Taktik Kaum Quraisy dalam Menghadapi Dakwah Nabi Muhammad
Sumber Foto: Muhammadiyah
Hiburan

Taktik Kaum Quraisy dalam Menghadapi Dakwah Nabi Muhammad

Kaum Quraisy sudah kehabisan akal. Mereka sudah mencoba menyebut Muhammad gila. Tidak mempan. Mereka sudah menyebutnya penyair. Tidak mempan. Mereka sudah menyebutnya pendusta. Tetap tidak mempan juga. Pembunuhan karakter itu tidak berjalan dengan baik. Mereka harus terus memutar otak atau perlahan-lahan kehilangan pengikut.

Setiap hari, orang-orang biasa, perempuan-perempuan, para budak, jajaran pemuda miskin, bahkan beberapa bangsawan mulai masuk Islam diam-diam. Mereka semua bersyahadat. Fondasi sosial kota dagang Mekkah abad ke-7 yang dibangun di atas 360 berhala mulai retak. Beberapa kaum elite Quraisy mulai merasakan kepanikan.

Setelah upaya menjatuhkan karakter itu kandas, kaum Quraisy beralih ke langkah kedua yang paling diandalkan oleh sistem kekuasaan mana pun, yaitu kompromi teologis. Mereka mencari win-win solution untuk mempertahankan tatanan sosial yang ada sambil mengakomodasi sedikit tuntutan ideologis yang baru. Tawaran itu datang dalam bentuk usulan “berbagi agama”: satu hari untuk Allah, satu hari untuk berhala.

Bayangkan skenario ini: Satu hari kita semua sembah Allah saja, tanpa berhala. Ritualnya mengikui Nab Saw. Hari berikutnya kita semua kembali seperti nenek moyang Mekkah kuno yaitu menyembah Latta, Uzza, Hubal, dan yang lain. Bergantian. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Sepanjang hari diisi dengan prosesi doa bersama.

Sebagai keyakinan baru, tawaran seperti ini tampak impresif. Berdoa bersama-sama secara lintas iman seolah indah dan menggiurkan sekali. Ini menunjukkan betapa pengaruh Nabi di Mekkah sangat diperhitungkan. Bagi pemimpin yang mengejar kekuasaan dan pengaruh, tawaran itu bisa terlihat menggoda. Tetapi Nabi menolaknya.

Nabi memahami bahwa usulan peleburan dua sistem keyakinan itu sama sekali bukan jalan tengah, melainkan strategi perlahan untuk mengikis kemurnian tauhid. Jika beliau menyetujui skema seperti itu, batas antara iman dan kemusyrikan akan kabur, dan dalam jangka panjang Islam akan larut menjadi keyakinan baru yang kehilangan inti ajarannya. Mengubah monoteisme yang absolut menjadi sinkretisme yang kabur. Tidak jelas.

Menanggapi proposal kaum Quraisy yang sarat kepentingan itu, Allah menurunkan QS Al-Kafirun ayat 1-6: “Katakanlah, wahai orang-orang kafir! Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian pun tidak menyembah apa yang aku sembah. Aku tidak akan pernah menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian pun tidak akan pernah menyembah apa yang aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.”

Prinsip dalam ayat di atas sangat relevan sepanjang zaman. Jika tetangga yang beragama Kristen meminjam meja untuk perayaan Natal, kita akan berikan. Itu adalah ranah kemanusiaan dan teknis. Akan tetapi, jika kamu diajak bergabung dalam ritual peribadatan mereka di gereja, kamu bisa menolak dengan halus, dan berkata, “Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah”; sambil berpegangan teguh pada prinsip, “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.”

Ketika tawaran kompromi teologis itu gagal, Quraisy kemudian bertanya apa yang diinginkan Nabi agar dakwah itu dihentikan. Nabi menjawab bahwa beliau menginginkan satu pernyataan dari mereka, lalu Abu Jahl menjawab dengan gembira, “Kami akan memberikan sepuluh!” Nabi menjelaskan bahwa pernyataan itu adalah kalimat syahadat: Tiada tuhan selain Allah. Mereka pun menolak.

Pada tahap berikutnya, setelah berbagai upaya tekanan dan kompromi kandas, dinamika antara Quraisy dan Nabi memasuki babak baru. Para pemuka kota mencari cara lain untuk menghentikan dakwah yang terus menyentuh hati banyak orang. Mereka memahami bahwa pendekatan frontal tidak berhasil dan bahwa pengaruh Nabi di Mekkah semakin sulit dibendung.

Akhirnya kaum Quraisy beralih ke strategi berikutnya yang biasa dipraktekkan kaum bangsawan, yaitu penyuapan material. Ini adalah keyakinan universal para elite bahwa setiap idealisme memiliki harga yang tidak murah. Mereka beroperasi di bawah asumsi bahwa manusia pada dasarnya termotivasi oleh insentif biologis dan material.

Di era modern, pola yang mirip dengan taktik Quraisy itu dapat terlihat dalam cara sejumlah penguasa dan korporasi besar mencoba membungkam suara kritis. Aktivis lingkungan seperti Ken Saro-Wiwa di Nigeria pernah ditawari fasilitas dan kerja sama agar menghentikan kritiknya terhadap praktik eksploitasi perusahaan minyak; para jurnalis investigasi di berbagai negara juga kerap didekati lewat “penawaran halus” berupa posisi konsultan, akses istimewa, atau honor besar agar liputannya menjadi lebih lunak.

Situasi seperti ini tidak asing dalam konteks Indonesia. Perhatikan bagaimana banyak mantan aktivis kampus yang dahulu vokal mengkritik pemerintah, tiba-tiba kehilangan suara kritisnya setelah ditawari jabatan prestisius seperti staf ahli menteri, komisaris BUMN, atau posisi strategis lainnya. Mekanisme kooptasi ini adalah senjata ampuh sistem kekuasaan yang mengubah potensi ancaman menjadi bagian dari kelompok penguasa.

Dengan pola yang mirip, lihatlah kelakuan Utbah ibn Rabi‘ah, seorang tokoh senior Quraisy dan paman jauh Nabi, mendatangi beliau atas nama dewan Mekkah. Utbah memulai dengan mencoba menyentuh sentimen kekerabatan: “Wahai keponakanku, engkau tahu nasab dan kedudukanmu; engkau cucu ‘Abdul Muthalib dan putra ‘Abdullah. Engkau membawa perkara yang telah membuat kekacauan di tengah-tengah kami. Wahai Muhammad, apakah engkau lebih baik dari ‘Abdul Muthalib? Apakah engkau lebih baik dari ‘Abdullah?” Nabi tidak menjawab, karena memahami tidak ada hikmah dalam merespons pertanyaan retoris itu.

Utbah melanjutkan, melukiskan dampak sosial yang mengerikan dari dakwah itu: “Kami belum pernah melihat seorang pemuda sebaik dirimu berubah secepat ini dan membawa begitu banyak mudarat bagi kaum kami. Orang-orang Arab menertawakan kami, engkau menimbulkan perpecahan, dan kita berada di tepi perang saudara.”

Kemudian Utbah meluncurkan paket penawaran yang lengkap dari harta, kekuasaan, perempuan, dan bahkan perawatan medis, semuanya ditujukan untuk mengukur batas material komitmen Sang Nabi. “Kami memiliki sejumlah usulan yang mungkin membuatmu tertarik. Jika engkau menginginkan harta, kekuasaan Quraisy telah diberikan kepadaku untuk memberimu kekayaan lebih besar dari siapa pun; engkau akan menjadi orang Arab terkaya. Jika engkau menginginkan kekuasaan, kami akan menjadikan engkau raja kami. Jika engkau menginginkan perempuan, pilih siapa saja dan kami akan memastikan dia menikah denganmu. Jika engkau merasa sakit, kami akan membayar tabib terbaik untuk mengobatimu.”

Nabi menunggu hingga Utbah selesai berbicara, lalu bersabda, “Sudah selesai, wahai Abu al-Walid?” Utbah menjawab ya, dan Nabi berkata, “Sekarang dengarkan aku.” Nabi kemudian mulai membaca QS Fuṣṣilat ayat 1-12: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Hā-Mīm. Inilah wahyu dari Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang…” (hingga ayat ancaman kepada kaum ‘Ad dan Tsamud).

Sebelum peristiwa ini, seperti kebanyakan Quraisy, Utbah belum pernah mendengarkan Al-Qur’an dengan niat yang sungguh-sungguh. Ketika Nabi terus membaca, raut wajah Utbah mulai berubah, dan saat kekuatan bacaan itu semakin menguat, hatinya mulai berdebar. Intensitas itu naik hingga mencapai puncak ketika Nabi membaca: “Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Aku memperingatkan kalian akan azab dahsyat seperti yang menimpa ‘Ad dan Tsamud.’”

Pada titik itu Utbah tidak mampu menahan diri; dia melonjak bangkit dan menutup mulut Nabi dengan tangannya, memohon, “Aku memohon kepadamu demi Allah—dan demi hak-hak kekerabatan antara kita—berhentilah, jangan timpakan azab itu.”

Utbah lalu lari kembali kepada Quraisy dan berkata, “Dengarkan aku: tinggalkanlah laki-laki ini, karena aku telah mendengar darinya sesuatu yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku tidak memahami semuanya, tetapi dia akan memiliki kedudukan penting.” Quraisy menolak nasihat itu dan berkata, “Dia telah menyihirmu seperti dia menyihir orang lain.”

Setelah pembunuhan karakter gagal, tawaran kompromi ditolak, dan penyuapan materiil tidak berbekas, Kaum Quraisy menyadari mereka berhadapan dengan sebuah keteguhan yang tak tergoyahkan oleh insting biologis maupun logika kekuasaan konvensional.

Dalam kebingungan, yang tersisa hanyalah perlawanan di bidang epistemik—mempertanyakan dasar-dasar pengetahuan yang dibawa Nabi. Kaum Quraisy pun mengajukan tiga pertanyaan yang mereka yakini tidak mungkin dijawab. Apa saja pertanyaan itu, dan bagaimana respon Nabi Saw?

Abu al-Faraj Ibn al-Jawzi, al-Muntaẓam fī Tārīkh al-Mulūk wa al-Umam, Beirut: Dār al-Kutub alʿIlmiyyah, 1415/1995, vol. 2, hlm. 369.

Ibn Hisyam, al-Sīrah al-Nabawiyyah, vol. 1, hlm. 323-324.

László Erdős, “Oil Is Blood – The Fight of Ken Saro-Wiwa”, dalam Green Heroes: From Buddha to Leonardo DiCaprio, Hungaria: Springer, 2019, hlm. 177-180.