Dosen Unand: Krisis Ekonomi Global Mengancam Akibat Konflik Iran
Sumber Foto: Padangkita.com
Internasional

Dosen Unand: Krisis Ekonomi Global Mengancam Akibat Konflik Iran

Padang, Padangkita.com — Serangan militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian disusul dengan serangan balasan dari Iran ke sejumlah target di Timur Tengah, memicu kekhawatiran besar. Insiden ini dikhawatirkan dapat meluaskan konflik regional dan memberikan dampak serius terhadap stabilitas global.

Dosen Hubungan Internasional dari FISIP Universitas Andalas (Unand), Virtuous Setyaka, memberikan pandangannya terkait situasi panas ini. Ia menilai peristiwa tersebut tidak bisa hanya dipahami sebagai operasi militer terbatas, melainkan bagian tak terpisahkan dari dinamika konflik jangka panjang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Menurut Virtuous, berdasarkan laporan berbagai media internasional, serangan awal tersebut secara spesifik menargetkan fasilitas militer strategis milik Iran. Target tersebut meliputi kapasitas rudal, unsur angkatan laut, hingga simpul komando yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah lokasi strategis yang berkaitan dengan kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.

"Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan rivalitas geopolitik, keamanan regional, serta kepentingan energi global," ujar Virtuous.

Ia juga menambahkan bahwa ketegangan yang terjadi sangat berpotensi memengaruhi stabilitas politik di Timur Tengah. Hal ini termasuk berdampak pada hubungan negara-negara Arab dengan Israel, yang sebelumnya telah mengalami proses normalisasi melalui Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Di satu sisi, tekanan dari ranah domestik masing-masing negara dapat meningkat. Namun di sisi lain, kerja sama keamanan antarnegara di kawasan tersebut juga bisa semakin menguat akibat adanya persepsi ancaman yang sama.

Lebih jauh, Virtuous mengingatkan publik tentang skenario terburuk dari eskalasi ini, yakni pecahnya perang multifront yang melibatkan beberapa negara sekaligus. Skenario ini dapat memicu disrupsi pasokan energi global, kesalahan perhitungan militer yang fatal, hingga krisis kemanusiaan berskala besar.

Kawasan Timur Tengah selama ini dikenal sebagai jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia, salah satunya melalui Selat Hormuz. Gangguan sekecil apa pun terhadap jalur strategis ini berpotensi memicu lonjakan harga energi, peningkatan biaya logistik, serta memicu ketidakstabilan di pasar global.

"Energi dan keamanan di kawasan ini saling terkait erat. Setiap eskalasi militer hampir selalu diikuti gejolak ekonomi global," katanya menegaskan.

Selain membawa dampak regional, konflik ini juga memperlihatkan semakin tajamnya polarisasi di tingkat global. Reaksi keras yang ditunjukkan oleh beberapa negara besar di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi bukti nyata adanya perbedaan posisi yang tajam terkait legitimasi penggunaan kekuatan militer.

Virtuous menilai situasi tersebut mencerminkan adanya tantangan serius terhadap tatanan internasional yang selama ini bertumpu pada institusi multilateral dan hukum internasional.

"Ketika konsensus global melemah, penggunaan kekuatan militer cenderung meningkat sebagai instrumen utama kebijakan luar negeri," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa posisi Iran tidak bisa dipandang sekadar sebagai negara regional biasa. Iran merupakan aktor penting yang memiliki kapasitas militer, basis industri, dan pengaruh politik yang sangat signifikan di wilayah Timur Tengah. Kondisi ini membuat setiap konflik yang menyeret nama Iran memiliki potensi besar untuk meluas, baik melalui jaringan aliansinya maupun kelompok proksi yang tersebar di berbagai negara. Dalam sistem internasional, konflik antara negara besar dan kekuatan regional seperti Iran sering kali mencerminkan adanya perubahan keseimbangan kekuasaan global yang saat ini sedang berlangsung.

Meski ketegangan memuncak, Virtuous menilai kemungkinan terjadinya perang dunia secara langsung masih relatif rendah, mengingat biaya politik dan ekonomi yang harus ditanggung oleh semua pihak sangatlah besar. Namun, risiko terjadinya konflik regional berskala besar meningkat secara signifikan apabila eskalasi ini terus berlanjut tanpa adanya mekanisme deeskalasi yang efektif.

Oleh karena itu, ia sangat menekankan pentingnya mengutamakan jalur diplomasi dan komunikasi krisis demi mencegah salah perhitungan yang dapat memperluas area konflik.

"Serangan militer dapat merusak kapasitas pertahanan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan akar konflik politik dan keamanan yang mendasarinya," ujarnya.

Baca Juga: Iran Kecam Hubungan Diplomatik UEA-Israel, Turki Siap Tarik Dubes dari Abu Dhabi

Sebagai penutup, akademisi Unand ini menyimpulkan bahwa perkembangan peristiwa pada 28 Februari 2026 menjadi indikator kuat bahwa sistem keamanan internasional tengah menghadapi fase ketidakpastian yang baru. Pada fase ini, stabilitas dunia tidak lagi ditopang sepenuhnya oleh konsensus global, melainkan oleh keseimbangan kekuatan yang terus berubah secara dinamis. [*/hdp]

Bagikan