AS dan Israel Luncurkan Serangan Besar ke Iran, Tanggapan dan Dampak Global
TEHERAN, KOMPAS.com - Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk ibu kota Teheran, dalam operasi militer gabungan yang disebut sebagai “Operasi Tempur Besar” pada Sabtu (28/2/2026).
Serangan terjadi di tengah negosiasi terkait program nuklir dan rudal balistik Iran, setelah berminggu-minggu ancaman yang meningkat dari Washington.
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel utara dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Ledakan di Teheran
Sekitar pukul 09.27 waktu setempat, kantor berita Fars melaporkan serangkaian ledakan di Teheran.
Seorang koresponden Al Jazeera di Teheran barat mengatakan, ia mendengar dua ledakan, sementara video di media sosial memperlihatkan asap membumbung dari beberapa titik kota.
Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa serangan itu merupakan bagian dari operasi militer gabungan dengan Israel.
Dalam beberapa pekan terakhir, Washington juga telah mengerahkan armada besar jet tempur dan kapal perang ke kawasan tersebut, pengerahan terbesar sejak Perang Irak.
Departemen Pertahanan AS kemudian menyatakan misi itu diberi nama “Operation Epic Fury”, pernyataan publik pertama militer AS sejak serangan dimulai.
Ledakan dilaporkan terjadi di University Street dan kawasan Jomhouri di Teheran, serta dekat markas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Kantor berita Associated Press melaporkan satu serangan terjadi di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Ledakan juga dilaporkan di wilayah Seyyed Khandan, serta kota Kermanshah, Qom, Tabriz, Isfahan, Ilam, Karaj, dan Provinsi Lorestan.
Tujuan operasi menurut Trump
Lihat Foto
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa tujuan operasi militer AS adalah untuk “menghancurkan misil mereka (Iran) dan meratakan industri misil mereka hingga ke tanah."
“Kami akan memusnahkan angkatan laut mereka,” tambahnya.
Ia menyebut operasi tersebut sebagai operasi “masif dan sedang berlangsung”, dengan tujuan menghilangkan apa yang disebut Washington sebagai ancaman yang akan segera terjadi dari pemerintah Iran.
Tujuannya adalah menghancurkan kemampuan misil Iran, menargetkan angkatan laut Iran, mengganggu kelompok bersenjata yang didukung Iran di kawasan, dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Komentar Trump dinilai oleh koresponden Al Jazeera di Washington sebagai upaya “menyiapkan panggung bagi sebuah revolusi di Iran”, 73 tahun setelah CIA mengatur kudeta terhadap Perdana Menteri terpilih Iran, Mohammad Mosaddegh.
“Mereka pernah melakukannya sebelumnya. Kali ini, mereka melakukannya dengan senjata dan bom, bukan secara rahasia melalui CIA,” kata koresponden tersebut.
"Jelas bahwa ini akan menjadi operasi militer berkelanjutan, dengan Donald Trump menerima fakta bahwa mungkin akan ada korban.”
Justifikasi serangan
Serangan ini terjadi setelah bertahun-tahun ketegangan terkait program nuklir dan pengaruh regional Iran.
AS dan Israel lama mengeklaim bahwa aktivitas pengayaan uranium dan kemampuan misil Iran menjadi ancaman bagi mereka.
Iran berulang kali menyatakan tidak berniat membangun bom nuklir, sementara Israel merupakan satu-satunya negara di Timur Tengah yang diketahui memiliki senjata nuklir.
Eskalasi terbaru terjadi setelah mediator Oman mengumumkan kemajuan dalam perundingan di Jenewa, di mana Iran dilaporkan setuju untuk tidak menimbun uranium dan menerima verifikasi penuh dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Trump juga menyerukan agar rakyat Iran “mengambil alih” pemerintahan mereka.
“Ketika kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda untuk diambil. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi,” ujarnya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan, operasi militer itu akan “berlanjut selama diperlukan” dan menyebutnya sebagai “Lion’s Roar”.
Respons Iran
Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel, menurut militer Israel.
Sirene serangan udara berbunyi di beberapa wilayah, dan ledakan dilaporkan di Israel utara.
“Publik diminta mengikuti instruksi Komando Front Dalam Negeri,” kata militer Israel.
"Saat ini, Angkatan Udara Israel beroperasi untuk mencegat dan menyerang ancaman bila diperlukan untuk menghilangkan ancaman tersebut.”
Tak lama kemudian, pasukan Iran juga meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi yang terkait dengan operasi militer AS di kawasan, termasuk:pangkalan Al Udeid di Qatar, pangkalan Al-Salem di Kuwait, pangkalan Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, dan markas armada kelima AS di Bahrain
Ledakan juga terdengar di Riyadh, Arab Saudi, dan pangkalan AS di Yordania dilaporkan menjadi sasaran.
Ebrahim Azizi, ketua komisi keamanan nasional parlemen Iran, mengancam respons yang “menghancurkan”.
“Kami telah memperingatkan Anda!” tulisnya di media sosial.
“Sekarang Anda telah memulai jalan yang akhirnya tidak lagi berada dalam kendali Anda.”
Reaksi dunia
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, mengatakan negosiasi aktif dan serius yang dimediasi negaranya “sekali lagi dirusak” dan mendesak AS “tidak terseret lebih jauh”.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menggambarkan situasi sebagai “berbahaya” dan menyerukan perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional.
Presiden Perancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa konflik ini membawa “konsekuensi serius bagi perdamaian dan keamanan internasional” dan menegaskan, “Eskalasi saat ini berbahaya bagi semua orang. Ini harus dihentikan.”
Di Rusia, Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev mengkritik Trump dan menuduh Washington menggunakan negosiasi sebagai “operasi kedok”.
Sementara itu, Inggris menyatakan, Iran tidak boleh diizinkan mengembangkan senjata nuklir dan siap mempertahankan kepentingannya.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan, negaranya mendukung upaya AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan terus mengancam perdamaian internasional.




