BSI Tingkatkan Literasi Keuangan Syariah untuk Pekerja Migran di Malaysia
RM.id Rakyat Merdeka - Transaksi remitansi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI di sepanjang tahun 2025 melesat menjadi 1,8 juta transaksi, tumbuh 9 persen year on year (yoy), dengan nilai transaksi mencapai Rp 116 triliun.
Mesin pertumbuhan ini digerakkan oleh jaringan remitansi di 14 negara dengan lebih dari 30 mitra global.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan, ekspansi jaringan sebagai respons langsung atas lonjakan kebutuhan transaksi perbankan syariah di kalangan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“Malaysia menjadi salah satu kantong transaksi terbesar. Di sanalah BSI masuk lebih dalam dengan layanan yang mudah diakses dari berbagai negara,” kata Anton di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Untuk itu, BSI terus menguatkan layanan international melalui jasa remitansi yang mempermudah pekerja migran Indonesia (PMI) mengirimkan uang ke Tanah Air.
Di awal tahun 2026, BSI menggelar kegiatan edukasi bekerja sama dengan KJRI Johor Bahru & KBRI Kuala Lumpur Malaysia, lewat penguatan literasi keuangan syariah di Malaysia.
“BSI bersinergi dengan KJRI Johor Bahru dan KBRI Kuala Lumpur lewat program literasi keuangan untuk PMI,” ucap Anton.
Kegiatan ini tak sekadar edukasi tapi juga mendorong transaksi mulai dari pengelolaan keuangan, investasi Tabungan Emas, hingga mengirimkan devisa ke dalam negeri dan pengiriman uang lintas negara lewat superapps Byond by BSI.
BSI mengimplementasikan strategi dua jalur yakni business to business (B2B) untuk menggenjot volume remitansi dan Business to Customer (B2C) untuk mengakselerasi aktivasi digital nasabah migran.
“Targetnya jelas, menguasai arus uang PMI dari luar negeri ke daerah-daerah di Indonesia,” ujarnya.
Saat ini, BSI Remittansi telah hadir di Malaysia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Australia, Uni Emirat Arab, Brunei Darussalam, Korea Selatan, Selandia Baru, Qatar, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Indonesia.
Anton menegaskan, remitansi bukan sekadar transaksi, tapi penggerak ekonomi daerah.
“Kami ingin PMI bukan hanya mengirim uang, tapi membangun masa depan keuangan yang lebih kuat dan aman,” pungkas Anton.




