Investigasi Kebakaran Gedung Terra Drone: Asal Mula dan Dampak
Sumber Foto: Bloomberg Technoz
Peta Isu

Investigasi Kebakaran Gedung Terra Drone: Asal Mula dan Dampak

Peristiwa kebakaran yang terjadi di Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta, mengakibatkan 22 orang meninggal dunia dan mengungkap sejumlah masalah serius terkait keselamatan dan standar operasional perusahaan.

Asal Mula Kebakaran

Kebakaran dimulai di sebuah ruangan berukuran 2x2 meter yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan baterai dan mesin genset. Berdasarkan keterangan saksi, percikan api muncul ketika empat tumpukan baterai drone berkapasitas 30.000 mAh terjatuh, menyulut api dari baterai lainnya serta barang-barang mudah terbakar di dalam gudang. Dalam waktu singkat, api berkobar dan melahap gudang serta sebagian besar lantai satu gedung.

Kekurangan Prosedur Operasional Standar (SOP)

Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa perusahaan tidak memiliki SOP yang jelas mengenai penanganan dan penyimpanan baterai berbahaya. Semua jenis baterai—baik yang rusak maupun yang masih layak—disimpan dalam satu tempat tanpa pemisahan. Selain itu, ruang penyimpanan tidak dilengkapi dengan ventilasi dan fasilitas antikebakaran yang memadai.

Standar Keamanan yang Tidak Memadai

Meski memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), Gedung Terra Drone tidak memenuhi standar keamanan untuk penanganan kebakaran. Terdapat kekurangan signifikan seperti tidak adanya pintu darurat, sensor asap, dan sistem proteksi kebakaran. Kondisi gedung yang tertutup dengan tembok dan kaca tebal juga menyulitkan evakuasi pada saat terjadi kebakaran.

Korban Jiwa dan Penyebab Kematian

Dari 22 korban yang meninggal, banyak yang mengalami luka bakar, namun penyebab utama kematian adalah sesak napas akibat menghirup asap beracun. Sebagian besar korban ditemukan di jalur evakuasi, diduga berupaya menyelamatkan diri dengan memecahkan kaca gedung yang sulit pecah.

Penanganan Kasus dan Tersangka

Direktur Utama Terra Drone, Michael, kini menjadi tersangka dalam kasus ini. Ia dituduh lalai dalam memastikan adanya SOP penyimpanan baterai berbahaya dan tidak menyediakan fasilitas yang memadai untuk keselamatan kerja. Jika terbukti bersalah, Michael dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun.

Isu Deforestasi dan Data Penting

Kebakaran ini juga memunculkan spekulasi terkait dugaan upaya menghilangkan data pemetaan deforestasi di Sumatra. Data tersebut berisi informasi mengenai praktik pembalakan liar dan pembukaan lahan secara ilegal. Meskipun isu ini sensitif, pihak kepolisian menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah penyebab kebakaran dan keselamatan korban.

Dengan temuan ini, diharapkan langkah-langkah perbaikan dalam standar keselamatan dan operasional segera diterapkan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.