Indonesia Perlu Menyusun Peta Jalan untuk Pengembangan Logam Tanah Jarang di Tengah Ketegangan Perdagangan AS-China
Sumber Foto: Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia
Peta Isu

Indonesia Perlu Menyusun Peta Jalan untuk Pengembangan Logam Tanah Jarang di Tengah Ketegangan Perdagangan AS-China

JAKARTA – Persaingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas, khususnya terkait pasokan logam tanah jarang (rare earth element/RTE). Komoditas strategis ini semakin diburu karena menjadi bahan utama dalam berbagai teknologi canggih seperti kendaraan listrik, turbin angin, dan peralatan pertahanan. Ketegangan meningkat setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif masuk hingga 100 persen untuk impor asal China mulai 1 November 2025. Langkah ini dipicu oleh isu ketergantungan rantai pasok logam tanah jarang yang masih besar terhadap China.

Edi Permadi, Tenaga Profesional Lemhannas RI, menyatakan bahwa diperlukan peta jalan pengembangan mineral dan logam tanah jarang dari hulu ke hilir untuk mendukung kemandirian mineral strategis nasional. Saat ini, lebih dari 60 persen pasokan bijih mineral tanah jarang dunia bersumber dari China, dan lebih dari 90 persen proses pemurniannya dilakukan di negara tersebut. Ketergantungan global ini menjadikan posisi China sangat dominan dalam industri logam tanah jarang.

“Permintaan logam tanah jarang diperkirakan akan tumbuh antara 50 hingga 60 persen pada tahun 2040 dan akan melampaui pasokan. Salah satu pendorong utamanya adalah kebutuhan akan magnet permanen untuk kendaraan listrik dan teknologi maju,” tambah Edi.

Potensi Indonesia dalam Industri Logam Tanah Jarang

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain baru dalam industri logam tanah jarang. Potensi tersebut ditemukan dalam mineral ikutan timah, bauksit, nikel, hingga batuan granit yang mengandung radioaktif. Meskipun saat ini belum ada izin usaha pertambangan khusus untuk logam tanah jarang di Indonesia, sejumlah potensi sudah teridentifikasi, terutama dalam bentuk mineral monasit yang merupakan produk samping dari pertambangan timah.

Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan logam tanah jarang melalui PT Timah Tbk, produsen timah terbesar di Indonesia. Perusahaan ini memiliki cadangan monasit dan sedang membangun pabrik pengolahan logam tanah jarang di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat, bekerja sama dengan MIND ID sebagai holding BUMN pertambangan. Edi menjelaskan, percepatan pengembangan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak yang lebih maju dalam pengolahan, hilirisasi, dan industrialisasi untuk menciptakan produk strategis nasional dengan mempertimbangkan sensitivitas geopolitik dunia.

Eksplorasi dan Hilirisasi sebagai Kunci Pengembangan

Kunci pengembangan logam tanah jarang di Indonesia terletak pada eksplorasi dan hilirisasi. Menurut data Badan Geologi, logam tanah jarang terdiri dari 17 unsur dengan karakter kimia serupa, seperti lanthanum (La), cerium (Ce), neobdium (Nd), dan yttrium (Y). Potensi logam tanah jarang di Indonesia tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bangka Belitung, dan umumnya ditemukan pada mineral monasit, xenotim, serta hasil samping tambang bauksit dan nikel.

“Indonesia bisa menjadi pemain penting jika mampu membangun infrastruktur pengelolaan dari hulu hingga hilir. Proses pengembangan harus dimulai dari eksplorasi sesuai standar nasional dan internasional, membangun fasilitas pemurnian, dan industri hilir berbasis logam tanah jarang,” kata Edi.

Namun, Edi menekankan bahwa semua ini memerlukan dukungan regulasi dan kerja sama lintas kementerian. Tantangan utama saat ini meliputi ketiadaan data cadangan yang komprehensif, belum adanya infrastruktur pengolahan, serta tata kelola usaha yang belum diatur secara rinci. “Saat ini, kegiatan eksplorasi terus dilakukan untuk mendapatkan data lebih lengkap mengenai sebaran dan sumber daya logam tanah jarang. Lima pilar hilirisasi – sumber daya manusia yang kompeten, permodalan yang kuat, teknologi, izin sosial, dan regulasi lintas sektoral – harus berjalan bersamaan agar pengembangan logam tanah jarang berkelanjutan,” pungkasnya.