Taktik Propaganda Kaum Quraisy dalam Menyerang Nabi Muhammad
Sumber Foto: Muhammadiyah
Hiburan

Taktik Propaganda Kaum Quraisy dalam Menyerang Nabi Muhammad

Sejarah adalah arena pertempuran narasi. Jauh sebelum era berita palsu dan perang informasi digital seperti sekarang, pertarungan untuk mengendalikan narasi publik telah menjadi instrumen utama kekuasaan. Ketika Al-Qur’an mulai dibacakan di ruang publik, Quraisy membaca perkembangan itu sebagai ancaman terhadap kemapanan (status quo).

Nabi Muhammad Saw biasa melantunkan Al-Qur’an secara keras di depan Ka’bah. Kebiasaan ini segera menghidupkan hinaan dan kutukan dari Kaum Quraisy. Merespons kondisi ini, Allah SWT menurunkan wahyu QS Al-Isra’ ayat 110: “Janganlah engkau keraskan suaramu dalam salatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya.”

Para elite Quraisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab paham bahwa memenangkan perang propaganda adalah syarat untuk memenangkan perang di lapangan. Dengan memenangkan opini publik, kekerasan seolah punya legitimasi moral. Karena itu, sebelum menyentuh tubuh Nabi dan para Sahabat, mereka berusaha lebih dulu menyentuh persepsi masyarakat. Propaganda menjadi alat utama.

Fenomena ini adalah pola abadi kekuasaan. Penguasa harus terlebih dahulu mendefinisikan lawan mereka sebagai ancaman tak bermoral agar kekerasan menjadi sah. Lihatlah bagaimana propaganda Nazi membenarkan Kristallnacht dengan menggambarkan Yahudi sebagai parasit; atau bagaimana media kolonial Inggris melabeli pemberontak India sebagai “teroris” untuk membenarkan penjajahan. Dalam semua kasus itu, kekerasan tidak berdiri sendiri tapi selalu dipayungi narasi.

Sama halnya, kaum Quraisy harus mengejek sekaligus mereduksi risalah Nabi sebelum mereka berani bertindak brutal. Mereka menuduh Nabi sebagai orang gila, padahal ketenangan dan kejernihan keputusan beliau justru membuat banyak orang Arab menaruh hormat. Mereka menuduh beliau penyair, sementara bentuk dan ritme Al-Qur’an tidak cocok dengan pola syair Arab mana pun. Mereka menuduh beliau pendusta, padahal gelar al-Amīn sudah melekat pada dirinya jauh sebelum kenabian.

Pada titik ini, tuduhan-tuduhan Quraisy terlihat kejam, tetapi kalau diperhatikan tidak koheren. Tuduhan-tuduhan ini menunjukkan ketidakmampuan kalangan elite Quraisy untuk berkomitmen pada satu narasi palsu. Sangat mustahil satu orang memiliki identitas yang saling bertolak belakang.

Pernahkah kamu melihat orang gila yang mampu merancang kebohongan sistematis? Atau menyaksikan pembohong handal yang sekaligus mengalami kegilaan? Bisakah kamu menemukan syair dengan bahasa sempurna yang lahir dari pikiran tak waras? Dan bagaimana mungkin sebuah karya sastra yang belum pernah terdengar di seluruh Jazirah Arab bisa diciptakan oleh seorang yang buta huruf?

Sebuah propaganda nampaknya tidak membutuhkan narasi yang konsisten atau masuk akal. Cukup menciptakan kebisingan yang mengaburkan kebenaran. Seperti kabut tebal, propaganda bekerja bukan dengan meyakinkan, melainkan dengan menciptakan keraguan. Satu tuduhan tak perlu konsisten dengan tuduhan lainnya; yang penting, semua bersama-sama membentuk citra negatif untuk membenarkan kekerasan.

Bahkan hingga abad ke-21 pun kita menyaksikan pola serupa di Gaza. Rakyat Palestina mempertahankan tanah air warisan ribuan tahun, tapi media global mencitrakan mereka sebagai “teroris” yang “membenci kaum semit”. Pada akhirnya, hal tersebut membenarkan kekerasan dan penjajahan yang dilakukan Zionis Israel.

Propaganda yang dilakukan Zionis Israel memiliki pola yang sama dengan kaum Quraisy. Mereka mencitrakan bahwa Al Quran adalah karangan Muhammad. Misalnya, ketika ʿAbdullah bin Mas‘ud nekat membaca QS Al-Rahman di hadapan publik Mekkah, mereka terpukau sehingga orang-orang mulai berkumpul. Terlebih lagi, gaya pembacaan Al-Qur’an adalah fenomena unik bagi kaum Quraisy; itu tidak meniru puisi maupun prosa mana pun.

Namun, ketika orang-orang Mekkah yang berkumpul itu menyadari bahwa apa yang dibaca Ibn Masud itu Al-Quran, ia langsung diganjar dengan pukulan bertubi-tubi hingga tubuhnya babak belur. Para Sahabat sebenarnya sudah mewanti-wanti Ibnu Mas’ud agar tidak bersikap gegabah karena ia tidak punya suku yang melindungi dirinya. Namun ia tetap maju dan nekad sambil berkata, “Aku bertawakal kepada Allah.”

Mengenang peristiwa pengeroyokan itu, Para Sahabat meratap, “Inilah yang kami khawatirkan!” Namun Ibn Mas’ud berkata, “Demi Allah, tidak ada yang berubah hari ini kecuali bahwa kebencianku terhadap kaum Quraisy hanya bertambah, dan aku bersedia melakukan hal yang sama besok.”

Meskipun para elite Quraisy secara terbuka melarang pembacaan Al-Qur’an, mereka justru menjadi pendengar diam-diam di kegelapan malam. Tiga tokoh terkemuka seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, dan Al-Akhnas bin Syuraiq selalu terpikat oleh keindahan ayat-ayat yang sempat mereka dengar. Namun, reputasi mereka tak mengizinkan untuk mendengarkannya secara terbuka.

Maka, masing-masing secara diam-diam menyelinap di tengah malam, memanfaatkan salat tahajud Nabi sebagai kesempatan untuk mendengarkan Al-Qur’an. Ironisnya, ketiganya tak menyangka akan bertemu di jalan yang sama saat fajar menyingsing. Pertemuan tak terduga itu membuat mereka saling berbagi alasan yang dicari-cari, meski semua memahami hakikat sebenarnya.

Kejadian berulang selama tiga malam berturut-turut. Pada pertemuan ketiga, rasa malu dan kesadaran akan posisi mereka memuncak. Akhirnya, mereka bertiga bersepakat untuk tak kembali lagi—bukan karena tak tertarik, tetapi demi menjaga gengsi dan status sosial.

Namun, upaya sistematis untuk membungkam suara kebenaran justru menjadi bumerang. Propaganda yang mereka sebarkan malah menarik perhatian orang-orang yang jujur dalam pencarian kebenaran. Salah satunya adalah Dhimad al-Azdi, seorang tabib terhormat dari Yaman yang mendengar desas-desus tentang “orang gila” di Mekkah.

Dhimad kemudian berangkat ke Mekkah dan berencana mengobati Nabi Saw. Dhimad mendekati Nabi dan berkata, “Aku dengar kamu orang gila, dan aku di sini untuk menyembuhkanmu.” Nabi menjawab, “Aku bukan orang gila, tetapi dengarkan Pesanku.”

Nabi Saw kemudian memulai dengan Khutbah al-Hajjah, dan sebelum Nabi bahkan bisa mulai membaca Al-Qur’an, pria itu berkata, “Berhenti! Ulangi apa yang baru saja kamu katakan.” Nabi mengulangi Khutbah al-Hajjah dan pria itu berkata, “Demi Allah aku belum pernah mendengar sesuatu yang lebih indah dari ini. Siapa kamu?” Nabi menyatakan dirinya sebagai seorang Nabi dan Dhimad menerima Islam.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār Ibn Katsir, 1423/2002.

Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, Ṣaḥīḥ Muslim, Riyadh: Dār Thaibah, 1427/2006.

Yasir Qadhi, The Sīrah of the Prophet: A Contemporary and Original Analysis, Leicestershire: The Islamic Foundation, 2023.