Isu Ekspansi Wilayah Israel Kembali Mengemuka di Tengah Konflik Iran-Israel
Sumber Foto: Serambinews.com
Peta Isu

Isu Ekspansi Wilayah Israel Kembali Mengemuka di Tengah Konflik Iran-Israel

Pernyataan lama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel. Isu mengenai visi “Israel Raya” kembali mencuat setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke sejumlah lokasi di Iran pada tanggal 28 Februari 2026.

Dalam serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia. Serangan ini dipandang oleh beberapa kalangan sebagai indikasi bahwa Netanyahu memiliki ambisi untuk memperluas pengaruh dan wilayah Israel, yang ia sebut sebagai “Israel Raya”.

Netanyahu sebelumnya pernah mengungkapkan visi “Israel Raya” yang mencakup wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, serta sebagian wilayah Suriah, Arab Saudi, Irak, Turki, dan Mesir. Pernyataan ini disampaikan pada tahun 2025 ketika Netanyahu memperlihatkan sebuah peta yang menggambarkan apa yang ia sebut sebagai “Tanah yang Dijanjikan”. Pernyataan tersebut memicu kemarahan di kalangan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Diskusi tentang visi ini kembali mengemuka seiring dengan eskalasi konflik yang terus berlanjut. Mantan Ketua Komisi I (Hubungan Luar Negeri) DPR RI, Mahfuz Sidik, memberikan tanggapan terkait perkembangan ini. Ia berpendapat bahwa konflik yang berkepanjangan antara Iran dan Israel-AS akan berdampak luas. Menurutnya, jika kekuatan militer Iran berhasil dihancurkan, Israel berpotensi menjadi kekuatan militer dominan di kawasan.

“Kehancuran Iran sebagai kekuatan terakhir poros perlawanan terhadap Israel akan memuluskan ambisi Israel Raya. Ini berarti wilayah negara seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, dan Arab Saudi akan menjadi sasaran agresi militer lanjutan oleh Israel,” ungkap Mahfuz Sidik.

Apa Itu Visi Israel Raya?

Frasa “Israel Raya” pertama kali digunakan setelah Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967. Istilah ini merujuk pada wilayah yang mencakup Israel, Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, sebagian Yordania dan Semenanjung Sinai di Mesir, Dataran Tinggi Golan di Suriah, serta sebagian wilayah Lebanon, Irak, dan Arab Saudi.

Tahun lalu, akun resmi Kementerian Luar Negeri Israel di media sosial mempublikasikan peta yang mengklaim mengaitkan sejarah Israel dengan asal-usulnya dari ribuan tahun yang lalu. Peta tersebut sejalan dengan klaim Israel tentang adanya “kerajaan Yahudi” yang mencakup wilayah Palestina yang diduduki, Yordania, Lebanon, Suriah, hingga Mesir.

Reaksi keras datang dari negara-negara Arab, seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Palestina, dan Arab Saudi, yang menilai publikasi peta tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional serta upaya ekspansi Israel. Insiden ini mengingatkan pada Maret 2023, ketika Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mempresentasikan peta “Israel Raya” yang memasukkan Yordania ke dalam wilayah Israel.