Pemetaan Aksi Protes di Abad 21: Dinamika dan Isu-isu Global
Sumber Foto: Berdikari Online
Peta Isu

Pemetaan Aksi Protes di Abad 21: Dinamika dan Isu-isu Global

Abad 21 telah ditandai sebagai era protes di berbagai belahan dunia. Sejak awal, berbagai aksi protes besar telah mengguncang banyak negara, termasuk revolusi EDSA kedua di Filipina pada 2001, revolusi bunga di Georgia pada 2003, dan revolusi Tulip di Kirgiztan pada 2005. Aksi-aksi ini berhasil menggulingkan rezim yang berkuasa di masing-masing negara.

Memasuki dekade kedua, fenomena protes semakin meluas dengan munculnya Arab Spring dan gerakan occupy Wall Street. Protes mahasiswa juga terjadi di berbagai negara seperti Chile, Perancis, Kanada, dan Inggris. Selain itu, gerakan indignados di Spanyol (2011-2015), gerakan Black Lives Matter (2013-2020), serta ledakan protes sosial di Chile yang dikenal sebagai Estallido Social (2019-2022) mencerminkan semangat ketidakpuasan yang meluas. Di bidang hak perempuan, gerakan MeToo (2017) dan Ni Una Menos di Amerika Latin (2015-2016) juga menjadi sorotan.

Empat peneliti, yaitu Isabel Ortiz, Sara Burke, Mohamed Berrada, dan Hernïn Saenz Cortïs, melakukan penelitian mendalam mengenai aksi protes antara 2006 hingga 2020 dan mengumpulkan data dari 2809 aksi protes berskala besar di 101 negara. Hasil penelitian tersebut diterbitkan dalam buku berjudul World Protests: A Study of Key Protest Issues in the 21st Century.

Mengapa Protes Muncul?

Menurut penelitian tersebut, sejak tahun 2016 terjadi eskalasi protes di berbagai belahan dunia. Krisis keuangan global yang terjadi pada 2007-2008 menjadi salah satu faktor pemicu, terutama melalui gerakan anti-penghematan di Eropa. Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dan stagnasi demokrasi juga berkontribusi pada meningkatnya gejolak sosial dan politik. Isu-isu demokrasi dan korupsi menjadi pemicu utama, sementara kebijakan neoliberalisme yang berlangsung selama beberapa dekade dianggap telah menggerus kesejahteraan masyarakat dan memperlebar kesenjangan ekonomi.

Wilayah dengan Aksi Protes Terbanyak

Pemetaan geografis menunjukkan Eropa dan Asia Tengah sebagai wilayah paling bergolak dengan 806 aksi protes besar antara 2006 dan 2020. Setelahnya, Amerika Latin dan Karibia mencatatkan 427 aksi protes, diikuti oleh Asia Timur dan Pasifik (378), Afrika Sub-Sahara (369), Amerika Utara (281), Timur Tengah dan Afrika Utara (208), serta Asia Selatan (101).

Dari segi status ekonomi, aksi protes paling banyak terjadi di negara berpendapatan menengah dengan 1327 aksi, diikuti oleh negara berpendapatan tinggi (1122 aksi) dan negara berpendapatan rendah (121 aksi).

Aksi Protes Terbesar

Dalam penelitian tersebut, aksi protes terbesar tercatat di India pada tahun 2020, di mana sebuah pemogokan umum yang melibatkan hampir semua serikat buruh dan petani mengumpulkan 250 juta orang. Protes ini ditujukan untuk menentang liberalisasi ketenagakerjaan dan pertanian. Protes terbesar kedua juga terjadi di India pada tahun 2013 dengan melibatkan 100 juta orang yang memprotes kenaikan harga dan privatisasi.

Gerakan Black Lives Matter di Amerika Serikat (2013-2020) melibatkan 82 juta orang, sementara protes menentang Presiden Jair Bolsonaro di Brasil melibatkan 45 juta orang. Aksi protes untuk menggulingkan Presiden Husni Mubarak di Mesir hanya melibatkan 14 juta orang, sementara Estallido Social di Chile melibatkan 1 juta orang. Di Indonesia, aksi pemogokan buruh pada tahun 2012 juga mencatatkan partisipasi 2 juta orang.

Metode Protes yang Digunakan

Metode protes yang paling umum digunakan dalam aksi-aksi ini adalah berbaris atau berdemonstrasi di jalan (61,3 persen), rapat umum atau mimbar bebas (59 persen), serta pembangkangan sipil dan aksi langsung (25,7 persen). Metode lain yang digunakan termasuk blokade (21,6 persen), aksi pendudukan (20,8 persen), pernyataan formal (20,4 persen), dan penggunaan kekerasan (15 persen).

Sasaran dan Capaian Protes

Sebagian besar aksi protes (80 persen) menuntut tanggung jawab pemerintah atas masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain itu, 30,5 persen dari aksi tersebut menggugat sistem ekonomi dan politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42 persen aksi protes mencapai hasil, dengan 61 persen dari protes di Asia Selatan yang berhasil. Isu representasi dan sistem politik menjadi yang paling banyak menampilkan hasil, termasuk pengesahan konstitusi baru dan perubahan undang-undang di beberapa negara.