Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Alami Penurunan, Praktik Swasensor Menguat
Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan skor tercatat sebesar 59,5 dari skala 100, yang menunjukkan kategori "Agak Terlindungi". Meskipun tetap berada dalam kategori yang sama seperti tahun 2023 dan 2024, skor ini mengalami penurunan sekitar 0,9 hingga 1 poin.
Penurunan ini diungkapkan dalam peluncuran IKJ 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Tifa bersama Konsorsium Jurnalisme Aman dan Populix di Erasmus Huis, Jakarta, pada Senin (9/2/2026). Indeks ini berfungsi sebagai rujukan berbasis data untuk memetakan kondisi keselamatan jurnalis serta sebagai bahan evaluasi kebijakan.
Direktur Eksekutif Yayasan Tifa, Oslan Purba, menekankan pentingnya indeks ini untuk memastikan jurnalis dapat bekerja dengan aman dan hak masyarakat atas informasi tetap terjaga. "Indeks ini penting untuk memastikan jurnalis bekerja dengan aman, agar hak-hak masyarakat untuk mendapatkan informasi bisa terpenuhi," ungkap Oslan dalam acara tersebut.
Survei IKJ 2025 melibatkan 655 jurnalis aktif di 38 provinsi dan dilaksanakan pada November hingga Desember 2025. Selain survei, riset ini juga memanfaatkan data sekunder dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta wawancara mendalam dengan jurnalis dan pemangku kepentingan.
Menurut Nazmi Tamara, Policy and Society Research Manager Populix, penurunan paling signifikan terjadi pada pilar individu jurnalis dan stakeholder media. Sebanyak 67% responden melaporkan pernah mengalami kekerasan, meningkat dari sekitar 40% pada tahun 2024. Bentuk kekerasan yang paling banyak dilaporkan adalah pelarangan pemberitaan dan pembatasan liputan, meskipun kekerasan fisik dan ancaman langsung cenderung menurun.
Di sisi lain, pengetahuan jurnalis mengenai risiko dan upaya pencegahan meningkat sekitar 20 poin, menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu keselamatan kerja. Riset juga mencatat penguatan praktik sensor dan swasensor, di mana 72% responden mengaku pernah mengalami sensor, sedangkan 80% mengaku pernah melakukan swasensor. Praktik ini melibatkan seluruh jenjang redaksi, mulai dari jurnalis hingga pimpinan media, dengan alasan utama untuk menghindari konflik, melindungi keselamatan pribadi, serta merespons tekanan tertentu.
Jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, mengungkapkan bahwa pergeseran ancaman terhadap jurnalis kini tidak hanya berupa kekerasan fisik, peretasan, dan doxing, tetapi juga pembatasan akses informasi. Dalam peliputan isu strategis seperti MBG dan PSN, jurnalis sering kesulitan mendapatkan narasumber karena tekanan struktural yang membuat banyak pejabat enggan berbicara terbuka.
"Kondisi ini menjadi sinyal memburuknya iklim kebebasan berbicara dan berdampak pada hak publik untuk memperoleh informasi," ujarnya.
Beberapa isu kebijakan publik disebut sebagai topik yang paling sering mengalami swasensor. Sementara itu, pilar negara dan regulasi menjadi satu-satunya pilar yang mencatat kenaikan skor, didorong oleh persepsi yang membaik terhadap peran regulasi dan penegak hukum. Namun, sebagian responden masih memandang Undang-Undang ITE sebagai regulasi yang berpotensi membatasi kebebasan pers.
Anggota Dewan Pers, Abdul Manan, berharap hasil indeks ini dapat dijadikan rujukan untuk memperkuat perlindungan hukum terhadap jurnalis dan mencegah kekerasan serta kriminalisasi. "Jika sensor dan represi dibiarkan, yang paling dirugikan adalah publik karena kehilangan hak atas informasi," tegas Manan.
Di kesempatan yang sama, Direktur Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Nursodik Gunarjo, menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat perlindungan jurnalis melalui perbaikan regulasi dan kolaborasi lintas sektor. Konsorsium Jurnalisme Aman, yang terdiri dari Yayasan Tifa, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), dan Human Rights Working Group (HRWG), serta didukung oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, menilai keselamatan jurnalis sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan hak publik atas informasi.




