Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Gelar Seminar Nasional tentang Indonesia dan BRICS
Sumber Foto: Pontianak Post
Peta Isu

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura Gelar Seminar Nasional tentang Indonesia dan BRICS

PONTIANAK – Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura angkatan 2022 mengadakan seminar dengan tema “Indonesia dan BRICS: Menyusun Peta Jalan Menuju Era Baru Ekonomi Multipolar” pada Sabtu, 23 November 2023, di Gedung Konferensi Teater 3 Universitas Tanjungpura.

Acara ini merupakan bagian dari mata kuliah praktikum yang bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai isu-isu global terkini melalui diskusi dengan narasumber yang diundang dari berbagai universitas terkemuka.

Pembukaan Seminar

Ketua Panitia, Maria Angela Canthika Putri, menjelaskan bahwa tema seminar ini sangat relevan dengan dinamika global saat ini. "Kami berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan serta memperluas perspektif para mahasiswa dan peserta terhadap isu-isu penting terkait Indonesia dan BRICS," katanya.

Apresiasi dari Pihak Universitas

Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura, Ori Fahriansyah, memberikan apresiasi atas kerjasama antara mahasiswa dan dosen dalam menyelenggarakan seminar nasional tersebut. "Tema seminar ini menarik dan menunjukkan bahwa mahasiswa Hubungan Internasional selalu mengikuti perkembangan isu global," ungkapnya.

Pemaparan dari Narasumber

Dosen Hubungan Internasional Universitas Tanjungpura, Laras Putri Olifiani, menjadi narasumber pertama dengan paparan mengenai strategi dan tantangan gastrodiplomasi Indonesia dalam pasar BRICS. Dalam pemaparannya, Laras menekankan pentingnya diplomasi ekonomi melalui produk-produk unggulan Indonesia, seperti Indomie, yang telah dikenal di pasar global, termasuk di Afrika.

Laras juga membahas program Indonesia Spice Up The World, yang bertujuan untuk meningkatkan nilai ekspor rempah-rempah, memperbanyak restoran Indonesia di luar negeri, dan memperkenalkan kuliner Indonesia ke dunia. "BRICS memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing ekonomi, tetapi Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk memenuhi standar global, termasuk dalam aspek kesehatan dan keberlanjutan pangan," jelasnya.

Pemateri kedua, Frisca Alexandra dari Universitas Mulawarman, membahas kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, dengan fokus pada lima poin utama untuk meningkatkan peran aktif Indonesia di kancah internasional. Frisca menggarisbawahi bahwa diversifikasi aliansi melalui BRICS merupakan langkah strategis untuk menghadapi tantangan ketidakpastian ekonomi global.

Namun, Frisca juga menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam bergabung dengan BRICS, seperti dominasi negara besar seperti Rusia dan China, perbedaan kepentingan, serta risiko ekonomi dari dedolarisasi. "Meskipun ada tantangan, kerjasama dengan BRICS adalah langkah strategis dalam membangun tatanan global yang lebih adil dan inklusif. Indonesia dapat memainkan peran penting melalui diplomasi ekonomi, mempererat hubungan dengan negara besar, dan tetap memegang prinsip kebijakan luar negeri yang bebas aktif," paparnya.

Pemateri ketiga, Abdul Razaq Z dari Universitas Hasanuddin, memberikan pandangan mendalam mengenai multipolarisme ekonomi dalam konteks kebijakan luar negeri Indonesia. Ia menjelaskan bahwa keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS bukanlah hal baru, melainkan bagian dari upaya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional.