Kekhawatiran Terhadap Keselamatan Jurnalis di Indonesia: 72 Persen Mengalami Sensor di Ruang Redaksi
Kebebasan pers di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius yang tidak terlihat secara jelas. Laporan terbaru mengenai Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan, di mana 80 persen jurnalis mengaku pernah melakukan swa sensor (self-censorship) dan 72 persen responden menyatakan telah mengalami sensor dalam pekerjaan jurnalistik mereka.
Temuan ini menciptakan fenomena baru dalam praktik pers nasional, di mana isu-isu penting yang seharusnya menjadi konsumsi publik cenderung dihindari akibat tekanan yang bersifat struktural, hukum, maupun ekonomi. Hal ini merujuk pada adanya 'tabu baru' dalam peliputan media.
Temuan Riset Mengenai Swa Sensor
Riset yang disusun oleh Yayasan Tifa, Konsorsium Jurnalisme Aman, dan Populix ini menunjukkan bahwa swa sensor bukan hanya keputusan individu, tetapi telah menjadi praktik sistemik di dalam ruang redaksi. Dalam hal ini, isu mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik paling sering disensor dengan persentase mencapai 58 persen, diikuti oleh liputan tentang Proyek Strategis Nasional (PSN) yang disensor sebesar 52 persen.
Penyebab dan Dampak dari Swa Sensor
Project Officer Jurnalisme Aman Yayasan Tifa, Arie Mega, menjelaskan bahwa alasan utama di balik swa sensor ini adalah untuk menjaga keselamatan pribadi dan menghindari dampak hukum, termasuk ancaman dari regulasi seperti UU ITE. Ia menyoroti adanya pergeseran pola ancaman, di mana intimidasi yang sebelumnya berupa kekerasan fisik kini masuk langsung ke dalam ruang redaksi dan manajemen media.
Menurut Arie, banyak jurnalis yang membatasi diri bukan karena kurangnya pemahaman mengenai urgensi suatu isu, melainkan sebagai bentuk pertahanan diri dalam menghadapi sistem yang menekan. Tenaga Ahli Riset IKJ, Abdul Manan, juga menilai swa sensor sebagai tanda menyempitnya ruang kebebasan redaksional, yang lebih berbahaya karena beroperasi melalui rasa takut yang tidak terlihat. Isu-isu tertentu mungkin tidak dilarang secara formal, namun secara praktik dihindari untuk meminimalisir risiko.
Tantangan di Lapangan
Tantangan yang dihadapi jurnalis di lapangan semakin berat. Jurnalis Tempo, Francisca Christy Rosana, mengungkapkan bahwa hambatan tidak hanya berasal dari sisi internal media, tetapi juga dari narasumber. Banyak pihak yang kini enggan berbicara terbuka terkait isu-isu sensitif seperti PSN karena merasa terancam secara struktural. Hal ini berpotensi mengurangi kualitas informasi yang diterima oleh masyarakat.




