MSCI Bekukan Perubahan Indeks Indonesia Terkait Isu Transparansi Free Float
Sumber Foto: SWA.co.id
Indeks Isu

MSCI Bekukan Perubahan Indeks Indonesia Terkait Isu Transparansi Free Float

Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru-baru ini mengumumkan hasil penilaian terkait pengaturan saham mengambang (free float) untuk sekuritas di Indonesia. Meskipun terdapat dukungan dari investor global terhadap laporan komposisi pemegang saham yang disediakan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), MSCI mencatat adanya kekhawatiran mengenai ketidakjelasan struktur kepemilikan saham.

Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan bahwa masalah fundamental terkait kelayakan investasi masih ada, disebabkan oleh ketidakpastian dalam struktur kepemilikan yang berkelanjutan serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga yang tepat. "Investor menyoroti bahwa ketidakjelasan ini dapat mempengaruhi keputusan investasi," kata manajemen MSCI.

Sebagai respons terhadap masukan ini, MSCI mendorong KSEI dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menyediakan informasi yang lebih rinci dan andal mengenai struktur kepemilikan. Rekomendasi tersebut mencakup pemantauan terhadap konsentrasi kepemilikan yang tinggi, yang dianggap penting untuk mendukung penilaian yang lebih kuat terhadap free float dan kelayakan investasi sekuritas di Indonesia.

MSCI juga memutuskan untuk menahan sementara sejumlah perubahan indeks yang berkaitan dengan sekuritas Indonesia. Dalam kebijakan ini, MSCI membekukan seluruh peningkatan pada Faktor Inklusi Asing (Foreign Inclusion Factors/FIF) dan Jumlah Saham Beredar. Selain itu, tidak ada penambahan emiten-emiten Indonesia ke dalam Indeks MSCI Investable Market (MIM).

Dalam pernyataannya, MSCI menegaskan bahwa mereka tidak akan menerapkan mitigasi lanjutan di seluruh indeks yang berbasis ukuran emiten, dari small cap hingga standard. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi risiko pergantian indeks dan investasi, serta memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.

Seiring dengan pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam dan dibuka pada level 8.393,51. Menanggapi situasi ini, BEI menyatakan bahwa mereka masih melanjutkan diskusi dengan MSCI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan KSEI. "Kami telah melakukan peningkatan keterbukaan dengan mengumumkan data free float di website BEI. Namun, jika MSCI merasa ini belum cukup, kami akan terus berdiskusi untuk meningkatkan transparansi data," ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi.

Di sisi lain, Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset di PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa MSCI menargetkan perubahan metodologi free float untuk Indonesia akan mulai berlaku pada Index Review Mei 2026. Perubahan ini masih tergantung pada persetujuan setelah proses konsultasi publik yang akan ditutup pada 31 Desember 2025, dengan hasil yang dijadwalkan akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026.

"Pendekatan yang diusulkan MSCI lebih konservatif, dengan membandingkan data emiten dan data KSEI untuk mencerminkan saham yang benar-benar dapat diperdagangkan. Hal ini penting karena bobot MSCI berbasis pada market cap yang disesuaikan dengan free float. Saham dengan kepemilikan terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan bobot, sementara emiten dengan struktur kepemilikan yang lebih bersih dan likuid berpeluang lebih baik," tambah Liza.