Indeks Dolar AS Mendekati 100: Investor Waspadai Gejolak Inflasi dan Isu Selat Hormuz
Indeks Dolar AS (Indeks DXY) mengalami penguatan signifikan, naik sebesar 0,44 persen menjadi 99,62. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik serta lonjakan inflasi di Amerika Serikat.
Sentimen pasar yang skeptis terhadap prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran berkontribusi pada kekuatan Dolar. Meskipun pihak Washington mengklaim adanya kemajuan negosiasi, respons negatif dari Teheran mengenai kedaulatan Selat Hormuz membuat investor lebih memilih mengamankan aset mereka dalam bentuk Dolar.
Selain itu, data inflasi harga impor AS untuk bulan Februari menunjukkan kenaikan tertinggi dalam hampir empat tahun, menandakan bahwa tekanan inflasi masih berlanjut. Dominasi Dolar ini berdampak pada penurunan nilai mata uang utama lainnya. Euro turun ke level 1,1562 Dolar AS, sementara Poundsterling melemah menjadi 1,3362 Dolar AS.
Di kawasan Asia, Dolar juga menekan Yen Jepang hingga mencapai level 159,46, meskipun Bank of Japan memberikan sinyal untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Secara keseluruhan, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS kini beralih ke arah yang lebih ketat (hawkish).
Data dari FedWatch Tool CME Group menunjukkan peningkatan peluang untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember mendatang. Ini merupakan perubahan sentimen yang signifikan dibandingkan dengan pekan lalu yang justru mengharapkan adanya pemangkasan suku bunga. Shaun Osborne dari Scotiabank berpendapat bahwa jika volatilitas pasar tetap tinggi, posisi Dolar akan tetap kuat meskipun harga saham dan obligasi global mengalami penurunan.
Lonjakan Indeks DXY ini menjadi sinyal peringatan bagi pergerakan mata uang Rupiah. Ketika Dolar AS menguat secara global, Rupiah biasanya menghadapi tekanan ganda dari faktor eksternal dan internal. Dengan DXY yang mendekati level psikologis 100, kemungkinan tekanan jual terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, akan meningkat. Investor global cenderung melakukan aksi risk-off, menarik modal dari pasar keuangan Indonesia dan memindahkannya kembali ke aset berbasis Dolar AS yang dianggap lebih aman.




