Pasar Saham Tertekan Isu Resesi, Reksadana Tertinggi Tetap Berhasil Raih Cuan
Pasar saham Indonesia, yang diwakili oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), mengalami volatilitas yang signifikan pada pekan lalu. Fluktuasi ini dipicu oleh ketidakpastian kondisi makroekonomi global, yang membuat banyak investor memilih untuk tidak menahan saham dalam jangka waktu yang lama.
Sentimen negatif di pasar keuangan domestik dipengaruhi oleh ancaman resesi global yang semakin nyata. Perekonomian dunia saat ini tengah mengalami gejolak akibat berbagai isu geopolitik, dengan inflasi tinggi menjadi salah satu faktor utama. Banyak aset berisiko mengalami penurunan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Data terbaru menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) di Amerika Serikat pada Juni melonjak sebesar 9,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), yang jauh melebihi ekspektasi pasar sebesar 8,8 persen. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang tercatat di 8,6 persen, menjadikannya sebagai rekor inflasi tertinggi dalam 41 tahun terakhir. Inflasi inti, yang tidak termasuk barang-barang dengan harga yang fluktuatif seperti makanan dan energi, juga menunjukkan kenaikan, mencapai 5,9 persen, melampaui estimasi sebelumnya di angka 5,7 persen.
Rilis data inflasi ini diperkirakan akan mendorong Federal Reserve (bank sentral AS) untuk menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 75 basis poin (bp) pada pertemuan mendatang. Pada bulan sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 bp, yang merupakan kenaikan terbesar sejak 1994, sehingga berada di kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen.
Sementara itu, di dalam negeri, Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dalam sektor ekspor dan impor. Neraca perdagangan Indonesia untuk semester pertama 2022 mencapai surplus sebesar US$24,89 miliar, didorong oleh lonjakan harga komoditas internasional, termasuk batu bara, bauksit, nikel, tembaga, dan minyak kelapa sawit. Surplus ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama pada kuartal kedua 2022.
Meski demikian, pasar reksadana juga terpengaruh oleh kondisi ini. Berdasarkan data dari Bareksa, indeks reksadana saham mengalami penurunan sebesar 0,8 persen, diikuti oleh indeks reksadana campuran dengan penurunan 0,56 persen. Indeks reksadana pendapatan tetap juga mengalami koreksi sebesar 0,25 persen. Satu-satunya indeks yang berhasil mencatatkan kenaikan adalah indeks reksadana pasar uang, yang naik tipis sebesar 0,04 persen.
Namun, di tengah tantangan tersebut, sepuluh produk reksadana dengan imbal hasil tertinggi pada pekan lalu masih didominasi oleh reksadana yang bersifat berisiko tinggi. Tujuh di antaranya merupakan reksadana saham, sementara tiga lainnya adalah reksadana campuran. Reksadana sendiri merupakan sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang kemudian diinvestasikan oleh manajer investasi dalam berbagai instrumen keuangan, seperti saham, obligasi, atau deposito.




