Tingkat Kesehatan Mental Pelajar di Bandung Memprihatinkan, Intervensi Diperlukan Segera
BANDUNG – Kondisi kesehatan mental pelajar di Kota Bandung menunjukkan sinyal serius yang tidak bisa lagi diabaikan. Data hasil skrining Cek Kesehatan Jiwa (CKG) pada Agustus–Oktober 2025 memperlihatkan hampir separuh peserta didik terindikasi mengalami persoalan kesehatan mental.
Temuan ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, keluarga, dan pemangku kebijakan untuk segera melakukan intervensi yang terstruktur dan berkelanjutan.
Berdasarkan hasil skrining terhadap 148.239 peserta didik, sebanyak 71.433 siswa atau 48,19 persen terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa. Persentase tertinggi ditemukan pada jenjang SMP/MTs dengan 49,09 persen siswa menunjukkan indikasi gangguan mental.
Data tersebut mencakup gejala ansietas ringan hingga berat, serta depresi ringan hingga berat yang memerlukan perhatian serius. Pada jenjang SD/MI, dari 80.724 siswa yang diperiksa, 53,75 persen terindikasi mengalami masalah kesehatan jiwa. Sementara di jenjang SMA/MA tercatat 25,79 persen siswa, dan pada SLB mencapai 48,51 persen.
Anggota Majelis Psikolog Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Barat, M Ilmi Hatta, menilai kondisi tersebut sudah berada pada tahap “lampu kuning” dan membutuhkan intervensi profesional yang lebih kuat di lingkungan sekolah. Menurutnya, kehadiran psikolog di sekolah bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mendampingi siswa secara langsung, Sabtu (07/02/2026).
“Langkah menghadirkan psikolog di sekolah menjadi krusial agar penanganan dapat dilakukan lebih dini dan terukur. Tanpa intervensi yang tepat, persoalan kesehatan mental pelajar berpotensi berdampak pada prestasi, relasi sosial, hingga masa depan mereka,” ujarnya.
Di sisi lain, persoalan kesehatan mental anak dan remaja juga tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga. Psikolog pengasuhan anak Elly Risman Musa menekankan bahwa akar persoalan sering kali berawal dari pola asuh yang kurang mempersiapkan anak menghadapi peran kehidupan secara utuh.
Ia menilai banyak orang tua terlalu fokus pada prestasi akademik, tetapi melupakan pembentukan karakter dan kesiapan mental anak untuk menjalani kehidupan sosial dan keluarga.
“Kita menyekolahkan anak dari jenjang ke jenjang, tetapi lupa mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang siap berperan dalam keluarga dan masyarakat. Paparan teknologi tanpa pendampingan juga mempercepat berbagai persoalan psikologis,” ungkap Elly.
Ia menambahkan, penggunaan gawai pada usia dini dan paparan konten yang tidak sesuai dapat memengaruhi perkembangan otak anak, khususnya pada bagian yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri yakni Prefrontal Cortex.
Adapun, Prefrontal Cortex (PFC) adalah bagian otak yang terletak di depan lobus frontal, tepat di belakang dahi, yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif tingkat tinggi seperti perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian diri, kepribadian, dan perilaku sosial.
PFC berperan krusial dalam mengatur emosi, fokus, serta memprediksi konsekuensi tindakan. Karena itu, pendekatan komprehensif yang melibatkan orang tua, sekolah, dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk mengatasi persoalan ini.
Kota Bandung sendiri mulai merancang penguatan layanan kesehatan mental pelajar dengan melibatkan psikolog secara langsung di sekolah-sekolah. Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem dukungan yang lebih luas, mulai dari deteksi dini, pendampingan, hingga edukasi bagi orang tua dan guru.
Upaya tersebut juga perlu disertai peningkatan literasi kesehatan mental di masyarakat. Kesadaran bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik menjadi fondasi untuk menciptakan generasi yang tangguh, berdaya, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah menjadi kunci agar intervensi tidak bersifat parsial. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan, persoalan kesehatan mental pelajar diharapkan dapat ditangani secara lebih efektif.




