Indeks Keselamatan Jurnalis 2025: Tantangan dan Ancaman dalam Peliputan Berita
Sumber Foto: Kabar Bandung
Indeks Isu

Indeks Keselamatan Jurnalis 2025: Tantangan dan Ancaman dalam Peliputan Berita

Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Yayasan Tifa telah merilis Laporan Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 yang menggambarkan kondisi yang memprihatinkan dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Laporan ini menyoroti risiko yang dihadapi oleh jurnalis baik secara fisik maupun psikis dalam menjalankan tugas peliputan mereka.

Hasil riset menunjukkan bahwa jurnalis sering kali harus bekerja dalam situasi yang penuh dengan risiko, terutama saat meliput di ruang publik yang rawan konflik. Ancaman kekerasan, intimidasi, dan tekanan dari berbagai pihak menjadi tantangan yang terus dihadapi oleh para pekerja pers.

Jenis Liputan dengan Tingkat Risiko Tertinggi

Laporan tersebut mengidentifikasi bahwa liputan demonstrasi merupakan jenis peliputan yang paling berisiko bagi keselamatan jurnalis, dengan persentase mencapai 67%. Selain itu, konflik antarmasyarakat dan isu kriminalitas juga menduduki posisi teratas sebagai liputan yang berisiko tinggi. Berikut ini adalah rincian jenis liputan dengan tingkat risiko tertinggi:

  • Liputan Demonstrasi: 67%
  • Konflik Antarmasyarakat: 60%
  • Kriminal: 59%
  • Wilayah Bencana Alam: 47%
  • Wilayah Berisiko Penyakit Menular: 19%
  • Aksi Terorisme: 18%

Data ini menunjukkan bahwa mayoritas jurnalis beroperasi dalam kondisi yang rentan terhadap kekerasan fisik, tekanan massa, dan risiko kesehatan. Demonstrasi menjadi sektor yang paling berbahaya, terutama ketika terjadi benturan antara aparat dan massa, membuat situasi menjadi sangat dinamis dan sulit dikendalikan.

Praktik Sensor Diri di Kalangan Jurnalis

Selain ancaman fisik, laporan ini juga mengungkapkan adanya praktik sensor diri (self-censorship) yang semakin marak di kalangan jurnalis. Praktik ini dilakukan secara sadar untuk membatasi atau menyesuaikan pemberitaan agar terhindar dari potensi tekanan, intimidasi, atau risiko keamanan. Isu Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik yang paling sering terkena sensor diri, dengan angka mencapai 58%, sementara pemberitaan mengenai Proyek Strategis Nasional (PSN) menyusul dengan angka 52%. Hal ini mencerminkan adanya tekanan yang signifikan dalam peliputan program-program besar pemerintah.