Pelemahan IHSG Tidak Mengganggu Kepercayaan Investor Ritel, Kata BEI
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah pengumuman dari MSCI tidak menjadi masalah bagi investor ritel. Pada Rabu, 28 Januari 2026, IHSG ditutup dengan penurunan sebesar 7,35% menjadi 8.320,556. Penurunan ini menyebabkan penghentian perdagangan sementara atau trading halt setelah IHSG mengalami penurunan hingga 8% pasca pengumuman MSCI.
MSCI memutuskan untuk menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia, yang mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari Small Cap ke Standard. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko turnover indeks dan meningkatkan transparansi di pasar.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) BEI, Irvan Susandy, menyampaikan bahwa meskipun terjadi pelemahan IHSG, investor ritel domestik masih dinilai cukup kuat dalam menopang margin perdagangan. Ia menjelaskan bahwa sejumlah saham mengalami penurunan lebih dari 7%, bahkan ada yang mencapai 10% hingga 15%, yang dapat memicu aksi jual.
Sementara itu, aksi jual atau net sell oleh investor asing tercatat mencapai Rp 3 triliun selama sesi pertama perdagangan. Meskipun demikian, nilai tersebut merupakan bagian kecil dari total transaksi yang mencapai Rp 30 triliun, menunjukkan masih adanya minat dari investor asing untuk masuk ke pasar saham Indonesia.
Iman Rachman, Direktur Utama BEI, menambahkan bahwa rata-rata transaksi bursa biasanya mencapai Rp 31 triliun tanpa adanya pengumuman dari MSCI. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik masih terjaga meskipun menghadapi tantangan.




