Dinamika Geopolitik Jepang dan Isu Taiwan di Indo-Pasifik
Sumber Foto: Tribunnews.com
Peta Isu

Dinamika Geopolitik Jepang dan Isu Taiwan di Indo-Pasifik

Ancaman yang dilancarkan oleh Tiongkok terhadap Jepang terkait dukungan negara tersebut terhadap pertahanan Taiwan dianggap tidak efektif. Hal ini disampaikan oleh analis Khedroob Thondup, yang menilai bahwa Tiongkok keliru dalam menganggap Jepang sebagai negara yang mudah diintimidasi melalui tekanan ekonomi atau ancaman militer.

Menurut Thondup, posisi Jepang dalam konteks ini didasarkan pada faktor sejarah, kerangka hukum, dan aliansi internasional yang kuat, sehingga Jepang tidak akan mudah tergoyahkan oleh ancaman dari Beijing. Ia menjelaskan bahwa postur keamanan Jepang adalah hasil dari penyesuaian yang telah berlangsung selama puluhan tahun terhadap dinamika yang terjadi di kawasan.

Kebangkitan militer Tiongkok, penurunan ruang kebebasan di Hong Kong, dan meningkatnya aktivitas militer di sekitar Taiwan semakin memperkuat keyakinan Tokyo bahwa sikap pasif dalam menghadapi ancaman tidak lagi memadai. Dalam artikelnya di European Times, Thondup menyatakan bahwa bagi Jepang, keamanan Taiwan sangat berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Thondup juga menyoroti bahwa komitmen Jepang terhadap isu Taiwan didorong oleh pertimbangan hukum internasional dan solidaritas dengan negara-negara demokrasi. Ia berpendapat bahwa nasib Taiwan bukan hanya merupakan isu bilateral antara Beijing dan Taipei, melainkan juga menjadi indikator apakah paksaan dapat mengubah prinsip penentuan nasib sendiri.

Lebih lanjut, analisis tersebut mencakup peran penting aliansi Jepang dengan Amerika Serikat. Berdasarkan perjanjian keamanan antara kedua negara, setiap serangan terhadap Jepang atau pasukannya yang terlibat dalam dukungan terhadap Taiwan dapat memicu respons dari Washington. Oleh karena itu, Thondup menilai bahwa intimidasi terhadap Jepang justru berisiko memperburuk ketegangan antara Beijing dan AS.

Thondup juga menekankan bahwa Jepang bukanlah target yang rentan terhadap tekanan ekonomi. Sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, Jepang memiliki rantai pasokan yang luas dan hubungan dagang yang kuat dengan Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Serikat. Ia berpendapat bahwa langkah punitif yang diambil oleh Beijing dapat mempercepat pemutusan ketergantungan dan memperkuat sikap Jepang dalam menghadapi ancaman.

Di tingkat kawasan, ancaman dari Tiongkok justru mendorong negara-negara demokrasi lainnya, seperti Korea Selatan, Australia, dan India, untuk mempererat koordinasi mereka dalam menjaga stabilitas regional. Sikap Jepang terhadap Taiwan pun menjadi bagian dari konsensus yang berkembang di Indo-Pasifik mengenai pentingnya menolak segala bentuk intimidasi.