Anjloknya IHSG dan Isu Mundurnya Sri Mulyani: Analisis Dampaknya
Sumber Foto: Tempo.co
Indeks Isu

Anjloknya IHSG dan Isu Mundurnya Sri Mulyani: Analisis Dampaknya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan yang signifikan pada penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa, 18 Maret 2025. Penurunan ini mencapai lebih dari 6 persen, memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penghentian perdagangan saham sementara selama 30 menit. IHSG ditutup pada level 6,076, mencatat minus 6,11 persen. Penurunan ini menarik perhatian banyak pihak, terutama investor domestik dan asing.

Penyebab Penurunan IHSG

Ketidakpastian yang melanda pasar keuangan Indonesia saat ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk berita mengenai pembentukan Danantara, pemangkasan anggaran, serta kebijakan ekonomi yang dianggap tidak konsisten. Namun, salah satu isu yang paling mencolok adalah rumor mengenai kemungkinan mundurnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Isu Mundurnya Sri Mulyani

Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, rumor mengenai pengunduran Sri Mulyani menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Ia menganggap Sri Mulyani sebagai sosok penting yang dapat menarik minat investor asing. "Kendala dalam perencanaan dan pengelolaan anggaran sudah tak diragukan lagi," ungkap Liza.

Sri Mulyani dianggap sebagai kunci dalam menjaga stabilitas fiskal, terutama dalam konteks tingginya kebutuhan pendanaan untuk program-program pemerintah. Ia diharapkan bisa menjadi penyeimbang bagi pemerintah, dan jika digantikan oleh sosok yang kurang berpengalaman, hal ini berpotensi menyebabkan defisit anggaran melampaui ambang batas yang aman.

Tanggapan Sri Mulyani

Menyikapi isu tersebut, Sri Mulyani menegaskan bahwa ia tetap menjabat dan berkomitmen untuk menjalankan tugasnya dalam mengelola APBN. Dalam konferensi pers yang diadakan pada hari yang sama, ia menekankan, "Saya ada di sini, berdiri dan tidak mundur." Ia juga memastikan fokusnya pada tujuan pembangunan pemerintahan Prabowo-Gibran, meskipun ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran di pasar.

Dampak pada Investor

Penurunan IHSG ini memberikan dampak yang signifikan bagi investor. Analis Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menyebut bahwa pandangan negatif terhadap pasar Indonesia turut berkontribusi pada penurunan tersebut. Beberapa lembaga investasi besar, seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs, telah memangkas rating saham-saham Indonesia, menggarisbawahi masalah-masalah seperti defisit anggaran yang melebar dan risiko fiskal akibat perubahan kebijakan.

Aksi jual besar-besaran yang terjadi di pasar mencerminkan kepanikan di kalangan investor, baik domestik maupun asing. Hingga 17 Maret 2025, tercatat aliran keluar investasi asing sebesar Rp 26,9 triliun dari pasar saham Indonesia. Jika aksi jual ini terus berlanjut, IHSG berpotensi menembus level psikologis 6.000, dengan level support berikutnya di 5.900, menurut Audi.