking Bread at the White House, New York: Knopf Doubleday Publishing Group, 2023.

Ibn Jarir al-Thabari, Tārīkh al-Rusul wa al-Mulūk, vol. 2, hlm. 319-321.

Muhammad ibn Yusuf al-Salihiī, Subul al-Hudā wa al-Rasyād fī Sīrah Khayr al-ʿIbād, Kairo: al-Majlis al-Aʿlā li al-Syu’ūn al-Islāmiyyah, 1418/1997, vol. 2, hlm. 432.

Óscar Cabral, Luís Lavrador, Pablo Orduna, Raquel Moreira, “Gastronomy as a diplomatic tool: A systematic literature review”, International Journal of Gastronomy and Food Science, vol. 38. https://doi.org/10.1016/j.ijgfs.2024.101072.