Konflik Iran-Israel Berpotensi Dorong Lonjakan Harga Minyak Dunia
Sumber Foto: ANTARA News Bali
Internasional

Konflik Iran-Israel Berpotensi Dorong Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan konflik Amerika Serikar, Israel dan Iran yang memicu ledakan besar pada Sabtu (28/2) bisa memicu lonjakan harga minyak dunia.

Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, Faisal menjelaskan saat ini harga minyak berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika konflik berlanjut, harga bisa naik ke 80 dolar AS per barel.

Lebih jauh, apabila pasokan minyak di Selat Hormuz terganggu, ia mengatakan harga bisa menembus 100 dolar AS per barel.

Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi di kawasan ini berpotensi mendongkrak harga minyak mentah dunia.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” katanya.

Faisal menilai konflik bersenjata antara Iran dan Israel berpotensi meluas menjadi konflik regional dengan keterlibatan Amerika Serikat. Dukungan dari China dan negara-negara yang berada di belakang Iran juga bisa memperpanjang eskalasi.

“Ada kemungkinan perang ini berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan,” ujarnya.

Faisal menambahkan lonjakan harga minyak dunia ini akan berdampak langsung pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. BBM nonsubsidi dipastikan naik mengikuti harga pasar internasional.

Namun, menurutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi penyesuaian harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, yang digunakan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.