IHSG Berisiko Melanjutkan Koreksi di Tengah Isu Profit Taking dan MSCI
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan koreksi pada perdagangan hari Selasa, 13 Januari, di tengah tekanan jual yang meningkat dan kehati-hatian pelaku pasar.
Tekanan ini muncul setelah IHSG gagal mempertahankan level psikologis 9.000 pada perdagangan sebelumnya. Menurut analisis dari Phintraco Sekuritas, aksi ambil untung kemungkinan masih akan berlanjut setelah IHSG mengalami reli sejak awal tahun. Dalam riset yang dirilis hari ini, analis Phintraco menyatakan bahwa IHSG berpotensi memasuki fase sideways dengan kecenderungan melemah.
“IHSG berpeluang menguji level support di 8.725 hingga 8.800,” ungkap analis Phintraco Sekuritas.
Pada perdagangan Senin, IHSG ditutup melemah sebanyak 0,58% ke level 8.884,72 setelah sempat tertekan hingga 8.715. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan jual, terutama pada saham-saham konglomerasi yang menjadi penggerak indeks, sebagai respons terhadap antisipasi pasar terhadap kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berkaitan dengan perhitungan free float.
Dari perspektif teknikal, IHSG ditutup di bawah rata-rata MA5. Selain itu, indikator MACD dan Stochastic RSI menunjukkan kemungkinan adanya koreksi lebih lanjut.
Dari sisi makroekonomi, pelemahan nilai tukar rupiah dipandang turut membebani pasar keuangan. Pasar juga menunjukkan kekhawatiran terkait prospek ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Sementara itu, analis dari CGS International Sekuritas Indonesia mencatat bahwa kenaikan indeks Wall Street dan harga komoditas inti dapat memberikan sentimen positif bagi IHSG. Namun, adanya kekhawatiran terhadap potensi defisit APBN yang melebihi 3% serta sikap antisipasi terhadap hasil konsultasi MSCI berpotensi menjadi sentimen negatif bagi indeks ini.
CGS memperkirakan IHSG akan bergerak bervariasi dan cenderung melemah, dengan kisaran support antara 8.765/8.645 dan resistance di 9.005/9.125.




