Ketidakpastian Ekonomi dan Hukum Berpotensi Mengubah Dinamika Politik 2026
Sumber Foto: Rmol.id
Peta Isu

Ketidakpastian Ekonomi dan Hukum Berpotensi Mengubah Dinamika Politik 2026

Ketidakpastian dalam ranah ekonomi dan hukum dapat memengaruhi peta politik Indonesia menjelang pemilihan umum 2026. Analis komunikasi politik Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensat, menyatakan bahwa tanpa adanya perbaikan signifikan di kedua bidang tersebut, situasi politik di tanah air berpotensi semakin memburuk dan memanas.

Faktor Penentu Nasib Politik 2026

Hensat mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menentukan arah politik Indonesia pada 2026. Pertama, ketidakpastian politik yang terus mengemuka, termasuk wacana pemilihan kepala daerah yang tidak langsung oleh DPRD, gagasan koalisi permanen dari Partai Golkar, serta isu-isu terkait hubungan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, polemik mengenai ijazah yang belum terselesaikan juga menjadi perhatian.

Pentingnya Penegakan Hukum

Kedua, penegakan hukum menjadi sorotan utama, terutama menjelang pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru pada 2 Januari 2026. Masalah ini menimbulkan berbagai polemik, ditambah dengan persepsi adanya intervensi dari presiden terhadap putusan pengadilan dalam kasus-kasus besar, serta maraknya kebingungan publik terkait rehabilitasi atau amnesti.

Dampak Ekonomi yang Mengkhawatirkan

Hensat juga menyoroti kondisi ekonomi yang terancam, di mana efek ekonomi dari 1 persen orang terkaya tidak terasa oleh masyarakat luas. Uang yang seharusnya mengalir ke sektor riil justru lebih banyak mengalir ke instrumen investasi seperti saham dan emas. Hal ini diperburuk oleh rendahnya daya beli masyarakat, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), dan ketergantungan negara pada utang.

Kepemimpinan dan Komunikasi Publik

Kondisi ini menjadi semakin rumit dengan komunikasi pejabat yang dianggap kurang empati, dampak bencana alam di berbagai daerah, serta keraguan terhadap keberhasilan program prioritas pemerintah. Hensat menekankan pentingnya pejabat pemerintah untuk mengedepankan empati, ketulusan, dan dampak nyata dalam setiap komunikasi, termasuk di media sosial.

Menanti Reshuffle Kabinet

Prediksi pertumbuhan ekonomi yang mendekati nol persen pada kuartal ketiga 2026 dan kebutuhan akan reshuffle kabinet juga menjadi perhatian publik. Hensat menyatakan bahwa reshuffle ini dinantikan banyak masyarakat, dan diharapkan dapat memastikan meritokrasi dalam pencalonan menteri, serta berfungsi untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan penegakan hukum.

Harapan Terhadap Pemerintah

Di tengah tantangan tersebut, Hensat mengamati bahwa Prabowo Subianto perlahan mulai melakukan langkah-langkah perbaikan. Namun, ia mendesak pemerintah untuk segera menjawab kegelisahan rakyat dengan program-program nyata yang dapat dirasakan manfaatnya. "Saya percaya niat baik Pak Prabowo untuk memperbaiki Indonesia dan saya yakin bahwa beliau bisa. Pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat harus segera dijawab dengan program-program yang berdampak langsung," tutup Hensat.