IHSG Mengalami Penurunan 0,58 Persen, Dipicu Aksi Profit Taking dan Isu MSCI
Sumber Foto: Radar Tulungagung
Indeks Isu

IHSG Mengalami Penurunan 0,58 Persen, Dipicu Aksi Profit Taking dan Isu MSCI

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami penurunan sebesar 0,58 persen pada perdagangan sesi kedua, berada di level 8.804,72. Sebelumnya, IHSG sempat menembus level psikologis 9.000 pada awal perdagangan.

Pergerakan IHSG pada hari ini tergolong sangat fluktuatif. Indeks dibuka menguat di zona hijau pada level sekitar 8.990, mencapai level tertinggi harian di 9.000,96. Namun, IHSG kemudian mengalami pembalikan arah dan terkoreksi tajam lebih dari 2 persen hingga menyentuh level 8.715.

Aksi Profit Taking Memicu Koreksi Mendadak

Manajer Investasi YB Surabaya Timur, Halim Minareja, mengungkapkan bahwa koreksi tajam IHSG dipicu oleh aksi profit taking, terutama pada saham-saham konglomerasi yang sebelumnya bergerak agresif karena isu front running indeks MSCI. "Selama ini, pergerakan indeks banyak dipengaruhi oleh saham-saham konglomerasi yang diisukan akan masuk MSCI. Munculnya kekhawatiran terkait aturan MSCI yang semakin ketat membuat sebagian investor memilih untuk keluar lebih awal," ujarnya.

Aksi jual tersebut memicu tekanan besar pada IHSG, meskipun pelemahan akhirnya mulai terbatas setelah menyentuh area support.

Level Support Kuat di Area 8.700-an

Dari sisi teknikal, Halim menyebutkan bahwa area 8.700 hingga 8.725 menjadi support kuat IHSG dalam jangka pendek. Setelah menyentuh level tersebut, indeks menunjukkan upaya pemulihan meskipun belum mampu kembali ke atas 8.900. "Secara teknikal, koreksi sudah mencapai target moving average 20 harian. Ke depan, IHSG cenderung konsolidasi di rentang 8.750 hingga 9.000 sambil menunggu kepastian MSCI," jelasnya.

Saham Konglomerasi Masih Tertekan

Sejumlah saham berkapitalisasi besar dari kelompok konglomerasi tercatat menjadi pemberat utama IHSG. Tekanan ini membuat indeks kesulitan untuk kembali menguat meskipun sempat terjadi rebound intraday. Menurut Halim, pelemahan tersebut lebih disebabkan oleh panic selling jangka pendek, sementara potensi penguatan lanjutan masih terbatas dalam waktu dekat. "Saham-saham ini cenderung bergerak sideways. Untuk sementara, disarankan untuk wait and see dan mencari peluang di sektor lain," tambahnya.

Sektor Komoditas Jadi Penopang IHSG

Di tengah tekanan yang dialami saham konglomerasi, sektor komoditas, khususnya logam dan emas, menjadi penopang utama IHSG agar tidak jatuh lebih dalam. Harga emas dunia yang sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa memberikan sentimen positif bagi saham-saham pertambangan, meskipun penguatannya sempat menyusut seiring dengan pelemahan indeks.

"Sektor komoditas relatif tidak terlalu terkait dengan isu MSCI, sehingga masih berpotensi melanjutkan penguatan," tambah Halim. Rotasi sektor ini menunjukkan bahwa investor mulai mengalihkan dana dari saham-saham indeks berat ke sektor-sektor yang dianggap lebih defensif dan berbasis komoditas.