Indeks Keselamatan Jurnalis 2025: Isu Makan Bergizi Gratis Paling Banyak Disensor
Jakarta, IDN Times - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi isu yang paling sering mengalami swasensor atau penyensoran mandiri dalam kerja jurnalistik sepanjang tahun 2025. Hal ini terungkap dalam Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 yang menunjukkan bahwa 58 persen jurnalis mengaku pernah membatasi atau menahan pemberitaan mengenai MBG, menjadikannya sebagai isu dengan tingkat sensor tertinggi dibandingkan isu lainnya.
Menurut Nazmi Tamara, Manajer Penelitian Kebijakan dan Masyarakat Populix, tingginya angka swasensor pada isu MBG berkaitan dengan kekhawatiran akan konflik, tekanan dari pihak tertentu, serta risiko terhadap keselamatan pribadi jurnalis. Sejumlah jurnalis juga melaporkan adanya pembatasan informasi dan minimnya akses ke narasumber yang diperlukan untuk meliput isu tersebut.
Dampak dari kondisi ini adalah menurunnya kualitas pemberitaan serta transparansi publik terkait pelaksanaan program MBG. Nazmi mencatat bahwa banyak jurnalis merasa bahwa mereka tidak diperbolehkan memberitakan hal-hal yang dianggap negatif mengenai program tersebut.
Survei dan Metodologi
Survei yang dilakukan melibatkan 655 responden, dengan mayoritas berasal dari Jawa (47 persen), diikuti oleh Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, serta Maluku dan Maluku Utara. Responden dinilai mewakili berbagai wilayah dan provinsi di Indonesia.
Sensor Mandiri di Kalangan Jurnalis
Jurnalis yang terlibat dalam survei mengindikasikan bahwa mereka melakukan sensor mandiri, karena ketidakpastian mengenai siapa yang mengatur pemberitaan. Tantangan utama yang dihadapi jurnalis termasuk keterbatasan akses informasi, tekanan, intimidasi, dan minimnya transparansi terkait proyek-proyek strategis. Mayoritas jurnalis menuntut adanya iklim kerja yang lebih aman, terbuka, dan bebas dari tekanan, sensor, maupun swasensor.
Peningkatan Tekanan Terhadap Jurnalis
Dalam catatan satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 menyoroti peningkatan tekanan terhadap jurnalis dan media. Sekitar 78 persen responden setuju bahwa tekanan terhadap jurnalis dan media meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, 49 persen jurnalis mengalami kesulitan dalam meliput isu-isu pemerintahan, dengan hambatan utama berupa terbatasnya akses ke narasumber. Tekanan juga datang dari aparat dan pihak tertentu, di mana 41 persen responden melaporkan adanya intimidasi saat meliput isu yang berkaitan dengan pemerintahan.




