Pasar Keuangan Indonesia Menguat, IHSG dan Rupiah Catat Kenaikan Pertama di 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan di Indonesia menunjukkan performa positif pada Rabu (14/1/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mengalami penguatan. Ini merupakan kali pertama di tahun ini keduanya berhasil berada dalam zona hijau secara bersamaan.
IHSG Mencetak Rekor Penutupan
IHSG berhasil menembus level resistance 9.000, ditutup pada posisi 9.032,58, meningkat 0,94% atau setara dengan 84,28 poin. Ini menjadi rekor penutupan tertinggi IHSG dan pertama kalinya indeks tersebut menutup perdagangan di atas level psikologis 9.000.
Dalam perdagangan kemarin, tercatat 440 saham mengalami kenaikan, 240 saham mengalami penurunan, dan 128 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 29,30 triliun dengan volume 64,37 miliar saham dalam 3,43 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar kini berada di level Rp 16.459 triliun, mendekati US$ 1 miliar.
Saham Populer dan Aktivitas Investor
Beberapa saham yang menjadi favorit investor adalah Bumi Resources (BUMI), Aneka Tambang (ANTM), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Merdeka Battery Materials (MBMA), Archi Indonesia (ARCI), dan Darma Henwa (DEWA). Transaksi saham-saham ini mencapai Rp 12 triliun, lebih dari dua pertiga dari total nilai perdagangan kemarin.
Berdasarkan data, BUMI, ANTM, dan GOTO menunjukkan penguatan signifikan pada sesi pertama perdagangan, masing-masing naik 2,96% ke level 418, 5,93% ke level 4.110, dan 5,97% ke Rp 71 per saham. Sektor infrastruktur dan konsumer non-primer mencatatkan apresiasi terbesar, sementara sektor properti dan finansial mengalami koreksi.
Aliran Dana Asing dan Net Buy Positif
Aliran dana asing kembali mengalir ke pasar modal Indonesia, dengan catatan pembelian mencapai Rp 4,9 triliun dan penjualan Rp 4,2 triliun. Ini menghasilkan net buy sebesar Rp 712,3 miliar. Saham-saham komoditas menjadi incaran, dengan Archi Indonesia (ARCI) mencatat net buy terbesar sebesar Rp 235,4 miliar, diikuti oleh ANTM dengan Rp 186,6 miliar.
Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS
Nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan, ditutup pada level Rp 16.855/US$, naik 0,03%. Penguatan ini menandai akhir dari tren pelemahan yang berlangsung selama delapan hari berturut-turut. Sebelumnya, rupiah bergerak dalam kisaran Rp 16.850 hingga Rp 16.872 per dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) mengalami pelemahan tipis sebesar 0,02%, berada di level 99,119, meskipun secara keseluruhan masih menunjukkan tren penguatan. Penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan global, mengindikasikan respons positif pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi yang diambil oleh Bank Indonesia.
Kebijakan Bank Indonesia dan Stabilitas Ekonomi
Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah terjaga berkat kebijakan stabilisasi yang konsisten, baik melalui intervensi pasar off-shore maupun domestik. Dalam situasi ketidakpastian kebijakan moneter global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, langkah ini diharapkan dapat menahan volatilitas rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Pergerakan Pasar Obligasi
Sementara itu, di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami kenaikan signifikan ke level 6,24%, meningkat dari 6,12% pada hari sebelumnya, menandakan penurunan harga SBN akibat aksi jual dari investor.




