Salma Kyana: Dari Luka Batin Menuju Ruang Aman Kesehatan Mental
Isu Nasional - Tekanan akademik, perundungan, dan media sosial membentuk perjalanan refleksi Salma.
Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Friska Yolandha
Founder Mengenal Diri, Salma Kyana (kanan) bersama Musisi, Danilla Riyadi (kiri) dan Psikolog UI, Edward Andriyanto (tengah) saat sesi talkshow dalam acara Out Loud, Talkshow and Healing Experiences di Aula FISIP UI, Depok, Jawa Barat, Kamis (26/2/2026). Republika bersama Badan Konseling Mahasiswa (BKM) FISIP UI menggelar talkhsow terkait mental health dengan tema Grow Through What You Go Through yang diharapkan menjadi sarana edukasi sekaligus ruang aman bagi penyintas untuk berbagi kisah dan pengalaman dalam menghadapi kondisi kesehatan mental.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Yayasan Mengenal Diri Indonesia Salma Kyana, mengisahkan luka perundungan yang ia alami sejak remaja. Luka batin ini menjadi titik awal lahirnya komunitas kesehatan mental anak muda yang kini telah berjalan enam tahun dan menjangkau ribuan orang melalui ruang-ruang berbagi yang aman dan gratis.
Salma mengatakan, Mengenal Diri bermula dari kegelisahan pribadinya yang merasa tidak pernah cukup.
Baca Juga
Fiskal Jabar Turun Rp3 Triliun, KDM Ajukan Pinjaman Rp2 Triliun
Psikolog Sebut Overthinking Bisa Berakar dari Trauma Masa Kecil
Legislator Jakarta Dorong Kopdes dan UMKM Jadi Pilar Distribusi Kebutuhan Pokok
“Sebenarnya awalnya aku adalah orang yang sangat tidak mengenal diri. Kita pasti bikin sesuatu dari apa yang jadi keresahan kita,” ujarnya di rangkaian kegiatan Out Loud Republika, talkshow dan healing experience bertajuk "Grow Through What You Go Through, Kamis (26/2/2026).
Ia mengakui tekanan akademik hanya menjadi pemicu, sementara akar persoalannya adalah luka lama yang baru ia sadari setelah proses refleksi panjang sejak 2020, saat menjelang kelulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ia menceritakan, perundungan yang dialaminya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama merusak citra diri dan persepsinya terhadap tubuhnya. Saat itu ia kerap diejek terkait penampilan fisik.
“Itu sangat merusak citra diri aku, body image aku,” katanya.
Dampaknya tidak berhenti di masa sekolah. Hingga SMA dan kuliah, ia mengembangkan mekanisme koping dengan mencari validasi dari luar. Menurut Salma, ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak cukup baik.
“Aku nggak cukup cantik, nggak cukup pinter, nggak pantas dicintai, not good enough, selalu merasa not good enough,” ujarnya.
Keyakinan itu mendorongnya menjadi overachiever, mengejar lomba, sertifikat, dan penghargaan demi tepuk tangan dan pengakuan. Bahkan, ada masa ketika ia menangis hanya karena merasa tidak memiliki pencapaian dalam satu pekan.
Fenomena itu, kata dia, diperparah oleh media sosial yang memperluas ruang perbandingan sosial. Jika dahulu orang membandingkan diri dengan teman sebaya, kini perbandingan terjadi dengan orang asing yang hanya menampilkan sisi terbaiknya.
Ia menyebut lini masa media sosial sebagai highlight reels yang membuat seseorang mudah merasa tertinggal dalam pencapaian, relasi, hingga fase kehidupan seperti pernikahan atau memiliki anak.
Titik balik terjadi ketika ia didiagnosis Vitiligo, kondisi autoimun yang menyebabkan hilangnya pigmen kulit dan tidak dapat disembuhkan. Gejala itu muncul pada akhir 2018 hingga awal 2019.
Bercak putih di kulitnya memaksanya berhenti berlari dari diri sendiri. “Validasi eksternal itu bisa memberikan kepuasan sesaat. Tapi begitu ada momen di mana aku cuma sendirian, aku jadi mempertanyakan, who am I without this?” katanya.
Ia menyadari ketergantungan pada pencapaian dan relasi romantis sebagai sumber harga diri tidak sehat. Salma mengaku pernah merasa harus selalu memiliki pasangan agar merasa pantas dicintai.
Ikuti Whatsapp Channel Republika
Advertisement
Salma Kyana
Mengenal Diri
kesehatan mental
perundungan
vitiligo
anak muda
Out Loud Republika
Yayasan Mengenal Diri Indonesia
literasi kesehatan mental
Berita Terkait
News - 22 May 2026, 20:47
Gen Z Diingatkan Bahaya Pinjaman Online
Ameera - 18 May 2026, 10:29
Kurang Tidur Bikin Tubuh Jauh Lebih Tua dari Usia Asli?
Ameera - 15 May 2026, 12:41
Tips Liburan Antistres Bersama Anak ala Psikolog
News - 15 May 2026, 12:03
Tindakan di Medsos Ini Ternyata Bisa Dijerat UU ITE dan Denda Berat
Ameera - 11 May 2026, 14:15
Rachel Amanda: Film Monster Pabrik Rambut 'Relate' Sama Pekerja Indonesia
Ameera - 08 May 2026, 13:49
Ukuran kenyamanan Kaum Muda Sekarang Dinilai Alami Pergeseran
Kolom - 05 May 2026, 16:06
Guru Sejahtera, Sekolah Sehat: Fondasi Pendidikan Berkualitas
Ameera - 05 May 2026, 14:59
Perempuan Kulit Hitam Cenderung Alami Perimenopause Lebih Awal
Berita Lainnya
Khazanah - Rabu , 27 May 2026, 22:19 WIB
Puluhan UMKM Binaan LPEU MUI Dilatih untuk Berakselerasi pada Era Keuangan Digital
Khazanah - Rabu , 27 May 2026, 21:40 WIB
LDII: Kurban Perkuat Solidaritas Sosial
Khazanah - Rabu , 27 May 2026, 19:58 WIB
Konflik Teluk Picu Biaya Umrah-Haji Naik, Ini Strategi Marco Travel
Khazanah - Rabu , 27 May 2026, 17:06 WIB
Pisau Nabi Ibrahim dan Dunia yang Kehilangan Rasa
Khazanah - Rabu , 27 May 2026, 16:50 WIB
Kiai Muda Ini Jelaskan Hukum Qurban Pakai APBN, Boleh Asalkan....




