Pasar Saham AS Menguat, S&P 500 dan Dow Jones Cetak Rekor Meski Isu The Fed Muncul
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa (13/1/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, meskipun terdapat isu penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell.
Indeks S&P 500 tercatat naik sebesar 0,16% dan ditutup pada level 6.977,27, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 86,13 poin atau 0,17% menjadi 49.590,20. Kedua indeks ini mencapai rekor intraday baru dan ditutup pada level tertinggi sepanjang sejarah. Selain itu, Nasdaq Composite juga mengalami kenaikan sebesar 0,26% dan berakhir di angka 23.733,90.
Indeks-indeks utama berhasil bangkit dari posisi terendahnya di sesi tersebut, didorong oleh kenaikan saham Walmart dan sejumlah saham teknologi. Pada awal sesi, Dow sempat mengalami penurunan hampir 500 poin, sedangkan S&P 500 melemah hingga 0,5% di titik terendahnya.
Tanggapan Terhadap Rencana Pembatasan Suku Bunga
Seruan dari mantan Presiden Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit di level 10% selama satu tahun turut memicu kegelisahan pasar di awal pekan. Para pengkritik mengkhawatirkan bahwa rencana tersebut berpotensi membatasi penyaluran kredit, yang dapat merugikan konsumen serta profitabilitas perbankan. Saham-saham bank pun menjadi yang paling tertekan, dengan Citigroup mengalami penurunan sekitar 3%. JPMorgan dan Bank of America juga melemah lebih dari 1%, sementara saham Capital One anjlok hingga 6%.
Rob Williams, kepala strategi investasi di Sage, menyatakan bahwa kondisi ini tidak akan terlalu berdampak signifikan. “Saya pikir ini hanya kebisingan, dan bahkan tidak terlalu menggerakkan suku bunga. Fokus pasar akan tertuju pada data,” ujarnya, merujuk pada rilis indeks harga konsumen (CPI) untuk bulan Desember yang dijadwalkan pada hari Selasa.
Penyelidikan Kriminal dan Dampaknya
S&P 500 berhasil kembali ke zona positif setelah memulai sesi di wilayah negatif. Saham-saham AS sempat tertekan setelah Jerome Powell mengonfirmasi adanya penyelidikan kriminal yang dilakukan oleh jaksa federal terkait kesaksiannya di Komite Perbankan Senat mengenai renovasi gedung kantor The Fed. Powell menegaskan bahwa penyelidikan tersebut merupakan upaya lain untuk memengaruhi kebijakan moneter dan ia tidak akan tunduk pada tekanan tersebut. Masa jabatannya sebagai ketua diperkirakan akan berakhir pada bulan Mei.
Sepanjang tahun 2025, pasar saham sebagian besar mengabaikan tekanan yang diberikan oleh Trump terhadap The Fed, sementara bank sentral tetap melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali seiring inflasi yang stabil. Namun, diperkirakan The Fed akan menahan diri dari pemangkasan suku bunga lebih lanjut pada pertemuan berikutnya akhir bulan ini, sambil menunggu perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi di tahun baru.
Proyeksi Jangka Pendek dan Panjang
Jim Lebenthal, kepala strategi pasar di Cerity Partners, mengungkapkan bahwa dampak dari Ketua Powell yang berada di bawah penyelidikan kemungkinan bersifat jangka panjang. “Ini tidak akan mengubah suku bunga atau inflasi dalam waktu dekat,” ujarnya. Dengan ekspektasi laporan kinerja perusahaan yang diprediksi akan baik, CPI yang mungkin berada di bawah 3%, serta ekonomi yang tumbuh pesat, Lebenthal menilai sentimen positif dalam jangka pendek dapat menopang pasar meskipun penyelidikan tersebut dapat membawa dampak negatif dalam jangka panjang.
“Siapa pun yang berada di Komite Pasar Terbuka Federal memahami bahwa jika mereka tidak melakukan apa yang diinginkan presiden—jika mereka tidak menurunkan suku bunga—mereka bisa saja diberhentikan atau menjadi sasaran penyelidikan,” tambahnya. Hal ini dapat mendorong kebijakan yang lebih longgar, yang berpotensi memicu inflasi dan menaikkan suku bunga jangka panjang, meskipun dampaknya mungkin tidak akan terasa hingga akhir tahun.
Kenaikan Harga Emas dan Saham
Di sisi lain, kontrak berjangka emas, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap melemahnya independensi The Fed, melonjak 2,5% dan mencetak rekor penutupan di US$4.614,7. Kekhawatiran akan bank sentral yang dipolitisasi berpotensi menghambat upaya untuk menekan inflasi.
Saham Walmart mengalami kenaikan sebesar 3% menjelang masuknya perusahaan tersebut ke dalam indeks Nasdaq-100, yang dilacak oleh ETF Invesco QQQ Trust. Kenaikan ini juga memicu penguatan sektor konsumen, didorong oleh rencana Trump untuk menurunkan suku bunga kartu kredit serta pergerakan harga minyak menjelang pemilu paruh waktu AS tahun ini. Saham Palantir juga naik 1% setelah mendapatkan peningkatan rekomendasi dari Citi, yang memimpin penguatan beberapa saham teknologi lainnya, termasuk AMD dan Oracle.




