Kenaikan Harga Nikel di Tengah Isu Pemangkasan Kuota
Sumber Foto: Media Nikel Indonesia
Indeks Isu

Kenaikan Harga Nikel di Tengah Isu Pemangkasan Kuota

JAKARTA – Isu mengenai pemangkasan kuota nikel terus menjadi perbincangan di kalangan publik dan anggota DPR RI, terutama seiring dengan pembahasan revisi Undang-Undang Minerba yang berlangsung di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta. Meskipun demikian, harga nikel di Indonesia menunjukkan tren yang positif.

Menurut Indeks Harga Nikel Indonesia (Indonesia Nickel Price Index /INPI) yang dirilis oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) pada 19 Januari 2025, harga nikel mengalami kenaikan yang mencerminkan optimisme pasar. Hal ini dipicu oleh stabilitas harga global serta meningkatnya permintaan dari sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik.

Berdasarkan indeks tersebut, harga bijih nikel dengan kadar 1,2% (CIF) berada di kisaran US$20,5 hingga US$23,8 per metrik ton, dengan rata-rata mencapai US$22,15/mt. Kenaikan ini menunjukkan peningkatan tipis sebesar US$0,15 dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, bijih nikel dengan kadar 1,6% (CIF) mencatatkan rata-rata harga US$44,1/mt, yang juga meningkat sedikit sebesar US$0,1.

Selain itu, produk olahan nikel seperti nickel pig iron (NPI) mengalami kenaikan dengan rata-rata harga mencapai US$111,2/mt, meningkat US$0,2. Lonjakan harga yang cukup signifikan tercatat pada high grade nickel matte (FOB) yang naik US$73 menjadi rata-rata US$12.871/mt, sedangkan mixed hydroxide precipitate (MHP) FOB juga meningkat US$43, mencapai US$12.075/mt.

Tren positif ini didukung oleh stabilitas harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang pada 20 Januari 2025 tercatat di angka US$15.860/ton. Di sisi lain, laporan dari Shanghai Metals Market (SMM) menunjukkan bahwa harga nikel sulfat kualitas baterai naik menjadi rata-rata 26.534 yuan/mt, disebabkan oleh ketatnya pasokan dari salt plants dan rendahnya inventaris produk jadi.

Walau produksi nikel sulfat berbasis matte berkualitas tinggi masih mengalami kerugian, situasi ketatnya pasokan memberikan peluang untuk kenaikan harga lebih lanjut. Selain itu, pasar stainless steel juga menunjukkan stabilitas menjelang libur Tahun Baru Imlek, meskipun aktivitas perdagangan mengalami perlambatan. Dukungan biaya yang kuat tetap menjadi faktor utama yang menjaga potensi pemulihan harga dalam waktu dekat.